Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Dua Puluh


__ADS_3

Dila berdiri mematung, dia tak mudah percaya begitu saja dengan ucapan lelaki asing di depannya.


Lelaki asing itu berbalik, dia menekan layar ponselnya. Lalu memberikan ponsel itu pada Dila.


Dila menerima ponsel dari lelaki itu, tampak foto profil Zian dalam panggilan ponsel itu.


"Halo, Sayang."


Terdengar suara Zian. Seketika Dila bernapas lega.


"Ini beneran kamu?" tanya Dila.


"Iya, kamu ikuti aja anak buahku, kamu aman bersamanya."


"Ada apa, Zi?" 


"Situasi sedang tak aman, lebih baik kamu disana dulu."


"Aku takut, Zi." 


Zian diam. Dia bisa merasakan ketakutan Dila.


"Tunggu sebentar, aku akan kesana setelah masalah ini selesai."


Dila menurut, ia memasuki apartemen yang diberikan Zian padanya. Berjuta tanya ingin ia tanyakan pada Zian, namun Dila sadar, apapun yang sedang Zian lakukan adalah demi kebaikannya.


******


Ratna menunggu Tyo di samping gerbong kereta. Berkali-kali ia melihat jam dinding yang terpajang.


"Bagaimana, Nduk?" tanya ibunya Ratna.


"Sebentar, kita tunggu mas Tyo dulu ya, Bu."


Ratna berkali-kali melihat ke arah pintu. Namun sosok Tyo belum juga datang.


"Kereta hampir berangkat, Nduk. Bagaimana?" tanya ibu Ratna.


Ratna bingung. Ia menghela napas panjang.


"Maaf, apakah anda Ratna?" Seorang lelaki berpawakan tinggi menghampiri Ratna.


"Iya, maaf anda siapa?"


Lelaki berjaket kulit warna coklat tua itu meraih koper Ratna.


"Saya Hendra, suruhan pak Tyo."  


"Mas Tyo?"


"Ayo segera pergi, kereta hampir berangkat."


Hendra menarik koper dan membawa tas Ratna. Ratna bersama ibunya  mengikuti lelaki bernama Hendra masuk ke dalam kereta.


"Mas Tyo dimana?" tanya Ratna saat sudah duduk di dalam kereta.


"Pak Tyo tidak bisa ikut, beliau sedang ada keperluan mendesak."


Ratna tak lagi bertanya, ia paham jika Tyo tak bisa mengutamakan dirinya, dirinya bukanlah siapa-siapa Tyo. Tyo sudah memiliki istri.


********


Dila termenung di dalam kamarnya. Apartemen mewah yang ia tempati tak sanggup membuatnya bahagia, ia ingin keluar dan beraktifitas seperti biasa.

__ADS_1


Ia rindu Zian.


Ia rindu ibunya.


Ia rindu beraktifitas seperti biasa.


"Zi, bagaimana? Apa masih lama?" Dila bertanya pada dirinya sendiri.


"Aku rindu kamu, Zi."


Ponsel Dila juga di sita oleh anak buah Zian. Zian beralasan agar Dila tak mudah di lacak. Dila tak dapat menolak.


Tok tok tok.


Pintu kamar Dila diketuk, Dila terperanjat. Segera ia berlari membukakan pintu, berharap Zian menemuinya.


Wajah Dila tersenyum saat menyadari seseorang di depan pintu ketika pintunya terbuka.


"Zian." Dila menghambur ke pelukan Zian. 


"Aku rindu." Dila tenggelam dalam pelukan Zian. Zian membalas dekapan Dila. Menikmati kebersamaan yang beberapa hari hilang.


Kebersamaan tercurahkan hingga dini hari. Dila tak mau sekejap pun berpisah dari Zian. Ia menghabiskan waktu bersama. Memasak bersama, menonton film, membaca buku dan banyak hal untuk mengobati kerinduannya.


"Aku harus pergi," ucap Zian saat keduanya menonton film di kamar. "Masalah belum selesai, aku hanya mencuri waktu sejenak karena tak sanggup terlalu lama tak melihatmu."


"Apa aku masih harus bersembunyi?" tanya Dila sambil menatap wajah Zian yang berada di sampingnya.


"Aku nggak mau kamu celaka, lebih baik kamu disini dulu."


Dila menarik napas dalam. Tampak frustasi.


"Apakah mungkin kak Tyo mencelakai aku?"


"Bahkan Satya hingga hari ini tak ada kabar, aku sedikit khawatir dengannya," lanjut Zian.


"Apa?"


"Satya banyak bertanya soal Hendra pada papanya, dan sejak itu tak ada kabar lagi tentang Satya."


"Astaga, sebesar apa rahasia kak Tyo hingga membuatnya bertindak seperti ini." Dila menggigit bibirnya sendiri. Kebiasaan jika ia sedang kesal.


"Satya pasti bisa menjaga dirinya sendiri jangan dipikirkan."


"Aku tak memikirkan apalagi mengkhawatirkan Satya, aku nggak peduli." Dila menatap kembali ke arah layar televisi.


"Dia nggak seburuk yang kamu pikir, Sayang." Zian memeluk Dila.


"Terserah," Dila melepaskan pelukan Zian.


"Tolong lihat keadaan ibuku, ya! Aku merindukannya." Kesedihan tampak di wajah Dila.


"Pasti, ibumu adalah ibuku juga." Zian kembali merengkuh tubuh Dila.


"Terima kasih."


"Terima kasih sudah menjadi pelindungku, terima kasih sudah menyayangi aku, semoga kita bisa menua bersama." Suara Dila terdengar parau dalam pelukan Zian.


***


Berhari-hari Dila terkurung dalam apartemen mewah. Zian tak setiap hari mengunjunginya. Menelpon pun hanya sehari sekali, itupun lewat orang suruhan Zian.


Bosan.

__ADS_1


Tapi Dila bisa apa?


Dia hanya bisa mematuhi perintah Zian. Toh, demi kebaikannya juga.


Dila membuat salad di dapur, selama dalam persembunyiannya, ia menghabiskan waktunya di dapur.


Terdengar suara berisik dari luar. Dila penasaran ia mencoba melihat. Namun pintu terkunci.


"Ada apa, ya? Kok berisik." Dila mencoba menguping namun tak mendengar apapun.


Tiba-tiba pintu terbuka. Dila yang masih menempelkan telinganya di pintu terhuyung dan hampir jatuh. Namun tepat saat Dila hampir jatuh, ada seseorang yang menahan tubuh Dila.


"Satya?" Dila terkejut karena Satya memeluknya.


Segera Dila melepaskan diri dari pelukan Satya. Dila bingung, untuk apa Satya mendatanginya, bukankah dia tengah menghilang seperti kata Zian tempo hari? Dan bukankah, tempat persembunyian Dila juga dirahasiakan Zian. Namun Satya bisa dengan mudah menemukannya.


"Nggak nyangka, berat juga tubuhmu," ejek Satya sambil tersenyum menggoda Dila.


Belum hilang keterkejutan Dila karena kedatangan Satya, kini Dila kembali terkejut karena melihat penjaganya pingsan di depan pintu.


"Satya, apa yang kamu lakukan pada mereka?" tanya Dila dengan mata membulat.


Satya tersenyum sambil menutup pintu. "Jangan berisik, buatkan tamumu ini minum atau apa gitu, jangan pelit-pelit." Satya dengan santai berjalan memasuki apartemen Dila.


Dila mengikuti langkah Satya. Banyak pertanyaan di benak Dila.


"Apa maumu?" tanya Dila sinis.


Satya merebahkan tubuhnya diatas sofa. "Diluar mendung, buatkan aku kopi ya!" Satya tampak santai, ia tak memperdulikan wajah sinis Dila.


"Aku akan hubungi polisi." Dila memasang wajah galak.


"Udahlah, kamu mau nggak usah buang-buang tenaga, buatkan aku minum!" Satya menekan remote televisi di ruang tengah Dila.


Satya benar-benar mengacuhkan Dila. Ia menikmati tayangan televisi di depannya.


"Toh, kamu nggak ada ponsel kan?" Satya berkata tanpa menoleh kearah Dila.


"Ish," gerutu Dila lalu ia beranjak ke dapur membuatkan Satya minum. Dia tak ingin berdebat dengan Satya. Lagipula memang benar jika dia tak bisa menghubungi siapapun saat ini.


"Gitu dong kalo ada tamu, masa kamu pelit ke ponakan kamu sih?" goda Satya saat Dila membawakan secangkir kopi untuknya.


"Eh, kok ponakan, sih? Anggap aja aku teman, teman spesialmu." Satya tersenyum menatap wajah Dila yang sedang kesal. "Kali aja ntar bisa jadi kekasihku." 


Satya bertingkah kekanakan.


"Kamu sedang dalam masalah Satya, jangan main-main," ucap Dila serius namun hanya ditanggapi kerlingan nakal dari Satya.


Satya menyesap perlahan kopi buatan Dila.


"Ini nggak kamu racuni, kan?" tanya Satya.


"Lagian udah kamu minum juga, ngapain tanya." Dila tetap menampakan wajah kesalnya. Ia masih berdiri di depan Satya.


Satya tersenyum mendengar ucapan Dila. Namun sedetik kemudian, wajah Satya tiba-tiba berubah menjadi serius.


"Duduklah! Ada yang akan aku bicarakan." 


Dila tak menanggapi ucapan Satya, membuat Satya berdiri dan menarik lengan Dila sehingga  Dila terduduk di sofa.


"Sekali-kali nurut kenapa, sih?" gerutu Satya.


"Aku mau ngomong serius." Satya menatap wajah Dila.

__ADS_1


 Dila menurut. Bagaimanapun, wajah Satya saat ini tampak berbeda dari biasa. Dia tampak sangat serius. Dila ingin tahu, apa yang hendak Satya katakan. Besar harapan Dila agar Satya tak membawa omong kosong


__ADS_2