
Beberapa hari ini Zian tak pulang, setelah rapat dengan kepala cabang restonya, dia harus terbang ke Jakarta dan Bandung untuk menghadiri peresmian cabang baru.
Sore ini Dila sepulang kerja tak berniat masak apapun, dia berencana akan menelpon makanan online. Sudah tiga hari dia tak bertemu Zian, namun mereka tetap saling menelpon meski hanya sekedar menanyakan apakah sudah makan. Klise.
Dila mengingat kejadian beberapa hari lalu, saat itu Zian tampak rapi menjemput Dila sepulang kerja. Tentu saja bukan di kantor Dila, namun masih di dekat kantor Dila. Zian memberikan kejutan manis. Ternyata hubungan mereka berada di ulang tahun kedua. Dila saja bahkan lupa, namun Zian mengingat dan memberikan kejutan manis untuk Dila.
Hubungan dengan kepalsuan itu memang seakan-akan indah, Zian begitu manis dan romantis memperlakukan Dila. Perayaan anniversary seakan menjadi hal yang penting untuk Zian.
Dila tak terkejut, Zian pasti akan meminta ganti dengan tubuh Dila, bukankah memang ini tujuan sebenarnya Zian? Ingin memiliki hak atas tubuh dan status Dila. Dan ternyata benar, sepulang dari makan malam romantis, Zian dan Dila menyatukan raganya diatas ranjang kamar mereka.
Dan paginya, Zian berpamitan keluar kota hingga hari ini belum pulang. Apakah Dila kesal akan sikap Zian? Tentu saja tidak, Dila malah bisa menjalani kehidupan dengan santai tanpa Zian.
Dua tahun bersama belum mampu menumbuhkan benih cinta di hati Dila, dia hanya akan bersikap seakan menjadi budak cinta Zian jika di depan Zian. Dia bersikap ****** dan seakan matre.
Hal ini tentu karena ibu Dila masih koma di rumah sakit, berbagai upaya yang dilakukan Dila belum tampak berhasil. Dokter saja sudah menyarankan agar Dila menghentikan pengobatan, karena dokter merasa akan sulit untuk sembuh. Namun Dila bersikeras untuk tetap melanjutkan pengobatan ibunya, meski hingga lebih dari dua tahun belum juga membuahkan hasil.
Dan selama itu pula, tanpa memberi tahu Zian, uang yang diberikan Zian untuk kebutuhan sehari-hari Dila, digunakan Dila untuk tambahan biaya pengobatan ibunya.
***
Sepulang kerja sore itu, Dila menuju salah satu mall dengan Risa dan Giska, rencananya mereka akan makan bersama sambil mencarikan kado pernikahan untuk Salma teman sekantornya.
Dengan santainya Dila makan bersama dua teman kantornya setelah mendapatkan kado untuk Salma. Sesekali bercanda sambil menikmati makanan pesanan mereka.
"Eh, eh. lihat cowok yang baru tiba itu, ya ampun, keren banget," ucap Giska sambil melihat pintu masuk.
Dila dan Risa kompak melihat apa yang dimaksud Giska.
Deg
Seorang lelaki tampan tengah berjalan dengan seorang gadis cantik. Dan lelaki itu tak lain adalah Zian. Dia bersama seorang gadis cantik dan seksi, tampak gadis itu menggandeng tangan Zian dengan mesra.
Seketika Dila kembali melihat makanan di depannya. Dia enggan melihat apa yang dimaksud Giska. Matanya tiba-tiba memanas. Entah kenapa matanya menjadi panas seakan sedang mengiris bawang.
Zian dan gadis itu duduk tepat di samping meja Dila dan teman-temannya. Dila bisa mencium parfum yang dipakai Zian, parfum pilihannya. Dila berpura-pura tak melihat Zian. Ia tampak sibuk dengan makanan di depannya.
Zian juga tampaknya mengetahui keberadaan Dila, ia juga tampak tak mengenal Dila. Ia asik menikmati kebersamaan dengan gadis cantik di depannya.
"Dila, ayo sekalian kita nonton yuk, kamu ada acara kah setelah ini?" tanya Risa.
"Nggak deh, Ris, aku lelah," ucap Dila.
"Oh, gitu ya, ya sudahlah, lain kali," ucap Risa kecewa.
Dila melirik kearah Zian sekilas, dan tak sengaja, pandangan mata mereka beradu, Dila buru-buru melihat kearah lain, ia tak ingin Zian merasa canggung.
"Beneran nih kamu nggak bisa? Emangnya kamu buru-buru pulang untuk siapa sih? Pacar nggak punya, apalagi suami, nggak ada yang menantimu, kan?" ucap Giska membuat Dila terdiam sesaat.
"Iya juga Dil, kenapa kamu harus buru-buru pulang, toh nggak ada yang menginginkan kamu untuk segera pulang kan?" sahut Risa.
"Iya juga, sih, siapa juga yang menginginkan aku segera pulang, okelah, ayo kita nonton!" ucap Dila membuat dua temannya bersorak.
Dila dan kedua temannya meninggalkan resto itu, mereka segera menuju gedung bioskop di mall itu. Tampak Zian melihat kepergian Dila dengan wajah tanpa ekspresi.
***
Setelah menonton dengan dua temannya, Dila segera pulang,jam di tangan Dila sudah menunjukan pukul sembilan malam.
Ketika Dila hendak membuka pintu, ia terkejut karena pintu sudah terbuka sendiri.
"Tampaknya dia sudah disini," gumam Dila pelan sambil tersenyum sinis. Ia berjalan memasuki rumah mewah yang ia tempati selama dua tahun terakhir dengan Zian.
"Pulang juga akhirnya, kupikir kamu nggak akan pulang malam ini," ucap Zian sinis.
Dila menoleh kearah suara, tampak Zian sedang mengenakan kaos pendek duduk santai di kursi ruang tamu.
Seketika Dila memasang senyum di wajahmu, " oh, kamu sudah pulang, Sayang?" Buru-buru Dila menghampiri Zian.
__ADS_1
Zian tak menjawab, Dila memeluk tubuh Zian, Zian diam tanpa membalas pelukan Dila. "Kupikir kamu bermalam dengan gadis itu," ucap Dila pelan.
Zian melepaskan pelukan Dila, ia menatap wajah Dila, "jadi kamu ingin aku seperti itu?" tanya Zian.
Dila mengernyitkan dahinya, mencoba memahami maksud Zian, "tentu saja tidak, tapi apa dayaku ini?" ucap Dila memelas. "Aku tak memiliki hak melarangmu dengan gadis lain, tapi aku juga tak ingin kamu dengan gadis lain," ucap Dila.
"Karena apa?" tanya Zian.
"Ehm.. Karena.. Karena aku nggak mau kamu tinggalin aku, mau makan apa aku kalau kamu ninggalin aku?" ucap Dila menggoda.
Zian sejenak diam, lalu ia bersandar di kursi dan membuang pandangannya keatap. "Oh, karena itu," gumam Zian.
"Kamu kapan pulang? Kenapa nggak ngabarin aku dulu? Eh, tiba-tiba bertemu di mall tadi," ucap Dila sambil menyandarkan kepalanya di dada Zian.
"Baru aja, dari bandara aku langsung makan," ucap Zian.
"Seharusnya kamu tadi bilang, kan bisa aku jemput," ucap Dila dengan nada menggoda.
Selalu saja begitu. Dila bersikap seolah perhatian pada Zian, dan Zian juga tak pernah protes, meski ia tahu jika Dila hanya berpura-pura.
***
Pagi ini Dila bangun pagi seperti biasa meski semalam ia memberikan 'pelayanan' pada Zian. Dila bersiap menyiapkan sarapan untuk Zian. Bagi Dila, tak ada waktu untuk bermalas-malasan jika ada Zian. Padahal, Zian tak pernah menuntut Dila.
"Sayang, nanti malam aku ke resepsi Salma, kamu nggak usah nungguin aku pulang, kamu tidur duluan aja," ucap Dila sambil menyiapkan sarapan Zian.
"Perlu aku jemput?" tanya Zian.
"Nggak usah, nanti biar aku naik taksi," jawab Dila.
"Oke, terserah." Zian mulai makan, dia tak ingin berdebat dengan Dila.
"Jangan marah!" Dila mengecup pipi Zian.
"Nggak, aku heran aja sama kamu, mobil ada, aku juga ada untuk mengantarmu, tapi kamu nggak pernah mau memakainya?"
"Sudahlah, aku mau berangkat." Zian bergegas pergi. Percuma jika berdebat dengan Dila soal mobil.
Dila tak menahannya, ia tau jika Zian sedang sulit untuk digoda.
****
Malam ini Dila mengenakan sebuah dress berwarna pink salem, dia tampak anggun dengan gaya rambut yang di blow. Dila menikmati kebersamaannya dengan rekan sekantornya.
Hingga beberapa saat, mata Dila menemukan sosok Zian di tengah pesta, dia melihat Zian menggunakan setelan tuxedo hitam. Dila mengamati Zian dari jauh, terlihat Zian sedang bercengkrama dengan Ayah Salma.
Kening Dila berkernyit, ia tak tahu jika Zian mengenal keluarga Salma, ia juga tak tahu jika Zian diundang.
Kenapa tadi tak bilang apapun? Batin Dila.
Perlahan Dila berjalan mendekati posisi Zian berada. Dia ingin bertanya pada Zian.
"Kapan Pak Zian akan membawa gadis di resepsi seperti ini? Sudah waktunya lho, Pak," ucap Ayah Salma pada Zian.
Dila sudah berada di dekat Zian, ia bisa mendengar perbincangan mereka. Tampak Zian melirik kearah Dila sesaat sebelum menjawab.
"Nanti, Pak, dia masih malu-malu," ucap Zian.
Dila merasa sedih mendengar ucapan Zian, namun ia kembali mengingat, jika ia bukanlah wanita yang dicintai Zian, Zian hanya menginginkan raga dan warisan serta aset keluarganya.
"Jadi sudah punya pasangan? Wah, ini seharusnya diliput media, seorang pengusaha muda mendapatkan cintanya," ucap Ayah Salma dengan bangga.
"Saya dengar, putri dari Pak Amran sedang dekat dengan anda, dia adalah gadis masa kini dan cantik, cocok dengan anda, apakah dia yang anda maksud?" Kali ini Ibu Salma ikut bertanya.
"Oh, Felisia ya? Kami lumayan dekat saat ini, dia memang gadis yang cerdas dan cantik." Zian mengucapkan seolah dia sangat bangga pada gadis bernama Felisia itu.
"Wah, saya rasa memang gadis beruntung yang dekat dengan anda saat ini adalah Felisia," ucap Ibu Salma dan hanya dijawab dengan senyuman Zian.
__ADS_1
"Bukankah Felisia dan Papanya kamu undang?" tanya Ayah Salma.
"Iya, entahlah kenapa mereka belum tiba," ucap Ibu Salma sambil melihat kearah pintu kedatangan.
Dan ternyata tak lama tampak Felisia menggandeng lengan papanya sedang berjalan diantara banyaknya para tamu. Dia menjadi pusat perhatian karena dia adalah gadis yang terkenal, dia juga malam ini tampil menawan.
"Selamat malam, Tuan Amran," sapa Ayah Salma.
Terlihat orang tua Salma menyalami Felisia dan Papanya.
"Kamu disini, Zi?" tanya Felisia pada Zian. Zian hanya menjawab dengan anggukan.
"Wah, suatu kehormatan bertemu pengusaha muda Tuan Zian," ucap Papa Felisia pada Zian.
"Senang bertemu dengan anda."Zian menjabat tangan Papa Felisia.
"Anak muda berbakat dan tampan, pantas saja putriku sangat mengagumi anda," ucap Papa Felisia penuh bangga.
"Papa, jangan buat aku malu," ucap Felisia malu-malu.
"Tuan Zian, jika ada waktu senggang, saya berharap bisa berbicara bisnis dengan anda, saya sangat tertarik dengan usaha yang anda tekuni, sekalian bisa ajari putri saya berbisnis," ucap Papa Felisia.
"Dengan senang hati, Pak," ucap Zian.
"Wah, mereka berdua tampak serasi lho Pak Amran, Tuan Zian tampan dan nona Felisia cantik," ucap Ibu Salma.
Dila mendengar percakapan mereka dengan jelas, tangannya yang sedang memegang gelas tampak bergetar. Dila segera berpindah tempat, dia sudah merasa tak nyaman.
Dila berjalan cepat menuju tempat yang sepi, entah kenapa ucapan Ibu Salma mengusik hatinya, apalagi melihat sikap Zian yang begitu santai tanpa perlawanan membuat Dila kesal.
Dila bersandar di balkon gedung, dia berada di lantai lima, dia bisa melihat pemandangan kota di malam hari dengan bebas.
"Ada apa ini? Kenapa aku merasa tak nyaman begini?" gumam Dila.
Dila membiarkan angin malam itu menerpa tubuhnya, rambutnya terlihat terkena angin,
"Pesta belum usai, kenapa kamu sendiri disini?" tanya sebuah suara tiba-tiba, Dila mengenal pemilik suara itu.
"Aku ingin sendiri, kembalilah kedalam," ucap Dila tanpa menoleh. Ia tahu jika itu Zian.
"Kenapa? Kenapa kamu tampak kesal, Sayang?" tanya Zian sambil memeluk Dila dari belakang.
Seketika Dila menepis tangan kekar Zian, "ada banyak orang, lepaskan!" ucap Dila.
"Biarkan sebentar," ucap Zian makin mengeratkan pelukannya. Dila diam dan pasrah, dia tak akan bisa menahan kekuatan Zian.
"Ayo kita pulang jika kamu nggak nyaman," bisik Zian.
"Jangan, kamu sepertinya adalah tamu kehormatan," ucap Dila.
"Aku nggak peduli, ayo kita pulang jika memang kamu ingin pulang."
"Aku nggak enak sama Salma, dia adalah adik Pak Aldo, bagaimana bisa aku pergi dari pestanya."
"Malam ini kamu cantik, Sayang," bisik Zian.
"Nona Felisia juga tampak cantik, kurasa kalian serasi," ucap Dila dengan intonasi sinis.
Zian tersenyum, "kamu cemburu?" tanya Zian, ia masih memeluk Dila.
"Apa? Ah, jangan berprasangka seperti itu, aku hanya menirukan ucapan Ibunya Salma." Dila segera menyahut.
"Kamu manis kalau cemburu." Zian memencet hidung Dila.
"Kamu salah sangka," ucap Dila sambil memegang hidungnya.
Zian melepas pelukannya, "sudahlah, ayo kita masuk," ucap Zian lalu meninggalkan Dila.
__ADS_1
Dila berdiri mematung, ia berusaha mencerna ucapan Zian, apakah dirinya cemburu?