Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 71 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Kedua kaki palsu Anggara sudah terpasang sempurna. Di balik celana bahan yang dipakainya, orang tidak ada yang tahu kalau itu hanya kaki palsu yang terbuat dari sepotong besi.


Anggara menggunakan kaki itu hanya sesekali saja jika dirinya harus ke kantor dan meeting di luar bersama klien. Atau pun saat bermain dengan ketiga anaknya. Selebihnya dia juga tidak masalah kalau harus tetap duduk di atas kursi roda.


"Bagaimana, Dad?. Apa nyaman memakai itu?."


"Hem....sangat nyaman. Seperti biasa saja, aku bisa bergerak bebas."


"Aku senang jika Daddy nyaman menggunakannya."


"Ok, setelah ini aku ingin mampir ke kantor. Tadi kata Daddy ada ada yang mau dibicarakan."


"Hem, ayo lah."


Anggara dan Diandra berpamitan pada Dokter yang dari tadi hanya memperhatikan interaksi suami istri itu. Lalu Anggara dan Diandra menuju kantor dimana Dad Andreas memang sudah menunggunya.


Untuk keamanan berkendara, Anggara lebih menyerahkannya pada Diandra yang sudah mahir mengendarai mobil.

__ADS_1


"Ternyata enak juga ya duduk manis di samping istri tercinta. Bisa memandanginya sepuasnya." Ucap Anggara saat keduanya sudah berada di jalan raya, bergabung dengan pengendara yang lain.


"Hanya di pandang, Dad?." Goda Diandra sekilas melirik pada Anggara yang sudah mengulurkan tangan dan menyentuh paha Diandra.


"Dad, jangan macam-macam!. Aku sedang membawa mobil." Diandra memperingati Anggara yang mulai meraba paha sampai pangkal paha.


"Bukannya ini yang kamu mau?." Ucap Anggara meledek. Lalu menarik tangannya dari atas paha Diandra.


"Aku hanya bercanda, Dad." Bohong Diandra, padahal dia ingin merasakan sensasi bercinta di dalam mobil tapi bukan sekarang saat dirinya yang mengendari mobil.


"Stop, Dad!." Jangan terus memancing ku. Kita sudah mau sampai di kantor."


"Ok, sayang. Tapi setelah pulang dari kantor, kita bisa mencobanya di parkiran."


"Daddy, stop!. Kita sudah sampai." Diandra mematikan mesin mobil tepat di area parkiran.


"Apa mau sekarang?." Anggara masih saja menggoda Diandra yang sudah terpancing. Hingga pada detik selanjutnya langsung saja Diandra duduk di atas pangkuan Anggara. Dan tanpa pemanasan yang lama, Diandra dan Anggara melakukan penyatuan di dalam mobil. Sampai empat puluh lima menit percintaan mereka baru selesai untuk yang kedua kalinya. Anggara cukup kewalahan dalam mengimbangi gairah Diandra yang meledak-ledak tidak terkontrol.

__ADS_1


"Makanya Dad, jangan membangunkan harimau yang sedang tidur. Jadi seperti ini jadinya." Ucap Diandra sambil merapikan pakaiannya.


Anggara hanya tertawa geli mendengar ocehan Diandra, tapi dia begitu gemas dengan tingkah Diandra yang terus saja meracau pada sesi percintaan mereka.


"Ayo kita turun, kasihan Daddy sudah menunggu kita." Diandra turun terlebih dulu lalu membuka pintu yang satunya lagi untuk Anggara.


"Terima kasih sayang atas percintaan di siang menjelang sore ini." Ucapnya persis di telinga Diandra.


Diandra hanya tersenyum manis lalu menggandeng tangan Anggara dan mereka berjalan menuju gedung kantor.


Sampai di lantai 18, dimana ruang kerja Dad Andreas berada. Anggara dan Diandra mengetuk pintu terlebih dahulu, dan betapa terkejutnya mereka saat yang membuka pintu untuk mereka Morgan.


"Morgan?." Ucap Diandra dan Anggara bersamaan.


"Hai, Diandra!." Sapa Morgan sambil menatap wanita yang masih sangat dicintainya. Kemudian dia beralih menatap Anggara yang berdiri tegak di sebelah Diandra.


"Bukannya dia sudah kehilangan kedua kakinya, tapi kenapa bisa berdiri gagah di samping Diandra?." Batin Morgan.

__ADS_1


__ADS_2