
Rini menganggukkan kepalanya, membiarkan Morgan untuk bermain dengan mereka. Jayden dan Katherine begitu senang saat Morgan menjadi seekor kuda yang bisa dinaiki oleh mereka. Ada banyak permainan yang ditunjukkan Morgan, sehingga Jayden dan Katherine begitu senang dengan sosok Morgan yang pernah mereka tahu kalau dulu sangat diam. Rini tidak merasa takut jika Morgan berbuat macam-macam pada Jayden dan Katherine. Sebab dia bisa dengan mudah untuk meminta pertolongan. Namun nyatanya setelah hampir satu jam setengah mereka bermain, semuanya baik-baik saja. Morgan memperlihatkan sisi lain dirinya yang baru diketahui Rini selama ini.
Rini tersenyum tipis ketika dia sedikit mengingat pria yang saat ini bermain dengan mereka adalah pria yang sangat dicintainya. Tapi sayang pria itu sangat mencintai sahabatnya. Namun cinta itu tidak terbalas. Dan sekarang Rini bersyukur bisa memiliki Kevin dalam hidupnya. Morgan masa lalu yang sudah dilupakannya. Dan Diandra sudah memilih Anggara sejak awal, sedangkan Morgan dia masih harus mencari kebahagiaannya sendiri.
"Kenapa kau melamun?." Morgan menggoyangkan tangannya di depan Rini. Rini beberapa kali mengedipkan matanya, jarak mereka begitu dekat sampai Rini harus mundur beberapa langkah untuk menghindarinya.
"Ah...tidak. Aku tidak melamun." Sangkal Rini.
Permainan mereka harus berakhir ketika suara Mama Mona yang memanggil mereka.
"Jayden, Katherine, waktunya kita pulang." Seru Mama Mona merentangkan kedua tangan dan seketika mereka menghambur ke dalam pelukan Mama Mona dengan suara tawa khas anak kecil.
"Tante...." Sapa Morgan sambil sedikit menundukkan kepala.
__ADS_1
"Morgan..." Balas Mama Mona ramah.
Mama Mona membawa kedua cucunya pergi dari sana setelah pamit pada Morgan. Rini juga sama, dia pergi membawa mainan Jayden dan Katherine.
Morgan menatap mereka semua, setelah apa yang telah dilakukan oleh keluarganya terhadap Diandra dan Anggara. Mereka tidak menunjukkan kemarahan atau pun kebenciannya padanya. Justru yang didapatnya perlakuan baik seperti pertemuan mereka diawal. Jadi Morgan sendiri yang merasa tidak enak hati atas kelakuan dan sikapnya selama ini.
Tidak ada satu pun yang memperlakukan beda dirinya, termasuk Dad Andreas dan Mommy Isabel, pada saat pernikahan Tania dan Paman Usman dan hari ini.
"Yang lain sudah pada pulang. Aku akan mengantar kau lebih dulu. Karena aku akan mengantar Rini ke Villa Anggara."
Ada rasa ingin ikut dalam hati Morgan, entah kenapa banyak hal menarik yang berada di sekeliling Diandra. Tapi niatnya dia urungkan karena tidak ingin menjadi pengganggu antara Kevin dan Rini.
Ada perasaan dimana dia begitu menyesali sudah memprovokasi kedua orang tuanya untuk mengambil alih semua aset yang dimiliki oleh keluarga Anggara. Yang ternyata mereka tidak lantas jadi hidup menderita. Justru mereka hidup dengan penuh kebahagiaan. Jauh dari apa yang dirasakannya saat ini, kesepian, sendiri dan tidak pernah merasa bahagia.
__ADS_1
"Kau jangan terlalu lelah, karena sebenatr lagi menikah." Ucap Morgan saat sebelum turun dari dalam mobil.
"Iya, Terima kasih kau sudah perhatian." Balas Kevin sambil tersenyum tipis.
Memang sudah beberapa hari ini Kevin merasa kurang enak badan. Karena terlalu banyak memforsir pekerjaan supaya bisa selesai tepat waktu sebelum hari pernikahan.
"Kamu baik-baik 'kan sayang?." Tanya Rini saat mereka dalam perjalanan ke Villa.
"Iya, sayang. aku baik-baik saja. Aku hanya lelah kelelahan saja."
"Nanti kamu istirahat saja di Villa sebentar saja."
"Iya, sayang." Kevin sudah merasa pusing dan memegang kepalanya.
__ADS_1