Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 68 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Setelah melewati perjalanan udara yang cukup panjang, kini mereka semua sudah berada di bandara. Ada beberapa orang yang sudah bersiap menjemput mereka.


Dad Andreas dan Mommy Isabel yang ikut mobil Tania dan Kevin. Ketiga anak Diandra dan Anggara ikut mobil Rini dan Mama Mona. Diandra dan Anggara ikut di mobil Paman Usman. Ketiga mobil itu pun sudah melaju, meninggalkan bandara di sore hari.


"Paman Usman..."


"Iya, Tuan Anggara?."


"Perusahan ku yang di sini yang tidak tersentuh oleh Willy ada berapa persen?."


"Semua perusahan Tuan Anggara yang ada di sini seratus persen tidak tersentuh Tuan Willy."


"Bagus lah. Setidaknya aku masih bisa bernafas lega. Karena perusahan ku yang ada di Jerman dan Paris sudah pindah kepemilikan juga pada Willy. Terima kasih selama ini Paman Usman selalu menjaga perusahaan-perusahaan ku."


"Itu sudah menjadi tugas saya, Tuan Anggara."

__ADS_1


Diandra menyandarkan tubuhnya pada dada sang suami. Meski pun kedua kaki Anggara sudah tidak ada, namun cinta Diandra tetap besar sama seperti dulu. Cinta yang dimilikinya tidak terbatas pada fisik saja.


"Tidur lah." Anggara mengusap lembut rambut kepala Diandra dengan begitu sayang. Sekilas mengecup kening Diandra yang saat ini sudah memejamkan mata.


"Aku harus bisa segera bangkit untuk mu, anak-anka kita, kedua orang tua kita, dan keluarga kita. Aku akan mengusahakan segala sesuatunya untuk yang terbaik untuk kalian. Terutama untuk mu, sayang. Kamu sudah mau menerima dan menemani pria cacat ini." Batin Anggara sambil menggenggam erat tangan Diandra lalu mengecupnya berkali-kali.


Tidak terasa mobil pun sudah berhenti di Villa Anggara. Untung saja Villa besar nan mewah itu cukup untuk menampung mereka semua.


Karena sadar diri tidak bisa lagi dirinya untuk menggendong Diandra, maka dari itu Anggara mengecup lembut bibir Diandra untuk membangunkannya.


"Kita sudah sampai?."


"Hem, mereka sudah masuk ke dalam Villa. Hanya kita berdua saja yang masih di mobil."


Tangan Diandra melingkari leher Anggara, menyusuri leher belakang dengan sesekali meremasnya pelan. Jarak wajah mereka semakin menipis, sehingga hembusan nafas mereka rasakan menerpa wajah masing-masing.

__ADS_1


"Aku sangat merindukan mu." Diandra menempelkan bibirnya pada bibir Anggara yang sudah dia rindukan keganasannya. Menjelajahi tubuh naked nya sampai dia harus menjerit kenikmatan.


Mereka saling mencumbu menjelajahi rongga mulut satu sama lain. Hingga mulai terdengar suara ******* dari mulut Diandra. Ciuman Anggara memang selalu bisa membuatnya melayang.


"Nanti kita lanjutkan di dalam kamar." Ucap Anggara saat ciuman mereka terlepas karena sama-sama kehabisan oksigen.


"Ada anak-anak, jadi kita tidak akan bebas." Adu Diandra karena beberapa hari ketiga anaknya selalu ikut tidur di kamarnya.


"Tidak kali ini, mereka akan tidur bersama Daddy dan Mommy." Anggara segera merapikan jasnya untuk menutupi bagian yang sudah menonjol. Diandra terkekeh geli karena tingkah Anggara.


Diandra keluar terlebih dahulu lalu menyiapkan kursi roda untuk Anggara, kemudian dia membantu Anggara untuk duduk di kursi roda.


"Terima kasih, sayang. Maaf merepotkan mu."


Diandra kembali mencium bibir Anggara dan sedikit menggigitnya. "Jangan selalu mengatakan hal itu. Kalau tidak aku akan meminta perawat untuk mengurus mu."

__ADS_1


Ribuan kali kalimat itu selalu terlontar dari mulut Anggara dan Diandra sangat tidak menyukainya.


__ADS_2