Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia
Bab 69 Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Dad Andreas berbicara pada Mama Mona dengan santai sebagai besan dan kedua orang dewasa.


Dengan berbesar hati, Dad Andreas meminta maaf dan mengakui semua kesalahannya terhadap Mama Mona. Dan tentu saja, Mama Mona memaafkannya bahkan sebelum Dad Andreas meminta maaf.


Mommy Isabel begitu terharu dengan kebesaran hati suaminya. Dia merasa bahagia, satu persatu hubungan mereka mulai membaik dan itu sangat diharapkannya.


Kebahagian itu bukan hanya milik Dad Andreas, Mama Mona dan Mommy Isabel. Juga milik Anggara dan Diandra, di sebuah kamar yang minim akan pencahayaan, keduanya melebur menjadi satu meski dengan keterbatasan yang dimiliki oleh Anggara saat ini.


Anggara berusaha untuk selalu memuaskan sang istri dan itu selalu berhasil. Tidak ada hentinya Diandra meneriakkan nama suaminya di sela-sela kegiatan panas mereka.


"Kamu memang yang terbaik, Dad. I love you Daddy." Diandra belum puas bergerak liar di atas tubuh suaminya. Hingga dia mulai menggoyangkan lagi panggulnya naik turun atau pun maju mundur.


Anggara pun tidak bisa menampik apa yang dilakukan Diandra sanggup membawa dirinya terbang pada puncak tertinggi. Dia meraung hebat dengan mata yang terpejam saat menembakan cairan itu pada rahim Diandra.


"Apa kamu suka?." Diandra menggoyang lagi panggulnya.


"Selalu, sayang." Anggara menarik tubuh Diandra untuk tidur di atas tubuhnya.


"Kita lanjut kan lagi nanti, sekarang kita istirahat saja dulu." Diandra mengangguk namun masih dalam posisi di atas tubuh Anggara.

__ADS_1


.


.


.


Pagi-pagi sekali, Paman Usman dan Dad Andreas berangkat bekerja. Dad Andreas memegang perusahaan Anggara, meski pun bukan perusahaan besar, tapi cukup menghidupi mereka dan beberapa puluh karyawannya. Dan Dad Andreas tidak bisa berpangku tangan tidak mengerjakan apa pun. Jadi lebih baik bekerja di perusahan milik Anggara.


"Sepertinya aku melihat sesuatu antara kau dan Tania?." Ucap Dad Andreas baru sampai di dalam ruang kerjanya.


"Maaf, Tuan Andreas. Sesuatu apa maksud anda?."


"Tidak, Tuan Andreas. Hubungan kami hanya sebagai teman." Paman Usman berusaha menyangkal perasaanya. Karena dia tidak mau kecewa jika harus sampai di tolak.


"Mau aku bantu?."


Dengan cepat Paman Usman menggeleng. "Ah tidak, Tuan Anggara. Aku sudah sudah senang bisa memiliki taman seperti Nyonya Tania."


"Baik lah kalau seperti itu. Ayo kita mulai bekerja."

__ADS_1


"Iya, Tuan Andreas."


Keduanya langsung membuka laptop yang sudah ada di atas meja kerja mereka.


"Kau melihatnya, Usman?."


"Iya, Tuan."


Mereka sedang bersenang-senang dengan kekayaan dari keluarga ku." Ucapnya geram, melihat Dad Willy dan Mommy Lydia yang sedang berada di Hawaii dengan para kolega dari perusahaan Dad Andreas sebelumnya.


"Iya, Tuan. Aku rasa mereka tidak akan lama menikmati kekayaan ini. Karena mereka sudah bersenang-senang di atas kematian Nyonya Regina."


"Kau benar. Dan aku ingin melihat hari itu, dimana mereka hancur sampai berkeping-keping." Ucapnya penuh amarah. Meski pun dia sudah berusaha ikhlas namun tidak semudah itu.


Sementara itu di rumah Tania. Wanita cantik itu sedang berbicara dengan Rini dan kedua orang tua Rini. Mereka akan mempercepat pernikahan mereka atas permintaan Kevin.


"Apa kau yakin sudah bersiap untuk menikah dengan Rini?." Tanya Tania dan Kevin mengangguk bersungguh-sungguh. "Kau tahu Rini masih harus menyelesaikan kuliahnya?."


"Iya aku tahu, Ma. Tapi aku sudah tidak bisa menundanya lagi." Balas Kevin dengan tidak sabaran.

__ADS_1


__ADS_2