
Tersenyum Edward melihat bungkusan kado yang akan dia kirimkan untuk Naura. Jika bukan karena panggilan mendadak dari papanya untuk segera pulang ke Australia, dia akan mengantarkan sendiri kado tersebut ke rumah Naura. Dua hari dia meluangkan waktu mendatangi tempat tinggalnya, tetapi Naura dan Ditya sedang tidak ada di rumah.
"Jang.., pastikan kado ini diterima oleh Naura! Jika sampai tidak sampai padanya, aku cukur semua rambut di tubuhmu." Edward menyampaikan pesan pada Ujang untuk mengantarkan sendiri bingkisan tersebut pada Naura.
"Siap Tuan.., he..he..he sekalian Ujang bisa jumpa Non Naura. Sudah setahun lebih tidak melihatnya, sekarang masih kecil atau sudah tambah besar ya kira-kira..," Ujang tampak berpikir membayangkan Naura.
"Hei .., apa yang kamu pikirkan tentangnya? Aku bisa panggilkan tukang sunat untuk mengebiri kamu." seru Edward.
"Ampun jangan Tuan Edward.., dulu kan Non Naura badannya kecil. Sekarang ini masih kecil atau sudah bertambah gemukan, itu saja yang Ujang pikirkan Tuan." Ujang langsung menaruh dua tangannya untuk menutup bagian intimnya.
Edward tersenyum melihat ulah dari penjaga rumah Om nya. Kemudian dari arah gerbang tampak taksi yang dipesan online oleh Edward.
"Okay Jang..., taksiku sudah datang. Mobilku aku tinggal disini, rawat ya! Jangan lupa tiap dua hari sekali dipanaskan, juga dibersihkan! Aku berangkat dulu Jang.." pamit Edward yang segera berjalan menuju taksi yang telah menunggunya.
"Siap Tuan..! Hati-hati di jalan.. Ngomong-ngomong Tuan sudah pamit sama Tuan Firmansyah belum?" seru Ujang.
"Nanti aku kirim pesan sama Om Fir. Aku langsung bandara, dan penerbangan langsung ke Sydney."
Taksi segera berangkat setelah Edward memasuki mobil. Ujang melambaikan tangannya.
"Jang ..., sini!" tampak dari pintu Bi Ijah memanggil Ujang.
"Iya Bi..., sebentar." Ujang segera kembali menuju pintu masuk rumah Firmansyah.
"Tuan Edward sudah jadi berangkat Jang? Terus ini Bu bungkusan milik siapa?" Bi Ijah memberondong Ujang.
"Satu-satu kali Bi.. nanyanya. Tuan baru saja berangkat ke Sydney pakai taksi online Bi. Terus.. bungkusan ini punya Non Naura.., Ujang dipesan Tuan Edward untuk mengantarkan sendiri ke rumah Non Naura."
"Non Naura? Aku juga jadi kangen sama Non. Memangnya kamu tahu alamatnya Jang, terus apa ini isinya?" Bi Ijah mengamati bungkusan kado yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Sudah dikirim share loc sama Tuan Edward Bi, untuk isinya mana tahu Ujang. Tapi setahu Ujang, Tuan itu sangat sayang sama Non Naura. Pasti tidak akan aneh-aneh barangnya."
"Iya ya Jang. Kenapa dulu Non Naura tidak sama Tuan Edward saja ya, kenapa harus sama orang lain yang kita tidak mengenalnya. Kalau sama Tuan Edward pasti kita masih bisa sering ketemu dengan Non." Bi Ijah melamun.
"Sudah Bi.., kenapa malahan kita memikirkan hal kayak gini. Dengar-dengar sekarang suami Non Naura itu kaya Bi, katanya putra dari konglomerat."
"Hush .. kamu dengar dari mana? Tuan Firman juga kaya, tapi buktinya.. apa Non Naura bahagia bersamanya?"
"He..he..he.., iya juga ya Bi. Jadi tidak sabar, Ujang untuk ketemu dengan Non Naura." sahut Ujang sambil senyum-senyum sendiri.
"Sudah.., ayo bantuin Bibi dulu menyikat kamar mandi. Jangan lupa juga untuk selalu mendoakan Non Naura, dengan siapapun semoga kebahagiaan selalu bersamanya." sahut Bi Ijah sambil berjalan menuju dapur.
"Aamiin."
***********
"Jessica..., kamu sudah mandi nak? Ayo mandi dulu.., tadi papamu memberi tahu papa. Pagi ini mereka mau berkunjung kesini." dengan penuh kasih mama mertua Jessica mendatanginya di kamar.
"Tidak boleh berprasangka seperti itu sayang. Mandilah dulu.., suamimu sudah siap dari tadi. Kamu jangan khawatir, apapun yang terjadi, kamu tetap menantu mama, istri dari putra mama." dengan sabar mama mertua terus merayu menantunya.
"Terimakasih mama." Jessica terharu memeluk mamanya.
Dengan malas akhirnya Jessica segera masuk ke kamar mandi, dan mama mertuanya hanya geleng-geleng kepala. Sambil tersenyum dia merapikan tempat tidur putra dan menantunya itu.
"Ma.. keluarga Jess sudah datang. Mama dimana?" terdengar suara Doni mencarinya.
"Diminta masuk dulu Donn, mama siap-siap sebentar! Mama masih ada di kamarmu." bergegas mama mertua Jessica masuk ke kamarnya, dan berganti pakaian.
Dia sama sekali tidak menyangka jika keluarga besannya akan datang sepagi ini. Setelah menggunakan Make up tipis dan berganti baju, dia langsung menuju ruang tamu.
__ADS_1
"Jess mana ma?" tanya pak Aji suaminya menanyakan menantunya.
"Masih ganti pakaian pa, coba kamu jemput ke kamar dulu Donn!" sambil tersenyum dia menyalami semua anggota keluarga Jessica.
"Baik Ma.." Doni langsung beranjak memanggil istrinya.
"Mbak Naura tidak ikut ya Bu? Saya pikir adiknya Jess juga ikut datang kesini." mama mertua Jessica menyapa besannya.
"Mungkin masih terkena macet Bu. Dia ikut kesini, tapi tadi kami pisah mobil. Suaminya mau tanda tangan di kantor dulu, harus pagi ini. Setelahnya mereka akan langsung bergabung kesini." dengan ramah Samsuar menjelaskan keberadaan putri keduanya.
Mereka berbicara tentang beberapa hal, sampai ART datang membawa nampan untuk menyuguhkan teh panas.
"Mari diminum dulu, mumpung masih panas!" Aji mempersilakan tamunya untuk menikmati minuman, dengan terlebih dulu memberi contoh. Dia langsung mengambil cangkir dan perlahan menyesapnya.
Samsuar juga mengikuti ajakan Aji, kemudian menyenggol lutut Novi untuk segera memegang cangkirnya. Dengan muka sedikit cemberut, Novi mengikuti ajakan suaminya.
Setelah berbincang-bincang sejenak, terlihat Doni sudah datang sambil merangkul Jessica. Gadis itu langsung menyalami mama dan papanya, kemudian duduk di samping mama mertuanya. Tangan Jessica digenggam mama mertuanya, untuk membesarkan hati menantunya itu.
"Baik.., kita semua sudah lengkap ada disini. Mungkin kami dulu yang bicara apakah diperbolehkan pak Aji?" Samsuar langsung mengawali pembicaraan.
"Oh silakan pak Samsuar. Kami tamu disini, jadi kami ikut saja." sahut papa mertua Jessica.
"Begini pak Aji, setelah kami melakukan perenungan, kami juga pertimbangkan efek baik sama buruknya, kami menerima pernikahan putri kami Jessica dengan nak Doni menantu kami. Semua sudah terjadi dan terlanjur, kedepannya semoga mereka berdua segera dapat menata kembali kehidupan mereka." dengan lancar Samsuar menyampaikan bahwa keluarga mereka menerima pernikahan putrinya.
"Benarkah pak Samsuar? Kami sangat berterima kasih atas kebesaran hati dari keluarga pak Samsuar dan Bu Novi yang telah berkenan menyetujui dan mengesahkan pernikahan Jessica dan Doni. Dan kami harap, pihak keluarga baik dari kami maupun dari pak Samsuar, dapat mengabulkan apa yang menjadi keinginan dari Jess dan Doni." Aji menanggapi perkataan Samsuar.
Samsuar tersenyum menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba Jessica menubruk dan memeluk erat tubuh Novi.
"Terimakasih ma atas restunya..,"
__ADS_1
**************