
Novi mengetuk pintu kamar putri keduanya. Karena tidak ada jawaban dari dalam, Novi langsung masuk ke dalam kamar. Tetapi Naura tidak ada, tetapi Novi mendengar suara dari dalam kamar mandi. Kemudian Novi duduk di meja belajar putrinya, dan membaca majalah yang tergeletak di atas meja.
"Mama.., kok tiba-tiba mama ada di kamar Naura. Ada apa ma, kenapa tidak memanggil Naura saja." Naura keluar dari dalam kamar mandi dengan kepala yang dibalut dengan handuk.
"Malam-malam kok keramas sayang, nanti kepala jadi pusing lho. Mama lagi pingin ke kamar putri mama." Novi tersenyum kemudian mengambil handuk di kepala putrinya.
Tangannya mencoba mengeringkan rambut putrinya. Sedangkan jantung Naura sudah terasa deg-degan dari tadi, karena tumben mamanya masuk ke kamarnya.
"Naura, nih sudah lumayan rambutnya. Mau di hair dryer tidak biar kering beneran."
"Tidak perlu ma, enak gini. Dingin." kata Naura tersenyum, dan kemudian duduk di pinggir ranjang.
"Kamu sudah makan malam Naura?"
"Sudah ma, tadi makan bareng teman-teman di kampus. Karena ada jatah konsumsi untuk panitia ma, dari pihak kampus."
"Ya sudah, mama pikir kamu belum makan. Yah syukurlah ternyata putri mamah sudah makan."
Keduanya terdiam, dan Novi bingung mau memulai perkataan tentang pernikahan yang akan dilakukan Minggu ini. Setelah mengambil nafas, akhirnya Novi menyampaikan maksud kedatangannya ke dalam kamar Naura.
"Naura.., sebenarnya ada yang mau Mama sampaikan sama kamu nak. Teman mama menginginkan pernikahan kalian segera diadakan dalam Minggu ini nak." ucap Novi perlahan.
Naura terkejut mendengar perkataan dari mamanya, tetapi dia sendiri yang sudah menyampaikan pada mamanya jika dia mau menikah dengan teman mamanya. Dia hanya menatap mata mamanya, dan tidak berbicara apapun.
"Maafkan mama dan papa ya nak. Kami tidak becus menghidupi keluarga ini, tapi kalau kalian bisa hidup dari bawah, mama akan batalkan pernikahan ini nak." Novi memeluk Naura.
"Iya ma, Naura siap kapanpun akan dinikahkan." jawab Naura mantap, bahkan tidak ada air mata sedikitpun dari matanya.
Dari saat dia memutuskan untuk mengambil peran itu, dia sudah menguatkan hatinya untuk menerima keputusan apapun. Dia berpikir, mungkin cara ini adalah caranya untuk berbakti pada keluarganya. Melihat mamanya yang terlihat tertekan karena memintanya untuk menikah, Naura memeluk erat tubuh Novi.
"Sudah ya ma, kapanpun Naura dijadwalkan untuk nikah, Naura siap ma. Yang penting keluarga kita bahagia ma." katanya lagi sambil tersenyum.
"Ya sudah, terima kasih Naura. Kamu memang putri mama yang berbakti. Mama kembali ke kamar ya, mau nemani papa." ucap Novi sambil tersenyum.
"Iya ma. Terima kasih juga ya atas kasih sayang mama dan papa yang selalu diberikan untuk Naura dan kak Jess."
__ADS_1
Novi tersenyum sambil menganggukkan kepala, kemudian keluar dari kamar Naura. Setelah memastikan Mamanya keluar, Naura menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Seketika Naura terduduk di lantai, dan air mata nampak deras mengalir ke pipinya. Dia berpikir harus memupus cita-citanya, dan berakhir menikah dengan orang seusia papa dan mamanya. Kegiatan kampus harus dia tinggalkan, dan berakhir di rumah saja. Tetapi mengingat wajah kedua orang tuanya dan kakaknya Jessica, Naura tersenyum getir.
*************************
Novi memberi informasi pada Firmansyah, bahwa keluarganya sudah menyetujui pernikahan akan dilaksanakan pad Minggu ini. Kemudian dia juga mengirimkan nomor rekening mitra perusahaan suaminya yang harus segera dibayarkan.
Firmansyah kemudian menghubungi asistennya untuk mengatur pernikahan di KUA pada hari Jum.at, dan memintanya untuk mengirimkan cek ke perusahaan Samsuar.
"Huh..., aku menikmati suasana ini." seru Firmanzah pada kekasihnya Santi.
"Hari Jum.at besok aku akan menikah dengan gadis ingusan. Kita akan memiliki permainan yang sangat mengasyikkan."
"Apa? Kamu akan menikah, dengan siapa Firman. Kenapa kamu tidak menikah denganku saja?" Santi agak merajuk terhadap Firmansyah.
"Kamu bicara apa Santi, kamu butuh uang berapa? Nanti biar dikirim sama asistenku. Sekarang layani aku, aku lagi butuh pelampiasan ini." kata Firmansyah sambil memeluk Santi.
Tanpa semangat, Santi melayani Firmansyah.
**********************
"Fikr..., kenapa Naura? Dari tadi pagi aku lihat, dia banyak melamun dan diam." tanya Iin pada Fikri.
"Aku juga tidak tahu In, coba deh kamu saja yang tanya. Kalian kan sama-sama wanita, siapa tahu dia mau jujur sama kamu." sahut Fikri sambil menutup laptopnya.
"Ntar aku tanya deh, kayaknya Naura lagi banyak pikiran deh. Untungnya acara kita sudah selesai ya Fikr. Coba kalau belum, bisa kalang kabut kita."
"Iya ya, kita jadi mau ngopi tidak. Coba ditanya Naura sekarang, kemarin dia sudah pulang duluan."
"Okay, tunggu bentar ya. Jangan kasih tahu teman-teman yang lain dulu."
Iin mendekat ke arah Naura yang sedang menatap ke arah taman depan auditorium.
"Naura..., kita jadi ngopi tidak hari ini? Teman-teman sudah pada nanyain nih." tanya Iin pada Naura.
__ADS_1
Naura agak terkejut ditanya sama Iin.
"Iya, gimana In. Maaf aku agak Lola, tadi kurang dengar kamu bicara apa." kata Naura gugup.
"Kita jadi ngopi tidak sayang? Kamu sedang ada masalah ya Naura. Tidak biasanya kamu tidak fokus kayak gini."
Iin duduk di samping Naura, kemudian memegang tangan sahabatnya.
"Udah ayok kita berangkat sekarang. Kita mau ngopi dimana In." Naura langsung berdiri kemudian menarik Iin untuk mendatangi teman-temannya yang lain.
"Hai.., ayo kita jadi ngopi guys. Akbar mana, dia biasanya hafal tempat yang asyik tapi harga menarik." Naura langsung mengajak teman-temannya pergi ngopi bersama.
"Akbar...., sini. Jadinya kita mau ngopi dimana?" teriak Iin memanggil Akbar.
"Ayo ikuti saya." seru Akbar.
Akhirnya mereka berenam segera mengikuti Akbar. Mereka berbeda arah.
"Pakai mobilku saja. Nanggung kalau naik motor tiga, ayo kita geser kesana." teriak Fikri.
"Ngomong dari tadi kenapa sih bro. Ayo ikuti Fikri." kata Yifan.
Setelah sampai di halaman parkir, mereka segera masuk ke dalam mobil.
"Bu Ketua duduk depan saja, dampingi Fikri." kata Iin.
"Ya, setuju. Ayo Akbar..., kita jalan ke arah mana? Jangan muter-muter."
"Sudah lurus saja, nanti ke daerah Srondol saja. Ada warung kopi asyik."
Fikri mengarahkan mobil menuju arah yang ditunjukkan Akbar. Sesekali dia melirik Naura yang meskipun dari tadi ikut tersenyum, tetapi pandangannya terasa kosong.
"Apakah aku bisa menikmati saat-saat seperti ini nanti ke depannya?" Naura berpikir sendiri.
"Aku akan puaskan masa-masa ini, besok aku sudah harus menikah."
__ADS_1
Akhirnya Naura memutuskan untuk menikmati saat-saat berkumpul dengan teman-temannya saat ini.
**********************