
Firmansyah menunggu Santi di kursi depan lobby. Dia membiarkan gadis itu memilih barang yang dia sukai, dan tinggal menelponnya jika akan membayar di cashier. Dia akan menuruti apa yang diinginkan Santi, dan hanya satu yang tidak akan dia turuti yaitu menikahi nya. Berkali-kali hal tersebut sudah dia sampaikan pada Santi. Meskipun dia sudah menikah dengan putri dari mantannya waktu masih kuliah, melihat gadis itu hanya memunculkan rasa jengkel pada kedua orang tuanya.
"Mas Firman...., koleksinya masih stock lama. Aku tidak jadi membeli, tadi SPG nya sudah menyampaikan kalau akan menghubungiku, jika barangnya datang." kata Santi yang langsung menggelendot manja.
"Terserah kamu San, sekarang apa rencanamu."
"Kita ngopi dulu yok, disitu saja. Aku mau bread cheese, enak disitu terus dipadu sama Cappucino."
Firmansyah langsung masuk ke ***rbuck Coffee, dan dia tidak tahu jika Istrinya sedang ngopi di balkon sama teman-teman kuliahnya. Dia mengambil tempat duduk di bagian sudut.
"Mas Firman mau pesan apa, sekalian aku pesankan sekalian."
"Americano saja. No meal." jawabnya singkat, sambil melihat ponsel.
Firmansyah menaruh kembali ponsel yang dia pegang, dia merasakan rasa suntuk. Dia melihat ke arah balkon, terlihat lucu baginya saat ada yang sedang merayakan ulang tahun. Dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Lihat apa mas?" Santi ikut melihat balkon, dan dia juga tersenyum.
"Gadis seusia itu belum mikir kebutuhan hidup mas. Uang habis tinggal minta orang tua." lanjut Santi.
"Kalau kamu juga sudah mikir kebutuhan hidup belom sayang?"
"Sudah dari dulu, dan aku juga sudah minta. Tapi.. huh, malah kasih kabar kalau menikahi anak-anak."
"Sudah, diam. Jangan singgung masalah itu lagi. Atau kita sekarang pulang."
Mendengar Firmansyah bicara agak tinggi, Santi diam. Kemudian dia berdiri mengambil straw, dan memberikan satu kepada kekasihnya. Santi selalu bingung dengan apa yang diinginkan oleh kekasihnya itu. Saat orang lain, dengan usianya sudah menggandeng cucu, tetapi laki-laki di depannya itu malah tidak mau terikat komitmen. Tetapi dia masih bertahan, yah .., apalagi kalau bukan karena harapan untuk mendapatkan pembagian asset kekasihnya itu.
"Maaf ya kalau aku bicara agak keras. Tapi aku minta kamu menghargai aku San."
"Iya mas, maafkan aku juga."
"Jujur San, meskipun aku sudah menikah dengan putri Novi dan Samsuar. Aku belum pernah menyentuhnya sekalipun."
__ADS_1
Santi tersenyum.
"Melihat orang tuanya, aku sangat dendam ingin menghabisi anak gadisnya. Tetapi saat berhadapan dengan gadis itu, aku tidak tega melihatnya." Firmansyah menyesap kopinya.
"Hanya karena keegoisan orang tuanya, anak usia 18 tahun harus menikah denganku yang lebih pantas sebagai kakeknya. Huh..., harta."
"Terus keenakan donk istrimu. Sudah tidak melayani, kamu biayai kuliah juga. Orang tuanya yang telah menolak mu dulu, kamu lunasi semua hutang-hutangnya. Lha aku?"
"Seenaknya kamu menelponku kalau lagi butuh, giliran aku ajak menikah. Selalu ada saja alasanmu. Aneh."
Firmansyah tidak menanggapi omongan Santi, tiba-tiba matanya menangkap penampakan istrinya di antara anak-anak muda yang sedang merayakan ulang tahun di balkon. Dia melihat istrinya yang hanya diam, tersenyum saat teman yang lainnya bersuka ria.
"Santi, sudah kita pulang saja. Mas pingin tidur."
"Ini diminum dulu dong. Masak minum saja belum selesai sudah minta pulang."
"Aku sudah, kopinya kurang enak. Nanti pesan dari apartemen saja." Firmansyah langsung berdiri dan berjalan keluar.
Dengan bersungut-sungut dan mengomel tidak jelas, Santi mengikutinya keluar.
**********************
"Tidak usah Fikr. Aku yakin aman kok, terkadang malam hari aku juga naik Ojol kalau sedang cari sesuatu." dengan halus Naura menolak tawaran Fikri.
"Kamu itu kenapa sih Naura. Aku kok jadi tidak mengenalimu lagi. Ada yang berubah dari sikapmu akhir-akhir ini."
"Fikri,. please deh. Tidak usah berburuk sangka ya. Aku baik-baik saja, kamu lihat kan. Aku sehat, nilai kuliahku semester kemarin juga bagus-bagus." Naura tersenyum sambil melihat ke arah Fikri.
"Iya, iya..., aku tahu kalau hal itu. Tetapi aku curiga, kamu menutup sesuatu dari kami Naura. Kamu yang dulu suka jalan, kalau ada tanggal merah selalu melakukan adventure. Sekarang itu semua hilang dari kehidupanmu sekarang."
"Kamu terlalu banyak berpikir Fikr. Aku santai kok menjalani hidupku yang sekarang. Semua orang pada saatnya akan berubah dengan sendirinya Fikr, tinggal menunggu waktu. Kebetulan saat ini adalah saatku mengalami perubahan." Naura tersenyum getir.
Fikri terdiam, dan dia menoleh ke belakang karena mendengar suara Akbar yang berlari menyusul mereka.
__ADS_1
"Fikri.., Naura..., tunggu dong. Masak aku ke toilet sebentar saja sudah kalian tinggal." gerutu Akbar.
"Ya tidak asyik juga dong, masak kira berdua kamu minta berdiri depan toilet begitu."
"Kamu langsungan pulang bareng sama Fikri atau gimana Bar? Aku naik Ojol saja, karena aku mau pulang ke rumah." kata Naura.
"Aku juga mau pulang. Kan sekalian kita bisa antar kamu pulang ke rumah kan Na? kenapa harus naik Ojol sih."
"Yah, sekarang giliranmu Bar yang ajak Naura. Mulutku sampai berbusa, tetapi dia tetap ngotot naik Ojol."
Naura diam tidak menjawab, dia terus melangkah ke arah pintu lobby.
"Sudah ya, kita berpisah disini saja. Kan aku naik Ojolnya dijemput depan lobby, kalian masih harus ke basement untuk ambil mobil kan."
"Ya sudahlah, ayo Akbar. Tuan putri kita mau naik Abang Ojol." kata Fikri sambil merangkul Akbar.
"Ih kenapa kamu , tidak usah kayak gini. Ini tempat umum tahu. Ntar kita disangka orang pasangan gay." Akbar melepaskan tangan Fikri yang merangkul pundaknya.
Fikri malahan menggoda Akbar, berusaha mencium pipinya sambil berjalan. Dari arah pintu, Naura tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Kemudian dia ijin sama petugas lobby untuk menunggu jemputan Ojol yang dia pesan.
**********************
Setelah berada di dalam mobilnya, Fikri langsung menekan gas dan keluar dari basement.
"Kamu kenapa Fikr, tiba-tiba melaju kayak gini." protes Akbar
"Kita ikuti Naura dulu ya. Aku curiga deh, dia sedang menyembunyikan sesuatu dari kita. Kamu merasa aneh tidak dengan sikapnya akhir-akhir ini."
"Iya sih, tapi aku mencoba untuk menerimanya. Yang penting dia dalam keadaan sehat, kita hanya mengamatinya saja."
"Aku juga nanya sama. Susan dan Iin. Mereka teman cewek saja juga tidak diceritain. Itu lihat depan, Naura lagi naik ke atas motor."
"Iya, ayo langsung kita ikuti saja."
__ADS_1
Akbar dan Fikri yang merasa aneh dengan perubahan dari Naura akhir-akhir ini, mengikuti motor yang dikendarai Ojol.
*********************