
Didampingi Ditya, Naura membuat laporan penculikan dirinya. Dia menceritakan saat dia berada di mall, kemudian mengantarkan Ezaz ke toilet, dan berakhir dengan tertidur di kamar mansion yang ditempati Edward di Tamarama, Sydney. Hal yang mendasari dia tidak berani untuk melaporkan di awal dia sadar, karena dia tidak memiliki ID Card untuk tinggal di negara ini. Mengingat putranya masih sangat kecil, dan peduli dengan masa depan putranya, dia memutuskan saat yang tepat untuk melarikan dirinya.
"Bukk..., bruk.." Ditya menghantam Edward di wajahnya kemudian mengirimkan tendangan ke perut laki-laki yang sudah menculik istri dan putranya itu. Tubuh Edward melayang ke belakang dan menimpa kursi yang langsung ambruk.
"Calm down sir, don't judge yourself!" petugas polisi menenangkan Ditya, dia melarang laki-laki itu main hakim sendiri.
"I will kill that savage man. Let me go!" teriak Ditya berusaha melepaskan pegangan dua orang polisi yang memegangi tubuhnya. Dengan mata merah, Ditya terlihat sangat marah. Dia meminta polisi melepaskannya, dia berniat untuk membunuh Edward. Tetapi Edward malah tersenyum mengejeknya, dia membuang ludah.
"Apakah kamu sadar Ditya, kamu bukan apa-apa dibandingkan aku dalam melindungi Naura. Apakah kamu bisa menjaganya, bisa melindunginya?" tanya Edward.
"****..., aku akan menghancurkan mulutmu!" teriak Ditya, dia terlihat emosi melihat laki-laki itu tidak ketakutan meskipun dia ditangkap oleh polisi.
"Ha...ha..ha.., hanya ucapanmu saja yang besar Ditya. Kamu tidak lebih dari seorang jago kandang, kamu hanya mengandalkan dirimu dengan bantuan pengawalmu. Ha..ha.., dasar laki-laki cemen." Edward terus meremehkan Ditya.
"Shut up, everyone! This is a state of law, everything has its rules. Wait for the investigation to finish!" petugas polisi yang tidak mengetahui bahasa Indonesia, berseru dengan nada tinggi. Dia menghentikan pertengkaran Edward dan Ditya, meminta mereka untuk mentaati aturan di kantor polisi.
"Kak Ditya...," Naura memanggil suaminya. Dia sudah selesai dimintai keterangan oleh pihak kepolisian, dan sudah menanda tangani Berita Acara Pemeriksaan. Tetapi setelah dia menyampaikan keterangan pada polisi, dia juga menyampaikan jika dia hanya mau datang kali ini. Untuk selanjutnya, jika akan meminta keterangannya, diharapkan menghubungi pengacara. Naura sudah trauma dengan negara itu, dia ingin segera pulang ke Indonesia.
"Sudah selesai sayang?" Ditya langsung melunak melihat kedatangan istri yang dia cintai dengan sepenuh hati. Dia langsung memberikan ciuman di bibir Naura, tanpa sedikitpun merasa malu dengan Edward maupun para petugas polisi disitu. Dia sengaja menunjukkan pada Edward bagaimana perasaannya pada Naura, dan bagaimana Naura dengan bebas membalas rasa cintanya itu.
__ADS_1
Naura memandang pad Edward dengan sengit, dia kemudian mendekati laki-laki itu.
"Edward.., sampai kapanpun aku tidak akan dapat menerima rasa sayang dan cintamu padaku. Berhentilah untuk mengejarku, aku sudah memiliki Kak Ditya yang siap menghujani aku dengan rasa sayang dan cinta! Aku juga berharap, kamu akan tersadarkan dengan kejadian ini. Besok aku sudah akan kembali ke Indonesia, dan terima kasih untuk perlakuanmu yang baik terhadap Ezaz, aku menghargainya." Naura kemudian membalikkan badannya, dan dengan segera Ditya merangkul dan membawanya pergi dari ruangan itu.
"Jangan pergi Naura.., jangan tinggalkan aku!! Aku akan memberikan segala yang aku miliki hanya untukmu." teriak Edward, tetapi dengan segera petugas polisi membawanya dan memasukkannya ke penjara. Tetapi Naura dan Ditya tidak menghiraukannya, mereka tetap berjalan keluar dari kantor polisi.
"Kenapa kamu menangis Naura?" tanya Ditya tampak khawatir dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata istrinya.
"Naura hanya kasihan pada anak laki-laki itu kak. Padahal Naura sudah menganggap Edward sebagai saudara, dia selalu menemani dan menghibur Naura saat masih menjadi istri Om Firman. Naura tidak menyangka, dia bisa dan mampu bertindak gila seperti itu." ucap Naura lirih.
"Sudah.., lupakanlah! Apakah kamu juga tidak ingat, kegilaan yang pernah aku lakukan padamu?" tanya Ditya dengan nada lembut, jarinya menghapus air mata Naura. Dengan cepat dia segera menuntun Naura dan masuk ke dalam mobil.
***************
"Maafkan kakak.., Claudi! Mungkin kamu bisa tinggal untuk sementara disini, minta kak Dipta untuk menemani kamu. Aku sudah tidak kuat berada di negara ini, kakak ingin segera pulang ke negara kita." ucap Naura tegas.
"Tapi kak.., kan Edward juga sudah berada di penjara. Dia sudah tidak akan bisa mengganggu kakak lagi kan?" Claudia masih berusaha untuk menahan Naura di kota ini.
"Bukan masalah kakak takut atau tidak pada Edward Claudi, tetapi kakak tidak bisa untuk tetap bertahan disini meskipun hanya satu minggu." sahut Naura.
__ADS_1
"Kamu bisa tidak bertindak mandiri Claudia!! harusnya kamu paham, apa yang sudah dialami kakak dan keponakanmu di kota ini. Bisa-bisanya menahan kakakmu untuk tetap berada di negara ini." terdengar suara keras Ditya menegur Claudia.
"Kenapa kakak marah pada Claudia? Kak Naura saja tidak marah." sahut Claudia berani menjawab Ditya.
"Apa kamu bilang? Coba kamu ulangi sekali lagi!" dengan mata merah, Ditya melotot pada Claudia.
"Ada apa ini, kenapa kamu memarahi Claudi Dity?" tiba-tiba Pradipta datang ke ruang makan, dia kaget mendengar Ditya berbicara keras pada Claudia.
"Kasih tahu Claudi Dipt! Bisa-bisanya dia merayu Naura untuk tetap tinggal di kota ini barang seminggu. Aku hanya minta dia memikirkan psikologis dari istriku, tidak hanya egois memikirkan kepentingannya. Jika dia mau tinggal disini, silakan jangan libatkan Naura." seru Ditya pada Pradipta.
"Sudah kak, tidak perlu jadi ribut seperti ini. Toh, Claudia tadi hanya bercanda." Naura mencoba meredam kemarahan suaminya, dia merangkul suaminya.
Claudia terdiam, dia seperti ketakutan melihat kemarahan kakaknya. Pradipta langsung mendekat dan merangkul Claudia.
"Sudahlan Claudi.., kalau kamu masih ingin berada disini. Kakak akan menemanimu, biarkan Kak Ditya dan Kak Naura pulang ke Indonesia malam ini. Pesawat jet sudah siap untuk mengantarkan mereka." kata Pradipta menenangkan Claudia. Gadis itu jadi menangis terisak, saat Pradipta menghiburnya. Dia juga sama sekali tidak menyangka, saat dia merayu Naura, ternyata kakaknya Ditya mendengar dan malah memarahinya.
Untuk meredakan suasana, Naura langsung mengajak suaminya untuk menata perlengkapan dan masuk ke kamar.
"Kak Ditya.., ayuk Naura bantu packing barang-barang kakak. Jadi selepas maghrib, kita tinggal berangkat ke bandara."
__ADS_1
Akhirnya Ditya mengikuti Naura berjalan masuk ke dalam kamar.
*****************