
"Naura tadi pagi meminta padaku, dia ingin bekerja lagi. Bagaimana pendapatmu Dipt?"
Ditya dan Dipta sedang menikmati kopi bersama di ruang kerja Ditya. Saat tadi Pradipta ke rumah, Ditya tidak enak mau mendiskusikan masalah itu dengan sahabatnya, khawatir jika Istrinya ikut mendengarkan.
"Kalau kamu tanya padaku, sebagai orang luar dan juga pernah menjadi atasan istrimu aku setuju dengan keinginan dia. Sangat disayangkan, potensi yang ada di Naura, terpendam hilang begitu saja. Tetapi karena dia sebagai istrimu, dan juga Mommy dari Ezaz.. mohon maaf Dity., aku tidak bisa berpendapat."
Ditya menghela nafas, kemudian mencecap kopi dari cangkirnya.
"Untuk Ezaz sih, aku yakin tidak akan ada yang berubah padanya. Tetapi yang aku khawatirkan, Naura akan kelelahan sesudahnya. Pagi berangkat, sore pulang... setelah itu masih harus melayani putraku, dan aku juga harus dilayani kan?"
"Nha itu yang harus menjadi pemikiran mu teman..! Apalagi kalau Naura masih menjadi sekretaris ku, kamu tahu sendiri bagaimana banyaknya urusan yang harus aku tangani."
Kedua laki-laki itu tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Setelah beberapa saat,...
"Atau kita ciptakan divisi baru saja di perusahaan ini. Kita ciptakan divisi yang lebih mengutamakan hasil kerja daripada kehadiran sesuai jam kantor." tiba-tiba Ditya memiliki ide baru.
" Maksudmu?"
"Divisi ini sebagai konseptor, draft usulan mereka langsung dimasukkan ke kita. Jika kita okay, langsung kita disposisi kan ke divisi terkait."
"Crash tidak nantinya dengan Divisi research and Development?"
"Yah.., beberapa akan ada irisan kerjaan sih. Tapi nanti divisi ini bisa masuk ke semua konsep. Bisa marketing, bisa production, bahkan bisa juga masuk human resource."
Pradipta diam sejenak, kemudian..
"Okay juga idemu Dity..., nanti coba aku konsepkan dulu. Karena dengan munculnya divisi baru disini, profesional tetap harus kita kedepankan. Lay out penempatan divisi dalam struktur organisasi bagaimanapun juga harus kita pikirkan."
"Bagus..., untuk ruangan kantornya. Jangan lupa dekatkan dengan ruanganku ya!" kata Ditya sambil senyum-senyum.
"Halah.., aku tahu apa yang ada di otakmu Dity. Bisa tidak kamu jauhkan pikiran mesummu itu dari urusan pekerjaan!" protes Pradipta.
"Menikahlah Dipt.., aku yakin kamu akan melebihi aku nantinya. Ha..ha..ha.., apalagi setelah tersalurkan Dipt..., semangat kerjaku akan bertambah."
Pradipta melemparkan bantal kursi ke wajah Ditya yang sedang tertawa ngakak, tetapi dengan sigap Ditya menangkapnya.
"Sudah.., tambah gila aku berada disini denganmu. Aku mau balik ke ruanganku." Pradipta segera keluar dari ruangan bossnya.
__ADS_1
******************
Naura meletakkan majalah yang sedang dibacanya, segera dia mengambil ponsel yang dia letakkan di atas meja. Dia membuka aplikasi WhatsApp, dan dengan dahi berkerut dia melihat ada nomor yang tidak tercatat siapa pemiliknya sedang mengirimi dia pesan.
"Selamat pagi Nauraku..., sedang apakah saat ini?"
"Selamat ya untuk kelahiran baby nya..., semoga menjadi putra yang Sholeh. Aamiin.. dariku yang selalu mencintaimu dan selalu berharap untukmu."
"Miss U babe.."
"Dasar gila .., sok kenal saja."
Tidak mau menimbulkan masalah dengan suaminya, Naura langsung menghapus chat masuk dari nomor yang tidak dikenal itu.
"Non..., ada tamu di luar yang mau ketemu dengan Non. Mau ditemui atau saya minta pulang saja?" penjaga gerbang memberi tahu Naura jika ada tamu yang mencarinya.
"Laki-laki atau perempuan pak?"
"Tiga orang Non, satu perempuan dan yang dua anak laki-laki."
Naura tersenyum dan dia menebak pasti Iin, Akbar dan Fikri yang sedang mencarinya.
"Baik Non."
Naura berdiri dan melihat Ezaz yang masih tidur dengan pulas. Dia masuk ke kamar, dan mengganti baju dasternya dengan baju santai. Setelah itu dia keluar, dan melihat Iin sudah menggendong putranya.
"Hai guys..., tumben ga kasih kabar dulu kalau mau kemari..," Naura menyapa ketiga temannya.
"Iseng saja tadi Na... Kebetulan tadi pas lewat daerah sekitar sini, baru muncul ide untuk mampir ke rumah." jawab Fikri.
"Naura ..., gede sekali rumahmu ternyata. Tadi aku sempat mengintip sih, ternyata ada kolam renang gede juga di belakang." tiba-tiba Akbar berbicara tentang rumah ini.
"Iyakah Bar..? Padahal saat hamil dulu, kak Ditya mengajak pindah kesini karena mau rumah yang lebih kecil. Di rumah yang aku tempati di komplek Srondol jauh lebih besar lagi. Dua kalinya ukuran rumah ini "
"Wow..., betapa menyenangkannya hidupmu Na. Punya suami yang sangat super duper perhatiannya, punya Ezaz yang imutnya, punya banyak rumah lagi." sahut Iin.
"Sudah, sudah .... kok malah jadi membicarakan rumahku.Out of Topic, kalian ini semua sudah lulus kuliah. Kenapa belum pada kerja itu gimana, aku saja pingin kerja lagi,"
__ADS_1
"Aku lanjut S2 Na.., belum boleh kerja kata mama."
"Iyakah? Lanjut dimana Fikr?"
"UNDIP Na.., cari yang dekat saja. Itu Akbar sudah buka usaha dekat kampusku.."
"Ya Tuhan..., berapa bulan sih kita tidak ketemu? Masak aku sudah ketinggalan good news seperti ini. Kalian juga ga kirim kabar-kabar via chat lah atau telpon."
"Maaf Na.. jujur kami itu masih takut dengan suamimu. Pengalaman habis makan soto malah berakhir di kantor polisi dulu itu, betul-betul kami menyadari betapa besar kekuatan suamimu itu." kata Iin.
"Itu masa lalu In.. Inshaa Allah sekarang sudah tidak lagi. Tadi pagi aku juga barusan minta ijin sama Daddy-nya Ezaz, aku ingin kerja lagi. Aku bosen dengan kegiatan monoton seperti ini setiap hari."
"Sudah mendapatkan ijin belum dari suamimu?"
"Belum sih, katanya mau dipikirkan dulu. Atau kamu In, belum bekerja kan? Atau mau kerja di perusahaan suamiku, kalau mau, nanti aku bilang sama kak Pradipta."
"Kok Pradipta, kenapa dipanggil Ditya?"
"Pradipta itu orang nomor dua di perusahaan, dia sahabat kak Ditya. Ada Pradipta biasanya ada kak Ditya juga. "
"Oh iya ., yang gagah pakai batik saat acara aqiqah Ezaz dulu ya?" tanya Iin yang terlihat semangat.
"Itu cowok yang kamu ceritakan padaku itu apa In? Sampai sepanjang perjalanan, telingaku brebeg karena kamu ga henti-hentinya ngoceh tentang dia?" sahut Akbar.
"Ah.. tidak begitu juga Bar. Jangan hiperbola dong ceritanya!"
"Hi..hi..hi.., nanti aku godain kak Dipta ah. Gimana In, kalau kamu mau, nanti aku nitip kamu biar kerja di perusahaan suamiku."
"Iya In..., dari pada setiap hari kamu ngrecokin aku yang sedang di kampus kuliah, terus juga nelpon- nelpon Akbar, mending kerja gih." Fikri ikut menguatkan Iin.
"Ya okaylah, terus aku harus nyiapin apa aja?"
"Biasalah In, buat surat lamaran, terus jangan lupa curriculum vitae, semua kirimkan ke emailku ya!"
"Baik Naura sayang. Segera nanti malam aku kirimkan ke emailku."
Keempat sahabat itu akhirnya bercanda sampai hampir sore di rumah Naura.
__ADS_1
*************