PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Sikapnya yang Dingin


__ADS_3

Selesai kuliah, Naura langsung mencari ojol untuk mengantarnya pulang. Kebetulan hari ini hanya ada satu jadwal kuliah, sehingga dia tidak meninggalkan rumah terlalu lama. Dia tidak akan memanfaatkan waktu luangnya tanpa seijin dari suaminya, karena saat ini dia adalah seorang wanita yang sudah bersuami. Akbar dan Iin menawarinya untuk makan bakso, tetapi dengan halus Naura menolaknya. Dia juga belumĀ  berani bicara jujur terhadap teman-temannya, kalau dia sudah menikah. Makanya cara yang paling aman kali ini yaitu dia pergi meninggalkan teman-temannya.


"Naura, mau kemana? Tidak ikut gabung Iin dan Akbar, sepertinya tadi mereka ajak-ajak makan bakso." seru Fikri yang langsung mendekat ke arah Naura.


"Aku ada acara Fikr. Ini mau langsung pulang, sudah cari ojol." kata Naura sambil tersenyum pada Fikri.


"Memang motormu kemana, kok tumben naik ojol. Ayo dicancel saja ojolnya, aku antarkan kamu pulang. Aku juga tidak join mereka untuk makan bakso kok."


"Tidak perlu Fikr. Aku ada acara lain nih, mau mampir dulu. Tidak langsung pulang ke rumah." Naura menolak tawaran Fikri untuk mengantarnya.


"Tidak apa-apa, aku juga pas longgar kok. Aku temani kamu kemanapun hari ini."


"Waduh sorry banget Fikri. Bukannya aku nolak, tapi please ya. Itu Ojolku sudah datang. Bye Fikri.., laen waktu ya." untungnya ojol yang dipesan Naura sudah datang, sehingga menjadi alasan tepat untuk menolak ajakan Fikri.


"Okaylah, tapi hati-hati ya di jalan. Mas, bawa motornya santai saja ya." Fikri berpesan pada ojol.


'Siap mas. Ini mbak." sahut driver ojol menyerahkan helm.


Fikri menunggui sampai Naura dan ojolnya jalan, baru dia menuju ke mobilnya.


****************************************************


"Bagaimana pa, apakah Firmansyah sudah jadi menutup kewajiban-kewajiban kita?" tanya Novi pada Samsuar suaminya.


"Sudah ma, dia tidak mengingkari apa yang sudah dia janjikan. Semua kewajiban papa sudah dibayar semua lunas oleh Firmansyah."


"Hari ini Naura telpon tidak ma? Papa kok tiba-tiba merasa kangen dengan Naura. Semoga suaminya sedikit-sedikit akhirnya bisa menyayangi putri kita." lanjut Samsuar perlahan.


"Aamiin, mama juga berharap seperti itu pa. Tapi sampai hari ini Naura tidak menelpon atau mengirim chat. Semoga harapan kita jadi kenyataan ya pa."


Keduanya terdiam, dan kembali mengingat wajah putri keduanya yang polos. Naura anak yang pandai, dan juga merupakan seorang aktivis di kampus. Sangat disayangkan, karena dia harus mengorbankan dirinya dengan menikah dengan teman dari mama dan papanya. Tanpa disadari ada air mata mengalir dari pipi Novi, saat mengingat putri keduanya.

__ADS_1


"Sudahlah ma, kita berdoa saja. Semoga Firmansyah menganggapnya sebagai istri yang baik. Dia tidak menyia-nyiakan putri kita." kata Samsuar berusaha menenangkan istrinya.


Novi menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Kemudian dia mengisi waktu dengan membuat teh panas melalui dispenser yang ada di pojok ruangan suaminya.


"Papa mau minum teh panas atau kopi? Sekalian Novi buatkan sekalian."


"Papa buatkan teh panas saja. Gulanya sedikit saja ya."


Tidak berapa lama, teh panas yang dibuat Novi sudah diletakkan di meja depan Samsuar. Novi mengambil toples yang berisi biskuit dan menaruhnya di dekat teh panas.


"Untuk mengganjal perut, pakai biskuit dulu ya pa. Mama tadi tidak sempat membawa bekal makan siang."


"Yah, tidak apa-apa mah. Papa apa pernah protes terkait makanan. Apa yang mama sajikan di depan papa, itu yang papa nikmati.


****************************************************


Firmansyah memasuki halaman rumah, kemudian menghentikan mobilnya tidak di garasi. Ujang langsung menghampiri Tuannya, kemudian mengambil tas yang dibawa Firmansyah, kemudian membawanya masuk ke dalam rumah.


"Kok mobilnya tidak ditaruh di garasi Tuan, apakah Tuan akan pergi lagi?" tanya Ujang.


"Naura ada dimana? Tadi dia ada di rumah saja, atau jadi pergi berangkat kuliah?"


"Sekarang mungkin ada di kamar Tuan. Apakah Tuan mau ketemu, bisa Ujang panggilkan. Tadi sempat keluar rumah, waktu Ujang tanya katanya mau kuliah. Tapi tidak sampai empat jam, Non Naura sudah pulang lagi kok Tuan."


"Biarkan saja dia di kamar."


"Baik Tuan."


Melewati kamar tamu, Firmansyah melihat jika pintu kamar ditutup. Dia tidak mengatakan apapun, tetap berjalan belok ke kiri menuju kamarnya sendiri.Ujang sedikitpun tidak berbicara apapun, dia hanya berjalan mengikuti Tuannya, dan setelah sampai di kamar, Ujang menaruh tas Tuannya di atas meja.


"Ada yang Ujang bisa bantu lagi Tuan? Jika tidak ada, Ujang akan kembali ke depan."

__ADS_1


'Tidak perlu, cukup." kata Firmansyah singkat.


Dia langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tidak berapa lama, dia sudah keluar dari kamar mandi, kemudian langsung mengganti bajunya, dia berjanji akan menemani Santi jalan-jalan ke mall. Membuatnya senang dengan berbelanja barang-barang branded sudah cukup untuk membungkam mulut Santi.


Firmansyah kemudian keluar dari dalam kamar, dan berniat menunggu adzan Maghrib berkumandang, dia baru akan keluar rumah. Melewati kamar tempat Naura berada, dia meliriknya sekilas dan melihat jika pintu kamar masih tertutup.


"Bi..Bi Ijah, buatkan teh manis panas." teriak Firmansyah memanggil Bi Ijah.


"Iya Tuan." seru Bi Ijah dari dapur.


Kemudian Firmansyah mengambil remote televisi kemudian menyalakannya. Sedangkan Naura, mendengar teriakan Firmansyah memanggil Bi Ijah, dia segera keluar dari dalam kamar. Dia langsung menuju dapur dan menghampiri Bibi Ijah yang sedang menyeduh teh.


"Saya saja yang buat Bi. Bibi lanjutkan pekerjaan yang lainnya." kata Naura.


"Baik Non, terima kasih ya. Bibi baru melipat dan menyetrika baju, kalau begitu Bibi akan lanjutkan kerjaan ya Non."


"Iya Bi, tidak apa-apa." kata Naura sambil mengangkat cangkir yang berisi teh panas ke ruang keluarga.


'Ini Om, tehnya. Sekarang Om pingin apalagi, biar Naura ambilkan."


"Cukup." jawab Firmansyah singkat tanpa melihat ke arah Naura.


Melihat sikap suaminya yang dingin, Naura kemudian menyingkir dan duduk di meja makan. Setelah duduk untuk beberapa saat, dia berdiri dan menghampiri Bi Ijah yang sedang menyetrika pakaian.


"Non Naura yang sabar ya. Tuan Firmansyah itu sebenarnya baik kok, cuma yah, karena baru satu hari kan Non ada disini, jadi belum bisa ada chemistry dengan Tuan." kata Bi Ijah yang seperti tidak tega melihat Naura dicuekin sama Tuannya.


"Tidak apa-apa kok Bi. Naura sabar kok, Om Firmans sudah menerima Naura disini saja, Naura sudah merasa senang sekali kok. Yang penting Naura masih bisa melanjutkan kuliah sampai lulus Bi."


"Iya Non, Bibi ikut mendoakan agar kuliah Non cepat selesai. Dan Non bisa mencapai apa yang sudah dicita-citakan Non dari kecil."


"Terima kasih ya Bi untuk doanya. Aamiin."

__ADS_1


Naura menemani Bibi Ijah menyeterika pakaian di dalam kamarnya. Sesekali sebagai orang tua, Bi Ijah memberikan nasehat untuk Naura. Dan sebagai anak penurut, Naura mendengarkan apa yang dikatakan Bi Ijah tanpa membantah.


*************************************************************


__ADS_2