
"Miss, this morning I met an Indonesian in front of the house. The person is friendly, and it looks like he has just come to this city." maid yang tadi bertemu Pradipta, menceritakan pada Naura jika ketemu dengan orang Indonesia.
Naura melihat ke arah maid tersebut, dalam hatinya tiba-tiba seperti berdesir. Ada setitik harapan jika orang yang ditemui pelayan itu adalah Ditya suaminya. Ada rasa rindu yang membuncah untuk suaminya itu, yang saat mereka bersama, dia jarang mengekspresikan atau menunjukkan padanya. Tidak tahu mengapa, hari-hari terakhir ini dia selalu bermimpi memeluk erat suaminya itu.
"Did I speak wrong.. Miss?? Why is Miss so daydreaming?" maid tampak khawatir, Naura malah melamun setelah dia bercerita.
Naura tersentak mendengar kekhawatiran maid tersebut, dia kemudian tersenyum dan melihat ke mata maid itu.
"Oh no, I'm reminded of my country. I really miss it." Naura menenangkan maid, dia hanya bilang jika dia merindukan negara asalnya.
Mendengar jawaban Naura, maid itu merasa lega. Dia kemudian ijin untuk melanjutkan aktivitasnya yang lain.
"Wait a minute, Laura... at what time did you meet the Indonesian? I want to meet him too." Naura menanyakan jam berapa bisa menemui orang Indonesia itu.
"Tomorrow morning, Miss can follow me. This morning around 05.30." maid mengatakan jam 05.30 tadi pagi dia ketemu dengan laki-laki itu.
"Okay.., thanks for your information Laura." setelah berterima kasih, Naura kemudian mencari Ezaz di ruang bermain.
Di ruang bermain, tampak Ezaz lagi utak utik mainan kereta ditemani maid laki-laki. Dengan sabar pelayan itu menemani dan mengajarkan pada Ezaz cara memainkan keretanya.
Naura tersenyum, dan ada kehangatan jika melihat kebahagiaan putranya. Ezaz tiba-tiba menoleh ke arah pintu, dan melihat Mommy nya.
"Mommy..., ayok kesini. Temani Zaz main mini train." Ezaz berlari menuju ke depan pintu, kemudian menarik Naura masuk.
"Iya sayang..., tapi tidak lama-lama ya. Sudah waktunya makan siang. Ezaz harus makan siang dan istirahat." dengan suara pelan, Naura menasehati Ezaz.
Dia berjalan masuk ke dalam ruangan, kemudian memerintahkan pada pelayan untuk meninggalkan tempat itu. Karena saat dia berinteraksi dengan putranya, dia tidak ingin ada orang lain juga berada disitu.
"Go back to where you work. I'll be waiting for Ezaz to play!"ucap Naura meminta pelayan kembali ke tempat bekerjanya.
"Okay Miss..., I'm going back to the back house." pelayan itu segera kembali ke rumah belakang. Rumah bagian belakang di mansion Edward, memang digunakan untuk basecamp tempat beristirahat para pelayan di rumah ini.
__ADS_1
"Momm..., bus Tayo Ezaz rusak. Tidak bisa berjalan lagi." Ezaz mengambil mainan bus Tayo, kemudian memberikannya pada Naura.
Naura mengambil dari Ezaz, kemudian memeriksanya. Dia tersenyum..
"Ezaz..., coba ambil baterai kecil di laci meja itu!" Naura meminta Ezaz untuk mengambilnya baterai.
Ezaz langsung berdiri, kemudian segera mengambil baterai kecil sesuai perintah Mommy nya.
"Ini Momm?" Ezaz menunjukkan dua buah baterai.
Naura menganggukkan kepala, Ezaz langsung memberikan baterai pada Mommy nya. Setelah mengganti batu baterainya, Naura menekan tombol yang ada di bawah mainan bus Tayo. Terdengar suara mesin berputar.
"Wow.. mommy hebat. Thanks Momm.." Ezaz tampak kegirangan karena mainan-mainan sudah berfungsi kembali.
"Asyik sekali.., kenapa Uncle tidak diajak ikut bermain?" tiba-tiba terdengar suara Edward dari arah pintu.
"Uncle .." Ezaz langsung berlari ke arah pintu, kemudian memeluk Edward di kedua kakinya. Tangan Kecilnya menarik tangan Edward dan mengajaknya masuk.ke dalam.
"Hmm." jawab Naura singkat. Dia langsung menggeser tempat duduknya, saat Edward duduk di sampingnya.
"Uncle..., mommy hebat. Tadi bus Tayo Ezaz rusak, eh dibetulkan Mommy.. sekarang sudah bisa jalan." cerita Ezaz pada Edward.
Edward tersenyum sambil memandang Naura.
"Lho Ezaz baru tahu ya, kalau mommy ini orang hebat. Pokoknya sip." ucap Edward sambil mengangkat dua jempol tangannya.
**********
Malam hari Ditya bersama Pradipta dan Claudia sedang makan malam. Seharian mereka hanya berada di rumah, tidak pergi kemanapun. Claudia masih mengalami jetlag, karena sudah lama tidak melakukan perjalanan jauh.
"Kak Dipta..., jalan yukk ke pantai. Mumpung kita sudah sampai di sini!" Claudia mengajak Pradipta jalan.
__ADS_1
Pradipta menghentikan makannya, kemudian melihat ke arah gadis itu.
"Kita akan berada di kota ini untuk waktu yang lama Claud. Tidak harus malam ini, karena habis makan. ada yang mau aku bicarakan dengan Ditya. Atau besok pagi, di belakang mansion ada pintu penghubung kalau mau ke pantai." jawab Pradipta sambil tersenyum.
"Tapi pinginnya ke pantai malam, biar ga panas." Claudia ngotot ingin kesana malam ini.
"Ya udah, habis makan aku temani jalan ke pantai. Ditya.., mau ikut kami?" tanya Pradipta pada sahabatnya.
Ditya tidak menjawab, hanya mengangkat dua bahunya ke atas.
"Aku dah selesai makannya kak. Ayok jalan sekarang," Claudia langsung berdiri dan menarik tangan Pradipta.
Pradipta langsung berdiri dan melihat ke arah Ditya, tapi laki-laki itu betul-betul tidak tertarik.
"Ya sudah aku jalan dulu sama Claudia. Aku harap kamu menungguku, ada yang akan aku bicarakan denganmu." Pradipta menepuk pundak Ditya kemudian dengan menggandeng tangan Claudia mereka menuju ke pintu belakang.
*********
"Sekarang pas purnama ya kak, tuh lihat! Bulannya bulat penuh." ucap Claudia sambil menunjuk ke arah atas.
"Besok Malam purnamanya, sekarang masih tanggal 14. Kamu kedinginan tidak, kalau dingin kakak Carikan minuman panas." jawab Pradipta, karena merasa dari tadi Claudia memeluk lengannya erat dan menyandarkan kepalanya di samping bahunya.
Orang yang tidak tahu, akan melihat mereka berdua seperti pasangan. Angin yang berhembus di pinggir pantai malam ini memang lumayan kencang, dan pelukan Claudia mengalirkan rasa hangat ke tubuh Pradipta. Tapi rasa hangat itu menjadikan nafasnya menjadi terburu dan sedikit sesak. Pradipta mencoba menghirup nafas dalam, kemudian mengeluarkannya kembali untuk mengendalikan diri.
"Kak Dipta kenapa? Claudia tidak ingin minum, tubuh kakak' sudah hangat. Memeluk kakak sudah menghangatkan tubuh Claudia." ucap Claudia yang semakin memporak-porandakan hati laki-laki itu.
Pradipta menoleh ke arah wajah Claudia, ternyata gadis itu kebetulan juga sedang menengadahkan wajahnya ke atas. Fokus penglihatan Pradipta pada bibir merah mungil di bawahnya. Seperti ada yang menggerakkan, Pradipta menurunkan wajahnya, kemudian dengan cepat bibirnya menyergap bibir mungil Claudia. Seperti terkena sengatan listrik, Claudia membuka bibirnya. Terjadilah pagutan manis saling membelit Lidah masing-masing di pinggiran pantai.
"Claudia..., bibirmu manis sayang. bisik pelan Pradipta di telinga Claudia.
***********
__ADS_1