PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Suami?


__ADS_3

"Naura, hanya kali ini saja kamu boleh makan di tempat ini! Besok tidak boleh lagi, kamu lihat ini! Banyak lemak dan daun-daunan di mangkok. Tidak hygienis." Ditya hanya melihat Naura dan Dipta makan. Yang dia lakukan kali ini, persis seperti petugas BPOM sedang melakukan tugas pengecekan di lapangan.


Naura dan Dipta mengabaikan perkataan DItya, mereka tetap asyik menikmati mangkok soto beserta gorengan di depannya. Tetapi Ditya sangat senang, karena baru kali ini melihat Naura makan dengan demikian lahapnya tanpa bicara. Selama mereka tinggal bersama, Naura selalu terlihat tidak memiliki ***** makan, dan tidak pernah makan selahap itu.


"Kamu kenapa DIty, tidak mau makan? Awas saja, kalau habis ini mengajakku keluar untuk makan siang. Ogah, aku dah kenyang makan soto ini. Naura.., besok kalau ada rekomendasi tempat makan siang, ajak aku ya. Ternyata nikmat soto ini!" ucap Pradipta sambil minum es jeruk.


Naura tersenyum kemudian melirik Boss Ditya yang duduk di depannya. Kemudian, tidak tahu kenapa tiba-tiba muncul keisengan di dirinya. Dia mengambil sendok dari mangkok Ditya, kemudian mengambil satu sendok dan menyuapkan ke mulut laki-laki yang ada di sampingnya itu. Para pengunjung membelalakkan mata, melihat keberanian gadis itu.


"Apa ini Naura, ogah!" seru Ditya menolak suapan itu.


Tetapi Naura tetap memaksakan meletakkan sendok di bibir Ditya. Dipta menutup mulutnya sambil tertawa, kemudian mengambil kamera ponsel dan mengambil gambar ekspresi Ditya yang sedang dipaksa Naura untuk membuka mulutnya. Ditya melihat sebentar ke mata Naura, tetapi melihat ada seberkas kebahagiaan di gadis itu, akhirnya dia membuka mulutnya. Baru hari ini, di warung soto depan gedung perusahaan dia bisa melihat senyum bahagia terbit dari mulut gadis itu. Dan setelah dia mengunyah, DItya baru merasakan ternyata enak. Setelah dia menelannya, dia kembali membuka mulutnya. Tetapi Naura sudah melepaskan sendoknya kembali ke mangkok.


"Ha..ha..ha.., ngarep kamu Dity, minta disuapin sampai habiskah? Ya udah, aku panggilkan pak Kardi ya." ledek Dipta, yang langsung dipelototin sama Ditya.


"Sayang, suapin lagi dong!" Ditya meminta pada Naura dengan panggilan sayang, dia tidak mempedulikan lingkungan sekelilingnya, bahkan langsung memegang tangan Naura dan mengarahkan pada sendok. Para pengunjung terkejut mendengar panggilan sayang untuk Naura, yang akhirnya mereka jadi berbisik-bisik. Dipta hanya tersenyum melihatnya.


Akhirnya dengan terpaksa dan muka cemberut, Naura menyuapi laki-laki itu sampai nasi di mangkoknya habis. Sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya, sedangkan Ditya tersenyum puas.


"Kamu kalau cemberut, membuat bibirmu tambah seksi sayang. Aku jadi gemes pingin...," bisik Ditya di telinga Naura, tetapi langsung mendapatkan pelototan gadis itu.


Naura langsung berdiri, dan akan membereskan pembayaran. Tetapi Dipta langsung memanggil pemilik warung.


"Iya Pak Boss, sudah ya?"


"Hitung semua yang dimakan para karyawan saya siang ini. Saya yang akan mentraktir mereka semua!"


"Siap Pak Boss, terima kasih!"


Para karyawan mereka yang ikut makan siang. mengucapkan terima kasih pada Dipta. Saat Naura akan berjalan menghampiri Bambang, tangannya langsung ditahan sama Ditya.


"Bambang.., kamu balik kantor duluan! Selesaikan surat-surat yang tadi aku minta!" Ditya langsung meminta Bambang untuk balik duluan.


"Siap pak!" sambil memandang Naura, akhirnya Bambang berjalan bersama-sama dengan para karyawan lainnya.

__ADS_1


"Kak Ditya, tolong jangan seperti ini dong! Pahami Naura dong, ini lingkungan perusahaan. Hindarkan gosip menerpaku." kata Naura menolak saat tangan Ditya merangkulnya sambil berjalan memasuki perusahaan. Dipta menyenggol lengan Ditya, akhirnya Ditya melepaskan tangannya.


 


 


************************************


 


 


Pradipta sangat senang hari ini, karena beberapa pekerjaan yang selama ini mengalami delay karena konsep yang dibuatkan anak buahnya tidak pernah benar, dengan masuknya Naura ke tempat kerja dengan cepat diselesaikan oleh gadis itu. Hanya untuk makan siang saja, Naura bisa merasakan istirahat. Bahkan beberapa kali panggilan dari Ditya dia abaikan. Aditya mengajaknya pulang, karena berpikir jika gadis itu baru saja sembuh dari sakitnya, dan mengingat jika saat ini dia sedang hamil putranya.


"Naura.., kamu mengerjakan apa saja sih? Dari tadi aku telpon, tidak satupun yang kamu angkat." tiba-tiba Ditya sudah berdiri di depannya.


Naura yang sedang fokus di depan screen komputer, menengadahkan wajahnya.


"Memang saat kamu cuti, karyawan yang menggantikanmu tidak membuat folder file dengan benar?"


"Sudah kak, Naura hanya merapikan saja kok. Dan juga banyak tawaran perusahaan yang belum selesai draftnya, jadi sekalian Naura buatkan tadi. Ada apa Kak, jam kerja melakukan panggilan?"


"Pakai nanya lagi. Ingat, kamu itu sedang hamil. Jangan bekerja dan berpikir terlalu keras, kasihan putraku harus ikut pusing memikirkan pekerjaan." kata Ditya dengan nada tinggi.


Naura kaget, karena dia tidak mau menjadi objek perbincangan di kantor ini.


"Kak Ditya, tolong jangan keras-keras dong! Semua karyawan bisa mendengar bicara Bapak."


Tiba-tiba pintu ruang kerja Dipta dibuka dari dalam, dan laki-laki itu langsung keluar dari ruangannya.


"Ada Boss Besar to disini? Makanya terdengar berisik dari dalam. Ada apa Boss, masih jam 14.30 sudah datang mengganggu sekretarisku kerja?" tanya Pradipta sarkasme.


"Mohon maaf sebelumnya, apakah tidak lebih baik jika Bapak-bapak berdua bicaranya di dalam ruangan saja! Karena malu kalau terdengar para karyawan lainnya, mereka bisa terganggu konsentrasinnya." khawatir menimbulkan kecurigaan teman-temannya, Naura meminta kedua Bossnya itu bicara di dalam ruangan.

__ADS_1


Tanpa mengulang dua kali, Pradipta langsung kembali masuk ke ruangannya. Ditya melihat Naura sebentar, kemudian mengikuti wakilnya itu masuk. Naura mengambil nafas lega, kemudian melanjutkan kesibukannya. Dia melihat beberapa karyawan mengintip dari pintu ruang kerjanya, tetapi Naura pura-pura tidak melihatnya.


"Naura, ke ruangan saya sebentar ya!" tiba-tiba Pradipta memanggilnya.


Naura segera masuk ke dalam ruangan, dan melihat Ditya sedang duduk santai di atas sofa.


"Ada apa pak DIpta?"


"Buatkan kopi ya untuk sang pendamping hatimu, Boss Besar kita Aditya Herlambang! Aku juga mau sih, he..he..he.."


"Baik pak."


Dengan cekatan, Naura membuat dua cangkir kopi panas, kemudian meletakkannya di atas meja sofa. Saat dia mau kembali ke ruangannya, tangan Ditya dengan cepat menariknya dan mendudukannya di atas pangkuannya.


"Kak, tolong jangan begini sama Naura! Ini kantor kak." Naura langsung bangun, dan duduk disamping DItya.


"Ajari suamimu itu etika perkantoran Naura, biar tahu dia, mana yang boleh dan mana yang tidak!" seru Dipta sambil tertawa.


"Suami??? Tolong Pak Dipta, bapak juga tidak boleh asal bicara!" sahut Naura sewot.


"Ups.., sorry Naura. Jangan marah dong, bisa-bisa aku dirajam sama laki-laki yang duduk di sebelahmu itu!"


"Dipt.., mulai besok kamu pakai Bambang ya! Naura jadi sekretarisku, kamu terlalu memaksakan banyak pekerjaan untuknya." tiba-tiba Ditya berbicara dan mengejutkan Dipta.


"Eits.., tolong jangan seenaknya dulu Boss! Tidak semudah itu main ganti karyawan seenaknya, tanpa kooordinasi, aku tidak setuju."


Mendengar itu Naura langsung berdiri meninggalkan ruangan Pradipta.


 


 


*************************************

__ADS_1


__ADS_2