PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Suasana Hotel


__ADS_3

Melihat Ezaz sudah tidur, Ditya langsung mengangkat dan memindahkan Ezaz ke kamar untuk anak. Setelah menyelimuti putranya, dia kembali ke kamar utama, perlahan dia menutup pintu kamar tetapi tidak menguncinya. Sambil tersenyum smirk, dia menunggu Naura keluar dari kamar mandi. Tidak berapa lama, pintu kamar mandi terbuka.


"Ezaz mana Dadd.., sudah dipindahkan ke kamar sebelah apa?" Naura menanyakan Ezaz.


"Hmm.., jangan khawatir putra kita sudah tertidur dari tadi. Dia juga dalam keadaan kenyang, jadi tidak perlu khawatir dia akan terbangun dalam waktu cepat." jawab Ditya sambil tersenyum penuh makna. Dia kemudian berdiri mendatangi istrinya.


"Sudah dihalangi bantal belum, Mommy khawatir nanti tidurnya Ezaz lasak. Bisa terguling dari bed nanti." Naura mengingatkan.


"Sudah.., kan Daddy sudah bilang, tidak perlu khawatir dengan Ezaz. Aman.." sahut Ditya yang langsung mengjampiri dan meletakkan kedua tangan di pundak Naura.


Naura tersenyum malu, pipinya langsung memerah melihat sikap suaminya yang tanpa malu-malu langsung memeluknya. Hidung Ditya mencium pucuk kepala istrinya, dan dengan lembut ciuman itu turun ke bawah dan berakhir dengan memberikan kecupan basah di leher Naura.


"Tidak perlu malu sayang, kita kan sudah lama menjadi suami istri. Kasihan Ezaz sendiri, dia ingin adik perempuan tuh." bisik Ditya di telinga Naura, dan tiupan lembut di telinga istrinya menjadikan seluruh tubuh Naura menjadi merinding.


Suasana yang sangat hening di hotel itu menjadi daya dukung bagi dua insan pasangan suami istri itu. Naura menggantungkan kedua tangannya di leher Ditya, keduanya saling memagut di bawah lampu temaram. Tanpa bosan, Ditya mereguk manis bibir Naura, dan begitupun Naura merasakan hal yang sama. Perlahan, dengan penuh kelembutan, Ditya memperlakukan Naura seperti seorang putri. Tanpa tergesa-gesa, dia menikmati setiap jengkal bagian tubuh istrinya.


"Malam ini kita mau berapa ronde sayang?" tanya Ditya menggoda Naura.


Naura tidak menjawab pertanyaan Ditya, dia memberikan ciuman lembut di telinga Ditya dan saat sampai di leher bagian bawah, tanpa ampun Naura memberikan kiss mark disana. Tetapi bukannya menjerit kesakitan, Ditya malah menikmati sentuhan Naura itu dengan penuh perasaan.


"Uhhh.., kak Ditya.." terlolos erangan dan lenguhan dari bibir Naura, yang merasakan lembutnya bibir Ditya mengikis setiap bagian dari tubuhnya.


Ditya tersenyum smirk, tangannya langsung melepaskan semua benang yang menutup tubuh istrinya. Naura terengah-engah, dia merasakan tubuhnya melayang dan bergetar hebat. Tangannya membelit pinggang suaminya, dan tanpa berhenti Ditya terus memberi serangan kenikmatan pada istrinya.


"Kak.., ayolah.." merasa tidak kuat menahan gempuran suaminya, dengan terbata Naura mengajak DItya untuk cepat memberinya lebih. Tetapi Ditya malah tersenyum, pura-pura tidak mendengar ajakan Naura.


"Aaakh.. kak.. uuhhh.." kembali de***sahan terlontar dari mulut Naura.


Melihat istrinya yang tampak kelelahan menahan serangannya dari tadi, Ditya langsung mengangkat tubuh Naura kemudian membaringkannya diatas ranjang. Di atas ranjang, Ditya kembali mengikis setiap kulit istrinya dengan menggunakan bibir dan tangannya. Tubuh Naura menggelinjang hebat, dia sudah tidak dapat menahan lenguhan dan de**sahan yang terus keluar dari bibirnya.


Akhirnya perjuangan panjang antara dua orang itu diakhiri Ditya dengan melakukan penyatuan bersama. Setelah beberapa saat, Naura masih merasakan lemas dan memejamkan matanya. Dengan penuh kelembutan dan senyum manis, sebuah kecupan dihadiahkan Ditya di kening istrinya.


 


*************


Pagi hari, Naura bersama Ditya dan Ezaz berjalan-jalan di areal hotel. Karena letak hotel di atas bukit, suasana sekitar masih diselimuti kabut, dan sekitar tiga kilometer dari hotel mereka dapat menyaksikan keindahan siluet candi Borobudur dengan jelas. Mereka segera berjalan ke restoran yang menghadap ke sawah, yang semakin menambah pesona etnik Indonesia.

__ADS_1


"Oatmeal Momm.., tadi Daddy campur dengan susu dan air gula aren. Bisa untuk sarapan Ezaz." Ditya memberikan mangkuk pada Naura.


"Makasih.., Dadd.. jika ada pancake, Mommy minta tolong diambilkan ya! Pakai sirup maple saja, bukan madu." sambil menerima mangkok, Naura kemudian menyuapi Ezaz.


Ditya kemudian pergi mengambilkan permintaan istrinya. Tidak lama kemudian, Ditya sudah membawa piring kecil berisi 5 potong pancake, dan cangkir berisi teh panas. Setelah duduk, Ditya memotong-motong pancake, kemudian menusuknya dengan garpu dan menyuapkan pada istrinya. Beberapa pengunjung di restaurant tersenyum iri melihat keintiman mereka, dimana Naura menyuapi Ezaz, dan Ditya menyuapi Naura. Tetapi seperti biasanya, Ditya selalu bersikap cuek dengan keadaan yang ada di sekitarnya.


"Habis sarapan, mau jalan kemana Momm?" tanya Ditya di sela-sela kesibukannya menyuapi Naura.


"Kemana ya Dadd, tapi rasanya malas, pingin istirahat saja disini. Lagian di dalam hotel saja, kita bisa mengenalkan lingkungan alam pada Ezaz." sahut Naura.


"Iya juga sih, setelah capai bermain langsung masuk kamar. Begitu Ezaz tidur, kita mulai lagi.." kata Ditya sambil senyum-senyum.


Naura memandang ke mata suaminya, dia tidak tahu apa yang dimaksud oleh suaminya.


"Mulai lagi.., apanya yang dimulai Dadd? Mommy tidak paham." tanya Naura bingung.


"Mulai mengirimkan serangan lagi pada Mommy. Seperti semalam, kamar hanya milik kita berdua." sahut Ditya tanpa rasa bersalah.


"Aduh.., kok nyubit sih momm." teriak Ditya memprotes Naura yang memberikan cubitan di perutnya.


"He.., he.., he.., Ezaz belum tahu. Tidak perlu khawatir berlebihan." bisik Ditya di telinga istrinya. Khawatir dicubit lagi sama Naura, Ditya kemudian berdiri dan kembali mengambilkan makanan untuk Naura.


"Hi... your son is very cute. What's his name?" tiba-tiba ada pasangan istri bule menghampiri Naura dan Ezaz. Bule yang perempuan memegang pipi Ezaz dengan gemas.


"Thank you. My son's name is Ezaz." Naura menyebutkan nama Ezaz.


"Are you from Indonesia? We are happy to see your happiness." pasangan suami istri itu menyampaikan rasa senang melihat kebahagiaan Naura dan keluarga.


"Thank you, yes we are from Indonesia, from the city of Semarang." Naura mengatakan berasal dari Indonesia dengan kota asal dari Semarang.


"Okay.., nice to meet you." pasangan itu kemudian berpamitan pada Naura.


"Okay.., you wellcome." sahut Naura membalas salam pasangan tersebut.


Dia kembali melanjutkan menyuapi Ezaz, dan tidak lama Ditya kembali membawakan salad buah untuk mereka nikmati. Setelah menikmati sarapan pagi, Ditya mengajak Naura dan Ezaz bermain di pinggir sawah. Sawah yang ada di sekitar hotel tersebut memang dikelola untuk mengenalkan pada para tamu hotel, tentang kearifan lokal. Sehingga penggarapan sawah, masih menggunakan cara-cara tradisional. Dengan sabar, Ditya menemani Ezaz bermain tanah di kebun jagung, sedangkan Naura hanya melihat keduanya sambil duduk di kursi kayu.


 

__ADS_1


 


 


**********************


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2