PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Hilang Kendali


__ADS_3

Hari berganti minggu sudah terlewati, terlihat di pojokan club mewah di kota ini penampilan Ditya terlihat sangat kacau. Sebagai seorang pengusaha muda, dia sudah tidak dikenali malam ini. Tubuhnya semakin kurus dan tidak terurus dengan rambut yang sudah lumayan panjang, dan rambut yang juga sudah banyak tumbuh di wajahnya. Banyak botol kosong tergeletak di atas meja tempatnya duduk mengusir kesunyian merindukan istri dan putranya. Pradipta dengan setia menemaninya, berkali-kali dia sudah mencoba mengingatkan sahabatnya itu, tetapi Ditya hanya diam dan terus menuangkan minuman keras ke atas slokinya.


"Hari sudah hampir pagi Dity.., ayo aku antar kamu pulang." Pradipta mengajak sahabatnya itu untuk segera meninggalkan club itu.


"Ha..ha..ha.., aku tidak akan pulang.. Aku masih ingin berada disini, tuh.. ada Naura dan Ezaz yang sedang menungguku disana." Ditya tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk di atas langit-langit ruangan itu.


"Kamu sudah mabuk Dity..., ingat kesehatanmu. Naura dan Ezaz akan marah, jika mereka pulang dan melihatmu dalam kondisi seperti ini." dengan terpaksa Pradipta menggunakan nama istri dan putra untuk membujuk laki-laki itu.


"Mana Dipt.., dimana Nauraku??? Katakan..., jangan ambil Nauraku.. jangan. Hiks..hiks..hiks.." seperti orang gila, Ditya yang semula tertawa terbahak-bahak menjadi menangis sedih, saat teringat istri dan putranya. Melihat kondisi seperti itu, Pradipta hanya bisa mengambil nafas panjang. Dia tahu dengan pasti bagaimana Ditya sahabatnya itu sudah menyatu dengan Naura. Tetapi berbagai upaya sudah mereka tempuh, ternyata tidak ada sedikitpun berita atau informasi mengenai gadis itu.


"Makanya ayo kita pulang Ditya..., kita pulang sekarang, Siapa tahu Naura dan Ezaz sudah menunggumu di rumah saat ini."


"Benar ya.., Naura dan Ezaz sudah menungguku ya. Ayo kita pulang.." akhirnya dengan menggunakan nama Naura dan Ezaz, Pradipta bisa membujuk Ditya untuk pulang kembali ke rumah. Meskipun begitu Ditya bangun dari kesadarannya, sering akan mengamuk karena tidak menemukan istri dan putranya. Tetapi dalam kondisi seperti ini, memang berada di rumah dan kamar sendiri merupakan tempat yang paling tepat.


Mendengar jawaban Ditya yang sudah mulai melemah, Pradipta melambaikan tangan dan memanggil dua bodyguard yang selalu ditugaskan mengawal Ditya kemanapun dia pergi. Dua bodyguard segera mendatangi tempat dimana Pradipta berdiri.


"Gimana Tuan Dipta.., apakah kita pulang sekarang?" bodyguard bertanya pada Pradipta.


"Yupz.., langsung masukkan ke dalam mobil. Kita langsung bawa pulang Tuan Ditya ke rumahnya." perintah Pradipta cepat, kemudian dia menghubungi sopir untuk segera menyiapkan mobil di depan pintu lobby.


Dua bodyguard langsung memapah Ditya keluar dari club, tetapi melihat tubuhnya yang semakin lemah dan mulai kehilangan kesadaran, akhirnya keduanya mengangkat Ditya dan langsung menuju ke lobby club. Hal semacam ini sering mereka alami akhir-akhir ini. Bahkan Prasetyo Pangestu dan istrinya juga mengetahui apa yang dialami oleh putranya, tetapi karena tidak ada yang dapat mereka lakukan akhirnya mereka membiarkan. Memastikan Ditya dalam keadaan aman dengan selalu mengirimkan bodyguard untuk menemani merupakan cara yang dapat mereka berikan.

__ADS_1


"Aku akan mengikuti mobil kalian dari belakang, karena malam ini aku bawa mobil sendiri! Bawa langsung ke rumah!" kata Pradipta cepat, kemudian dengan cepat dia masuk di belakang kemudi mobilnya. Dua mobil mewah akhirnya meninggalkan club dan membelah kesunyian malam di kota ini.


 


 


**************


 


Di tempat lain, di salah satu Wilayah Sydney.


"Uncle.., bawa bolanya kesini Uncle!" tampak Ezaz sedang berlari-lari mengejar bola yang saat ini dibawa Edward. Dengan sabar dan penuh sikap kebapakan, Edward dengan telaten selalu menemani main Ezaz di sela-sela kesibukannya mengurus perusahaan.


"Ezazzz... tangkap bolanya sayang! Uncle akan melemparkan bola padamu." Edward berteriak memanggil Ezaz.


"Sini.., lempar sini Uncle..!" Ezaz meminta Edward untuk melemparkan bola padanya.


"Brukk.. aawww." terdengar lengkingan suara Ezaz, karena saat berlari dia tersandung dengan selang air yang ada di taman itu.


"Ezaazzz." teriak Naura sambil berlari menghampiri putranya.

__ADS_1


"Ezaz ga pa pa sayang?? Putra Mommy dan Daddy kan jagoan tangguh.." Naura mengusap tanah yang menempel di lutut Ezaz, kemudian meniupnya. Edward terpana melihat perlakuan Naura pada putranya itu, selama satu bulan lebih mereka tinggal dalam satu rumah, dia hanya bisa mendengar suara Naura jika sedang berbicara dengan putranya. Naura tidak pernah mengajaknya bicara sama sekali, bahkan jika dia mengajaknya bicara, perempuan itu hanya menatapnya tetapi tidak mau menanggapinya.


"Tidak Momm..., Zaz sudah tidak menangis lagi." dengan lucu Ezaz berbicara pada Naura, kemudian memberikan kecupan di pipi Mommy nya.


"Sudah dulu ya bermainnya, sekarang Ezaz mandi dulu. Kemudian sarapan, dan istirahat." Naura mengajak putranya untuk beristirahat. Dengan lucu Ezaz menganggukkan kepalanya, dan saat Naura akan menggandeng putranya, Ezaz sudah diangkat dan digendong Edward dan langsung dibawanya masuk ke dalam rumah. Malas berbicara dengan Edward, Naura langsung meninggalkan mereka berdua, untuk mempersiapkan air mandi untuk Ezaz.


"Ezaz mau mandi di kamar mandi.., atau mau berenang dulu dengan Uncle di kolam renang belakang?" tanya Edward pada Ezaz.


"Renang Uncle.. Ezaz mau renang." teriak Ezaz kesenangan.


Tanpa minta persetujuan dari Naura selaku Mommy nya, saat Naura masuk ke kamar untuk mempersiapkan mandi Ezaz, Edward langsung membawanya ke kolam renang.


"Ezaz tunggu sini sebentar ya, jangan masuk dulu sebelum Uncle datang! Uncle mau berganti celana renang dulu." Edward berpesan pada Ezaz untuk menunggunya dulu di pinggir kolam renang.


Tidak berapa lama, Edward sudah kembali dengan mengenakan celana renang, dengan atasan tanpa mengenakan pakaian.


"Ayo Uncle.., Ezaz pingin segera nyebur." teriak Ezaz memanggil Edward.


"Byur..." suara air ketika Edward dengan menggendong Ezaz langsung masuk ke dalam air. Ezaz yang memang sudah sering dilatih Daddy nya untuk berenang, langsung berenang menjauhi Edward.


"Kejar Zaz Uncle..., ayo!" terdengar suara Ezaz minta Edward untuk mengejarnya.  Tanpa menunggu waktu, Edward langsung berenang mengikuti Ezaz. Keduanya asyik berenang dan bercanda di dalam kolam renang berdua.

__ADS_1


 


**************


__ADS_2