PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Hamil


__ADS_3

Naura yang masih merasa lemah, membuka matanya secara perlahan. Dia merasa pusing hinggap di kepalanya, dan saat dia mengangkat tangannya, dia baru menyadari jika selang infus ada di tangannya. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi, tetapi sedikitpun dia tidak mengingat apapun.


"Dimana aku saat ini, dan apa yang terjadi padaku?" gumam Naura lemah.


Naura mengedarkan pandangannya, dan saat menengok ke samping melihat Edward yang masih tampak tertidur pulas. Sekilas pikiran muncul untuk meninggalkan Edward, tetapi saat mengingat kondisinya saat ini, Naura hanya bisa menggelengkan kepala.


"Bagaimanapun anak itu, dia banyak berusaha untuk membantuku terbebas dari semua. Tetapi dia tidak bertanya apa yang kuinginkan, dia melakukan semuanya atas dasar apa yang dia pikirkan." pikir Naura sendiri.


"Mbak..., alhamdulillah mbak Naura sudah sadar." tiba-tiba seorang perawat datang membawa peralatan untuk mengecek kondisinya.


Naura mencoba tersenyum pada perawat tersebut.


"Saya ada dimana mbak sekarang?" tanya Naura pada perawat itu.


"Tidak ingat ya mbak. Memang sih, semalam mbaknya digendong masnya sampai kesini. Lihat itu, masnya sampai kelelahan tertidur, tidak bangun mendengar suara kita."


"Saat ini mbak berada di RSUD Kepulauan Seribu. Dan semalam kami hanya melakukan pengecekan standar, karena dokter jaga terbatas. Tapi nanti mbak Naura akan melakukan serangkaian pemeriksaan medis." lanjut perawat itu lagi.


Naura hanya menganggukkan kepala mendengar perkataan perawat tersebut. Kemudian perawat itu memasang alat pengukur suhu tubuh, dan saturasi oksigen.


"Untung panasnya sudah mulai agak normal mbak. Pagi ini, mbak Naura makannya bubur dulu ya, setelah nanti dilakukan cek di laboratorium, baru nanti didasarkan pada hasil rujukan dari dokter."


"Untuk selang oksigennya bisa disingkirkan mbak, saya risi ada seperti ini di hidung saya."


"Itu untuk membantu mengurangi pusing di kepala mbak Naura. Masih pusing tidak, kalau sudah bisa menahan rasanya, mungkin sementara bisa dilepas dulu. Nanti jika agak mulai sesak, dipasang lagi."


"Saya pingin ke kamar mandi. Suster bisa bantu saya, soalnya saya merasa masih lemas jika jalan sendiri ke kamar mandi?"


"Baik mbak, mari saya dampingi."


Dengan cekatan, perawat itu mendudukan Naura kemudian mengambil infus dari besi penyangga dan perlahan menuntun Naura ke kamar mandi. Tiba-tiba terdengar panggilan terhadap Naura dengan nada panik.


"Naura.., Naura.., kamu dimana?" Edward yang begitu membuka matanya langsung melihat ke arah *bed, *dan tidak melihat keberadaan Naura yang terbaring disitu.


Sontak Edward bangun dan berdiri sambil memanggil nama Naura.

__ADS_1


"Mbak Naura sedang di kamar mandi mas. Khawatir ya, mbaknya yang cantik diambil orang." goda perawatnya.


"Oh iya Suster. Terima kasih ya, sudah dibantu teman saya. Maaf saya ketiduran!" dengan senyum kecut Edward menjawap perkataan Suster,


"Tidak apa-apa mas, istirahat lagi saja tidak apa-apa. Nanti masih jam 7 kok, mbak Naura diminta cek di laboratorium. Yah, untuk mengetahui sakit apa yang sebenarnya diidap. Atau hanya kecapaian saja."


Edward langsung menuju wastafel, kemudian membasuh mukanya. Dia meregangkan tangan dan pinggangnya sebentar, kemudian kembali  duduk di sofa. Kemudian dia menyalakan ponselnya dan memanggil anak buahnya untuk membawakannya minuman panas. Tidak berapa lama, perawat sudah kembali sambil menuntun Naura. Edward langsung bangun, dan mengambil alih Naura dari perawat.


"Terima kasih Suster." ucap Naura lirih.


"Sama-sama mbak Naura. Karena masnya sudah bangun, saya tinggal dulu ya mbak!"


Naura dan Edward menganggukkan kepala secara bersama-sama.


"Mau tidur lagi, atau duduk saja?" dengan lembut Edward bertanya pada Naura.


"Duduk  saja sambil bersandar."


Dengan cekatan Edward mengatur bed untuk agak ditegakkan bagian punggungnua, sehingga mempermudah Naura untuk bersandar.


*************************************


"Untuk apa kamu membawaku kesini Edward? Aku capai, aku ingin pulang." kembali Naura berbicara pada Edward.


"Kita harus lari dulu untuk sementara Naura. Sepertinya dari tadi malam, aku sudah menyampaikannya padamu."


Naura diam, memikirkan perkataan apa yang bisa menghilangkan keinginan Edward. Dan semakin dia berpikir, pusing kembali mendera kepalanya. Akhirnya dia memejamkan matanya untuk mengurangi rasa pusing tersebut.


"Apa yang sakit lagi? Sudah, jangan banyak pikiran. Kamu istirahat dulu disini, sambil menunggu dokter kesini."


Melihat Edward masih keukeuh dengan pendiriannya, Naura merasa tidak ada gunanya dia memohon padanya. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu masuk, dan terlihat seorang dokter yang didampingi satu perawat di belakangnya memasuki kamar inap.


"Selamat pagi mbak Naura." sapa dokter dengan ramah.


"Pagi Dokter." jawab Naura. Edward langsung berdiri di samping dokter tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana Dokter, hasil diagnosa Naura? Tidak sakitkan dia, hanya faktor kecapaian?"


"Yah, pertanyaan anda itu jika dirangkum semuanya jadi pertanda sakitnya mbak Naura. Pasien ini tidak apa-apa sebenarnya. Tetapi faktor depresi, kecapaian dan kurangnya asupan gizi menjadi pemicu pingsannya mbak Naura."


"Iya Dok, karena kami kemarin dari pagi naik mobil ke Jakarta, dan malam langsung menyeberang ke pulau ini."


"Nha, untuk besok tidak boleh lagi seperti itu. Kasihan nanti janin di perut mbak Naura tidak dapat tumbuh kembang dengan baik."


"Apa Dokter? Bisa diulang perkataan dokter tadi?" tanya Naura dengan gugup.


"Janin mbak Naura. Selamat dari hasil test urin, mbak Naura dinyatakan positif. Mbak Naura saat ini sedang hamil, makanya depresi harus dihilangkan, makan yang banyak, serta istirahat yang cukup!" panjang lebar Dokter menasehati Naura, dan perawat di belakangnya hanya tersenyum.


Mendengar perkataan dari Dokter yang menyatakan bahwa Naura hamil, Edward tidak dapat berbicara. Dengan lesu dia melihat ekspresi Naura yang tampak bertambah pucat wajahnya.


"Janin siapa yang dikandung Naura? Katanya Om Firmansyah belum pernah mengajaknya tidur. Apakah Ditya, tetapi masa baru empat hari sudah bisa hamil jika sama DItya?" berbagai pertanyaan berkecamuk di pikiran Edward.


"Mbak Naura pingsan tadi malam, karena kondisi fisik baru lemah. Harusnya mbak ini tidur dan istirahat yang cukup. Malah tadi bilang naik mobil dari Semarang sampai pelabuhan ya, dan tadi malam kesini naik *speed boat *katanya."


Naura tidak menjawab perkataan Dokter, dan sampai selesai Dokter memeriksanya, tanpa sadar Naura masih terdiam.


"Oh ya, by the way kalian berdua ini pasangan istri kan?" tiba-tiba pertanyaan dokter menyadarkan Naura dan Edward.


Tidak mau banyak menimbulkan prasangka dan pertanyaan, Naura langsung menanggapi perkataan Dokter.


"Bukan Dokter, Edward ini keponakan dari suami saya. Yang kebetulan mengajak saya untuk berlibur di pulau ini."


Edward kaget dengan jawaban yang dilontarkan Naura, tetapi dia membiarkannya.


"Jadi bayi siapa yang kamu kandung ini mbak Naura? Kamu sudah menikah kan?"


Naura diam tidak menjawab pertanyaan Dokter, dia hanya menundukkan kepala.


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau bicara pada saya. Pesan saya, rawat bayi dalam kandunganmu, jangan sia-siakan keberadaanya! Banyak orang yang menginginkan anak, tetapi belum mendapatkan anugrah tersebut! Jadi meskipun ayah dari bayimu belum ada, tetap jaga dia...."


"Dia bayi saya, saya kesini untuk menjemputnya." tiba-tiba tidak ada yang mengira terdengar suara laki-laki di belakang perawat.

__ADS_1


*************************************


__ADS_2