PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Strategi


__ADS_3

Rumah Firmansyah yang saat ini ditempati Naura, menjadi lebih hidup dan ramai dengan datangnya Edward ke rumah itu. Bahkan beberapa kali Edward menawarkan pada Naura untuk mengantar jemputnya, tetapi dengan halus selalu ditolak. Naura tetap setia dengan abang Ojol. Firmansyah sedikit khawatir dengan upaya keponakannya dalam mendekati Naura, karena mereka memiliki usia yang tidak terpaut jauh. Meskipun dia yakin dengan Naura yang selalu menghindar dari Edward, tetapi keponakannya itu juga pantang menyerah untuk mendekati istrinya.


"Kenapa wajahmu lesu Fir? Ada masalah." sore itu tatkala Firmansyah sedang berada di apartemen Santi.


"Sedikit." jawab Firmansyah singkat sambil memegang keningnya.


"Masalah apa, ceritakan padaku. Masalah perusahaan atau masalah dengan istrimu. Kenapa kamu tidak ceraikan dia saja?"


"Tidak semudah itu kamu bilang San. Kalau aku ceraikan Naura secara resmi, maka dia akan mendapatkan pembagian asset dariku. Orang tuanya yang akan menikmatinya, bukan Naura."


"Lha terus maumu apa Fir? Cara apapun yang akan kamu tempuh, dia tetap akan mendapatkan pembagian assetmu. Karena kamu menikahinya secara resmi di KUA, dia memiliki akta nikah denganmu kan."


Firmansyah terdiam, dia menarik Santi ke dalam pelukannya.


"Ayo San, hilangkan pusingku sayang."


"Kamu itu Firm, itu gampang. Kita tuntaskan dulu bicaranya, baru lari kesitu. Giliran begini, kamu larinya selalu ke tempatku." Santi melepaskan pelukan Firmansyah.


"Sebenarnya ada apa dengan istrimu itu, siapa namanya? Naura ya, apa yang membuatmu pusing memikirkannya. Jangan bilang kalau kamu jatuh cinta padanya, dia pantas jadi cucumu bukan istrimu Firman."


"Edward, ponakanku datang dari Australia. Aku pikir dia hanya sekedar mampir ke kota ini, tetapi tanpa henti dia selalu mendekati Naura."


"Terus kenapa, kamu cemburu sama keponakanmu?"


"Kenapa sih dari tadi kamu bilang cemburu, cemburu terus. Naura sebenarnya anak yang baik, cuma orang tuanya itu yang bikin aku jengkel. Mengorbankan putri keduanya, hanya untuk mendapatkan suntikan dana untuk perusahaannya."


"Dan kamu juga bersedia membantu mereka kan. Kalian itu sama saja, jangan bilang sampai sekarang kamu masih berharap akan kembali dengan Novi, mamanya gadis itu."


Firmansyah terdiam, kemudian dia merebahkan tubuhnya ke sofa.


"Sudah serahkan saja semuanya padaku. Aku akan memisahkan gadis itu denganmu, dan kamu akan terbebas dari memberikan hak gono gini pada anak itu."


"Apa yang akan kamu lakukan San. Jangan nekat kamu. Gadis itu tidak bersalah, Kedua orangtuanya yang terlalu ambisi dengan harta."


"Tenang sayang, aku tidak akan melibatkanmu pokoknya. Percaya deh padaku, tapi kenalkan donk aku dengan Naura?" Santi kemudian mendekat ke arah Firmansyah.


Melihat jika Firmansyah tiduran, dia meletakkan kepalanya di atas dada laki-laki itu. Tangan Santi dengan gesit melepas kancing kemeja yang dikenakan Pratama.


"Terus Edward bagaimana, aku juga tidak mungkin mengirimkannya kembali ke Australia. Kakakku sebenarnya juga ada property di kota ini, tapi masak aku tega membiarkannya tinggal sendiri."

__ADS_1


"Untuk masalah Edward, kenapa kamu tidak ajak dia membantumu di perusahaan. Apalagi dia sudah lulus kuliahnya kan?"


Firmansyah berpikir sebentar, kemudian memberikan kecupan sekilas di bibir perempuan itu.


" Iya ya, kenapa tidak terpikir dari dulu ya. Terima kasih sayang, ternyata idemu hari ini sangat bagus. Ayo sekarang puaskan aku dulu." bisik Firmansyah.


Dia langsung mengangkat tubuh Santi  dan membawanya ke dalam kamar. Dengan memegang leher Firmansyah, Santi menyandarkan kepalanya di dada laki-laki tersebut.


 


 


*******************************************************


 


 


Malam hari setelah pulang dari apartemen Santi, Firmansyah mengundang Edward ke kamar baca untuk mengajaknya bicara. Edward mendekati Naura yang sedang berada di meja makan sedang menikmati makan malam.


"Na..., kamu diundang sama Om Firnman tidak, ada pa ya?"


"Hai Naura, aku mengajakmu bicara, jangan cuekin aku dong. Masak on Forman tiba-tiba memanggilku untuk datang ke ruang baca. Kamu tahu tidka, kira-apa ada hal apa yang mau dibicarakan Om padaku?"


"Tidak tahu Edward. Sudah puas."


Edward mengacak-acak rambutnya, kemudian tanpa pamit dia menuju ke ruang baca. Sampai di depan pintu, dia mengetuk pintu.


"Masuk." terdengar suara Omnya dari dalam ruangan.


Edward mendorong pintu, dan melihat Om nya sedang membaca laptop di atas meja kerja.


"Ada apa Om memanggil Edward?"


"Duduklah dulu, sebentar Om mengirimkan emai dulu ke rekan ekrja."


Edward langsung duduk di depan Firmansyah. Tidak berapa lama, Firmansyah menutup laptopnya.


"Edward, kemarin kami di Australia sepertinya kuliah di Business Administration ya?"

__ADS_1


"Iya Om, yapi sejak kapan Om peduli dengan pendidikan Edward. Bahkan Om tidak pernah menanyakan apapun terkait pendidikanku, yang selalu Om tanyakan hanya kamu butuh apa?" protes Edward.


"Ha..ha..ha.., maafkan Om, Edward. Kali ini Om serius deh, karena Om membutuhkan tenaga muda untuk membantuku di perusahaan. Yah, daripada Om mengadakan recruitment yang harus melalui berbagai tahapan, aku langsung teringat kamu."


Edward diam mendengarkan Om nya bicara.


"Maksud Om, mumpung kamu disini, dan belum ada kegiatan apapun. Bagaimana kalau selama di kota ini, kamu membantuku di perusahaan."


"Lha kalau Om tahu, Edward lari ke Indonesia itu, karena malas diminta mama untuk membantu kerja di perusahaan papa. Edward masih malas Om, belum saatnya."


"Yah, kalau kamu masih malas. Ya, mending aku telpon mamamu saja untuk menjemputmu dari rumah ini. Kamu ini laki-laki Edward, harus mulai melatih diri untuk bekerja. Usia mama, papa, dan juga Om itu sampai kapan. Jangan sampai terjadi sesuatu dulu dengan kita, baru kamu sendiri yang mengalami kebingungan."


"Jangan beri tahu mama Om. Please..., Edward suka di kota ini Om."


"Ya kalau kamu masih mau berada di kota ini, ya harus mau membantu Om dong. Om janji, tidak akan memberimu tanggung jawab yang sulit. Yang penting kamu harus mulai berlatih untuk disiplin, dan memiliki etos kerja yang bagus."


Edward terdiam sebentar dan menundukkan kepala, tetapi tidak lama kenudian, dia sudah mengangkat kepala kembali dan menatap Firmansyah.


"Okaylah Om. Tapi Om tidak boleh ingkar janji ya, Om jangan memberi Edward pekerjaan yang sulit."


Firmansyah tersenyum melihat umpan yang dia pasang, untuk mengurangi kedekatan Edward dengan istrinya berhasil.


"Baiklah Edward, sekarang tidur awal. Besok kamu harus bangun pagi, dan bersiap-siap langsung datang sendiri ke perusahaan Om. Masih hafal kan jalan menuju kesana?"


"Baik Om, sudah kan? hanya untuk ini kan, Om Fir memanggil Edward kesini."


"Iya cukup."


"Kalau begitu Edward balik keluar ya Om."


Tanpa menunggu jawaban dari Firmansyah, Edward dengan muka ditekuk langsung keluar dari ruang baca. Firmansyah hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat perilaku keponakannya itu.


 


 


 


*********************************************************

__ADS_1


__ADS_2