PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Alasan


__ADS_3

Firmansyah mengantar Santi langsung ke apartemennya, tidak mampir sedikitpun. Perjalanan dari restoran Doni sampai ke apartemen terasa sepi tanpa ada pembicaraan sedikitpun antara Firmansyah dan Santi. Sepanjang perjalanan, Firmansyah hanya diam seperti melamun, dan setiap perkataan dari Santi tidak pernah dia tanggapi. Santi yang merasa ada yang aneh dengan kekasihnya itu, menahan Firmansyah untuk tidak segera pulang dari apartemen. Tetapi Firmansyah beralasan sudah mengundang meeting di perusahaan.


"Nanti dululah mas, masih ada yang ingin Santi obrolkan. Dari restoran tadi sampai di apartemen, mas Forman tidka memebrikan kesempatan untuk bicara sedikitpun."


"Jangan sekarang Santi. Lain waktulah..., aku sudah terlanjur mengundang meeting tim di perusahaan pukul 14. Lihat sekarang sudah hampir jam tersebut." Firmansyah tidak mematikan mobilnya, tetapi Santi tetap belum berniat untuk segera turun dari mobil.


"Santi, mengertilah posisiku. Apa sih sebenarnya yang kamu maui dariku?" lanjut Firmansyah yang sudah malas berurusan dengan Santi.


"Gadis yang tadi kita temui di restoran itu siapa? Istri bonekamu ya mas, kenapa tidak mengenalkannya padaku."


"Apa maksudmu menanyakan itu padaku. Aku sudah bilang kalau gadis itu Naura, apakah aku pernah janji padamu, kalau aku akan mengenalkanmu pada Naura?"


"Tetapi kita pernah membicarakannya, dan sudah menyepakati jika gadis itu akan pergi dari kahidupanmu tanpa sedikitmu membawa assetmu."


Firmansyah tersenyum sinis, kemudian memandang Santi.


"Santi..., aku tidak merasa memiliki kewajiban untuk mengenalkan Naura padamu. Silakan kamu upaya sendiri untuk dapat mendekatinya. Aku sendiri belum pernah dapat berbicara berdua dengannya secara intens. Sudah sekarang keluarlah, sebelum aku panggil satpam apartemen untuk mengeluarkanmu dari mobilku."


"Mengapa kamu bersikap demikian kejamnya denganku mas. Apa sebenarnya salahku. Aku selalu mendampingimu, menemanimu, melayanimu setiap kamu menginginkanku. Tetapi, tega sekali kamu hari ini padaku. Apakah karena kamu ketemu Naura, dan tanpa kamu sadari sudah muncul rasamu kepada gadis ingusan itu."


"Kamu bicara apa padaku Santi? Sudah aku bilang keluar dari mobil sekarang juga. Malas aku berbicara dengan orang yang sudah dikuasai rasa cemburu." seru Firmansyah dengan nada tinggi.


Merasa jengkel dengan suara tinggi Firmansyah, Santi tanpa pamit langsung keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam apartemen. Tanpa bicara, Firmansyah langsung menjalankan perusahaan menuju perusahaan. Tetapi sampai di perempatan, Firmansyah membelokkan mobil ke arah kanan menuju tempat tinggalnya. Tanpa ragu dia menjalankan mobilnya langsung ke arah rumahnya,  dan ketika sudah sampai di depan gerbang terlihat Joko berlari membukakan pintu gerbang.


"Tuan sudah sampai rumah jam segini? Ada yang perlu Bibi siapkan Tuan." Bi Ijah kaget karena melihat Tuannya sudah sampai rumah siang-siang begini.


"Buatkan saya juice seperti biasanya saja. Antarkan ke ruangan kerja, saya akan kerja dari rumah siang ini."


"Baik Tuan." Bi Ijah langsung meninggalkan Firmansyah dan langsung menuju dapur.


Sesampainya di ruang keluarga, Firmansyah berhenti sebentar, kemudian menengok ke meja makan tidak menemui siapapun. Akhirnya di depan kamar Naura, dia juga menghentikan langkahnya, tetapi tidak mendengarkan suara apapun dari dalam kamar istrinya.

__ADS_1


"Belum sampai rumah ternyata. Apakah aku ini orang yang mati rasa dan tidak memiliki perasaan ya?" Firmansyah berbicara pada dirinya sendiri. Dia langsung masuk ke ruang baca, dan menyalakan komputer yang ada di ruangan itu.


Tidak lama kemudian, Bi Ijah datang dengan membawakan mix juice untuknya.


"Tuan sudah makan siang belum ya? Kalau belum akan Bibi siapkan di meja makan, atau Bibi antar ke ruangan ini Tuan?"


"Tidak perlu. Aku sudah makan Bi. Kok rumah tampak sepi. Naura belum pulang ya?"


"Ujang baru Bibi suruh keluar ke mini market Tuan. Ada yang ingin saya beli. Non Naura juga belum sampai rumah dari tadi, sepertinya dia hari ini sedang mengikuti Ujian Pendadaran. Semoga berhasil ujiannya, dan mendapatkan nilai yang bagus ya Tuan."


"Hmm.., sudah tinggalkan aku sendiri."


"Baik Tuan."


Bi Ijah bergegas keluar dari ruangan baca.


"Tumben-tumbenan menanyakan kabar istrinya. Sejak pertama kali Non Naura di bawa kesini, Tuan belum pernah menganggapnya sebagai seorang istri. Dan sepertinya juga belum pernah mengajak Non Naura menenmaninya tidur. Semoga saja tetap seperti ini, sehingga Non naura akan mendapatkan ganti pria baik-baik." Bi Ijah tenggelam dalam pikiran dan lamunannya sendiri.


 


 


 


Malam hari Edward yang baru saja selesai mandi, dan pulang kerja lembur mendatangi kamar Naura. Dia mengetuk kamar Naura tiga kali, tetapi tidak mendengarkan jawaban dari dalam kamar. Akhirnya Edward berjalan ke dapur untuk membuat teh manis panas. Baru sampai di ruang makan, dia mendengar suara orang sedang berbicara di depan teras belakang. Edward mendatangi suara tersebut, dan melihat Naura sedang berbincang dengan Bi Ijah dan Ujang.


"Aunty Naura, rupanya ada disini. Makanya dari tadi aku ketuk pintu kamar tidak ada yang menyahut dari dalam." seru Edward.


Mereka langsung menengok ke arah Edward, yang begitu sampai langsung duduk di samping Naura.


"Ada apa cari aku Edward. Dari habis makan malam, aku sudah disini ngobrol sama Bi Ijah, dan Ujang saja barusan datang gabung kesini."

__ADS_1


"Pingin nanya saja. bagaimana ujian pendadaranmu tadi siang, Sukses kan?"


"Ya syukurlah. Untungnya aku bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Tim Penguji, dan diputuskan aku Lulus dengan nilai A." sahut Naura sambil tersenyum, dan tampak jelas terlihat rona bahagia menghiasi wajahnya.


"Benarkah Aunty? Wah jika benar, kita harus adakan syukuran ini. Sekali-sekali kita keluar makan bareng, dimana gitu. Coba aunty bilang sama Om Fir agar mengadakan syukuran makan bersama di rumah makan. Atau kalau tidak mau, ayo makan bareng berempat, nanti aku deh yang traktir." sahut Edward yang tampak ikut senang dengan kabar bahagia yang baru dia dengar.


"Tidak perlu Edward. kebetulan kita baru saja selesai makan. Kamu belum makan malam ya?"


"Bi..., siapkan makan malam dulu untuk Edward Bi, nanti terus lanjut ngobrol lagi." lanjut Naura lagi.


'Wah kalau makan di rumah tidak seru. Kita belum pernah kan selama ini, sekedar keluar bareng lah makan bersama. Quality time gitu lho."


"Yah lain waktu saja kita agendakan. Untuk saat ini, jujur Naura tidak bohong Edward. Aku merasa capai sekali, ini saja aku sudah mau masuk kamar. Aku mau tidur." lagi-lagi Naura menolak secara halus ajakan dari Edward.


"Wah Aunty selalu menolak ajakanku sih. Kenapa, aunty  takut apa jika Om Firmansyah cemburu? Yah, biar Om tidak cemburu, kan gampang. Om Fir sekalian kita ajak quality time."


"Bukan karena itu Edward. Tapi bener, aku merasa capai banget. Ini tadi jam 16.15 aku baru sampai dari rumah. Ini juga mau ngumpulkan persyaratan untuk yudisium. Biar cepat di wisuda."


"Atau kenapa nanti keluar bareng jika Non wisuda saja Tuan? lebih seru, karena Non Naura sudah tidak ada beban lagi." sahut Ujang.


"Good idea Ujang." seru Naura sambil mengacungkan jempol tangan.


"Baiklah aku setuju, Bi..., siapkan makan malam ya buatku sekarang." sahut Edward.


"Baik Tuan Muda."


Akhirnya obrolan malam hari mereka berakhir, dengan Naura kembali ke dalam kamar. Sedangkan Edward masih makan malam sendiri di meja makan.


 


 

__ADS_1


****************************************


__ADS_2