PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Jangan Lakukan


__ADS_3

Naura merasa bored sepulang dari kantor, sedangkan setelah mengantarnya pulang, Ditya pamit keluar ada urusan dengan Dipta. Dia mau keluar rumah, tanpa ijin Ditya masih trauma dengan kejadian yang terakhir dia alami dengan Edward. Habis Maghrib, Naura melangkah menuju dapur, dia berniat untuk memasak nasi goreng kampung dengan telur ceplok. Beberapa ART langsung berlari menghampirinya, khawatir jika dia membutuhkan sesuatu.


"Non Naura, Non membutuhkan sesuatu? Kenapa tidak memanggil Bibi saja Non?" seorang ART Bi Inah menanyakan kebutuhan Naura.


"Tidak ada Bi, Naura bosan hanya di kamar terus. Naura mau bikin nasi goreng kampung, kalau Bibi mau membantu, bantu Naura menyiapkan bumbu ya!"


"Saya bantu apa Non?" tanya ART salah satunya lagi.


"Sudah cukup Bi Inah saja ya. Nanti malah saya tidak jadi masak, karena dapurnya penuh. Kalian kerjakan yang lain saja, jika sudah tidak ada yang dikerjakan, istirahat saja! Lihat televisi atau apa?"


"Baik Non, jika butuh kami panggil saya saja Non, tidak apa-apa. Nama saya Siti."


Naura tersenyum kemudian menganggukkan kepala, Siti dan beberapa ART kembali ke aktivitas mereka masing-masing.


"Non mau pakai bumbu apa, biar Bibi siapkan!"


"Naura cuma mau bikin nasi goreng sederhana saja kok Bi. Cukup siapkan bawang putih, merah, sama cabai keriting saja, minta tolong sekalian diulegkan ya Bi. Garamnya nanti Naura sendiri yang akan bubuhkan!"


"Baik Non."


Naura kemudian menyiapkan nasi putih dari pemanas nasi, kira-kira 3 piring dia ambil. Siapa tahu Bi Inah juga ingin makan nantinya. Tidak sampai 30 menit, nasi goreng sudah siap disajikan, lengkap dengan 3 buah telur ceplok. Gadis itu tersenyum puas melihat hasil karyanya, dia masukkan piring kemudian diberi potongan tomat.


"Bibi.., bantuin Naura mengangkat piring ke meja makan ya!" seru Naura.


Baru saja selesai berteriak, sudah ada tangan yang mengambil piring dari tangannya. Naura menengadahkan wajahnya, dan melihat Ditya tersenyum sambil mencicipi nasi goreng dari piring yang dipegangnya langsung.

__ADS_1


"Ehmm...., enak sekali ternyata nasi goreng buatan istriku. Ini buat aku ya?"


Naura menganggukkan kepala, pipinya tiba-tiba memerah mendengar Ditya memanggilnya istriku. Kemudian segera menuju ke meja makan.


"Kak Ditya doyan nasi goreng kampung seperti itu?" Naura bertanya karena melihat laki-laki itu langsung makan dengan lahap. Dia mengambilkan satu gelas air putih, kemudian meletakkannya di depan Ditya.


"Kenapa kamu tidak ikut makan? Ayo sekalian makan malamnya barengan, atau pingin makan menu yang lain? Biar nanti delivery order saja, malam ini kita di rumah saja."


"Tidak usah kak, Naura memang pingin makan nasi goreng. Makanya terus buat, sebenarnya tadi buatnya agak banyakin, jaga-jaga kalau Bi Inah atau Siti pingin juga.Ternyata malah kak Ditya yang mau." ucap Naura sambil tersenyum.


Ditya merasa senang sekali bisa melihat Naura sudah mulai enjoy tersenyum padanya. Dalam diam, Ditya melihati Naura yang sedang menikmati nasi goreng bikinannya sendiri. Akhirnya 3 porsi nasi goreng buatan Naura, habis tanpa sisa mereka makan berdua.


"Kok sudah di rumah kak, katanya mau pergi sama pak Dipta?" tiba-tiba Naura bertanya. Ditya sedikit terkejut, tetapi dengan cepat dia menyesuaikan diri.


Naura langsung berdiri meninggalkan Ditya, dia berjalan menyingkirkan piring ke tempat cucian.


"Non.., kenapa angkat sendiri sih. Kan harusnya tadi tinggal panggil Bibi kalau sudah selesai." Bi Inah langsung mengambil piring dari tangan Naura.


"Ga pa pa Bi, kan cuma angkat piring saja." setelah cuci tangan, akhirnya Naura kembali ke meja makan. Ternyata Ditya masih menunggunya, dan begitu melihat Naura sudah selesai, laki-laki itu kemudian merangkul Naura dan membawanya ke ruang tengah.


*****************************


Naura merebahkan badannya di atas ranjang, berkali-kali dia minta pindah ke kamar tamu. Tetapi Ditya tidak memperbolehkannya, karena rutinitas malam laki-laki itu adalah mencium lembut perut Naura sebelum tidur. Jika berpikir tentang nasibnya saat ini, Naura tanpa sadar sering meneteskan air mata sendiri. Dia tinggal satu kamar dengan laki-laki yang yang telah menghamilinya tanpa ikatan apapun, tetapi jika ada Ditya dengan cepat dia akan menyembunyikan tangisannya. Dia membandingkan dengan kondisi saat menjadi istri dari Firmansyah, dia tidur sendiri tanpa pernah mendapatkan sentuhan dari suaminya, tetapi dia memiliki kebebasan untuk melakukan apapun. Meskipun dia tidak pernah memanfaatkan kesempatan itu.


"Sudah mau tidur?" tanya DItya dengan lembut.

__ADS_1


Naura kaget sambil menghapus air matanya, dia tidak menyangka jika Ditya sudah berada di kamar.


"Naura, kenapa kamu menangis? Apakah kamu merasa sakit atau kamu ingin apa?"


"Tidak ada apa-apa kak, Naura sehat. Naura hanya kangen sama papa dan mama, serta kak Jessica. KIta tinggal satu kota, tapi sangat disayangkan bertahun-tahun Naura belum pernah bertemu papa dan mama."


Ditya tersenyum, kemudian merebahkan tubuhnya di samping Naura. Dia memiringkan badannya, dan memeluk Naura dari belakang. Getaran-getaran aneh mulai menjalar di tubuh Naura, tetapi gadis itu sendiri bingung dengan apa yang sedang dialaminya. Dia terkadang sangat benci dengan laki-laki yang mengurungnya itu, tetapi sering dia merasakan nyaman jika laki-laki itu tiba-tiba memeluknya seperti ini.


"Sabarlah sayang, aku janji tidak lama lagi, kalian akan bertemu." bisik Ditya di telinga Naura.


Naura membalikkan badan, tetapi tanpa dia sadari bibirnya langsung menempel di bibir Ditya. Tanpa mau kehilangan kesempatan, dengan cepat Ditya mengulum bibir Naura. Dengan trampil lidah Ditya mencoba membuka mulut Naura, dan tanpa sadar Naura membuka sedikit untuk bernafas, langsung lidah Ditya masuk ke dalam bibirnya. Ciuman itu berlangsung lama, mereka seperti menemukan oase di padang gersang.


"Ah.., kak hentikan!" tanpa sadar keluar desa*an dari mulut Naura, dan langsung meminta Ditya berhenti saat tangan Ditya sudah masuk ke dalam baju Naura.


Saat tangan DItya sudah memegang sesuatu yang kenyal di dada Naura, laki-laki itu sedikit terlena. Nafasnya mulai memburu dan dia tidak mau berhenti. Tubuh Naura menggelinja** hebat, saat bibir Ditya sudah berpindah ke leher dan belakang telinganya.


"Sayang, aku ingin lagi seperti malam itu." bisik Ditya di telinga Naura. Naura ingin menolaknya, tetapi bahasa tubuhnya berkata lain. Apalagi ketika bibir laki-laki itu sudah berada diatas kedua **kit kembarnya, hanya suara desa**n yang keluar dari bibir mungilnya. Dan saat tangan Ditya sudah masuk ke dalam roknya, Naura terkejut.


"Tolong kak, hentikan. Kita jangan mengulang lagi dosa yang pernah kita lakukan!" tiba-tiba Naura tersentak, dan ingat bahwa mereka bukan pasangan suami istri.


Ditya melihat ke wajah Naura, saat melihat mata jernih itu mulai tergenang air mata. Akhirnya nafas memburu, Ditya berhenti dan melepaskan gadis itu. Tangannya dengan cepat memasangkan kancing baju atasan Naura.


"Maafkan aku sayang, aku terlena." bisik Ditya. Kemudian dia bangun dari bed, dan segera masuk ke kamar mandi. Naura kemudian mengatur pernafasannya kembali, dan kemudian membungkus tubuhnya dengan selimut, dan memeluk guling.


********************************

__ADS_1


__ADS_2