PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Kembali Bekerja


__ADS_3

Beberapa hari istirahat di rumah, dengan pantauan Dokter dan Ditya, akhirnya kondisi Naura sudah segar dan sehat kembali. Dia terus meminta pada Ditya untuk dapat kembali bekerja di perusahaan sebagai sekretaris Pradipta. Karena tidak tega mendengarkan rengekan Naura, Ditya membolehkan gadis itu bekerja kembali. Tetapi berangkat dan pulang kerja, harus bersama-sama dengan Ditya.


"Naura..., kok bisa berangkat kerja bareng dengan pak Ditya? Memangnya kalian tadi ketemu dimana?" tiba-tiba Bambang sudah menginterogasi Naura, begitu dia melihat Naura turun dari mobil atasannya.


Naura hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Bambang, dia mulai merapikan mejanya.


"Kok ditanya malah senyum-senyum sih?"


"Lha Naura harus jawab apa Bambang? Sudah 2 minggu ini lho, aku melupakan pekerjaanku, jadi harus mengingat-ingat lagi. By the way, siapa nih yang menggantikan aku, saat 2 minggu tidak masuk?"


"Dari bagian Administrasi Umum yang menggantikan pekerjaan surat menyurat. Tetapi untuk review, full dikerjakan sendiri oleh Pak Dipta."


"Wow..., Naura sudah mulai masuk kerja ya hari ini. Pakai rayuan apa sampai Boss Besar mengijinkanmu masuk Naura?" tiba-tiba Pradipta menyapa Naura.


Tetapi mendengar perkataan Pradipta, Naura memberi kode dengan isyarat mata, karena disitu ada Bambang. Untungnya Pradipta paham dengan yang diisyaratkan oleh Naura.


"Bambang, kan Pak Ditya sudah berada di ruangan kerjanya kan Untuk apa kamu main kesini, sana balik ke tempat kerjamu!" tegur Pradipta pada Bambang.


"Oh iya pak, maaf! Karena sudah 2 minggu tidak jumpa Naura, tadi pas tahu dia masuk, Bambang main kesini." kata Bambang agak gugup juga.


"Ya, sekarang balik ke kursimu!"


"Baik pak, Bambang permisi. Aku balik ruanganku ya Na!" akhirnya Bambang pamit kembali ke ruang kerjanya.


"Okay, semangat Bambang!" sahut Naura sambil mengacungkan genggaman tangannya. Bambang tersenyum kemudian meninggalkan Naura dan Pradipta sendiri.


"Sudah beneran sehat kamu Naura? Masuk ruanganku ya sekarang, ada yang mau aku diskusikan denganmu!" tanya Pradipta setelah Bambang sudah pergi.

__ADS_1


"Sudah sehat pak. Sekarang pak?"


"Iya." jawab Pradipta singkat, kemudian mendorong pintu masuk ke dalam ruangan. Setelah masuk ke ruangan, dia masih berdiri dengan memegangi pintu agar tetap terbuka, dan Naura mengikutinya masuk ke dalam.


"Duduk Na, aku taruh tasku dulu di meja!"


Naura segera duduk di sofa, sambil menunggu Pradipta siap, dia mengambil majalah dan membolak-baliknya. Tidak berapa lama, Pradipta duduk di hadapan Naura.


"Aku mau diskusi denganmu, tetapi bukan masalah pekerjaan Na. Aku lakukan ini, karena untuk menjaga sahabatku Ditya, aku tidak mau kamu mengecewakan hatinya."


Naura memandang ke arah Pradipta, berusaha mendengarkan apa yang mau dia katakan,


"Tolong jawab aku dengan jujur! Bagaimana perasaanmu pada Ditya?"


Naura menghela nafas, kemudian menjawab pertanyaan Bossnya itu.


"Untuk masalah perasaan, Naura bingung mau menjawab apa pak? Dengan masalah yang sudah bertubi-tubi Naura alami, sepertinya perasaan Naura sudah mati rasa sejak bertahun-tahun lalu, saat Naura mau menerima tawaran dari Om Firmansyah untuk menikah dengannya." dengan pelan Naura menyampaikan isi hatinya.


"Jangan menangis di ruanganku Naura! Bisa-bisa aku dibunuh oleh Ditya jika sampai membuatmu menangis."


"Tolong jangan salah paham denganku, aku hanya ingin menjaga perasaan Ditya yang sudah sangat berharap padamu. Dia sedang berjuang untuk menjadikanmu sebagai istrinya, bahkan jika sampai papa dan mamanya tidak menyetujui hubungan kalian, dia tidak akan segan-segan meninggalkan mereka berdua." tambahnya lagi.


"Maksud Pak Dipta?"


"Ditya lebih memilih untuk mempertahankanmu sebagai pendamping hidupnya, daripada tinggal dengan kedua orang tuanya tetapi kehilangan kamu. Jadi, tolong pahami dan hargailah dia!"


"Mohon maaf pak Dipta, Naura tidak dapat berjanji untuk mencurahkan semua perasaan pada pak Ditya. Karena dari tadi Naura bilang, jika Naura saat ini memiliki mati rasa untuk menjalin sebuah hubungan."

__ADS_1


Pradipta terdiam, kemudian berdiri dan mengambil air mineral. Setelah meminumnya beberapa tegukan, dia kembali duduk di depan Naura.


"Kamu haus tidak, minumlah dulu!" Dipta menawarkan botol air mineral pada Naura. Naura menerimanya, kemudian meminum dua tegukan.


"Kamu sekarang sedang hamil. Tolong jawab dengan jujur, apakah benar kamu mengandung bayi Ditya?"


Muka Naura langsung merah merona, menahan malu. Laki-laki di depannya itu tanpa ada sopan-sopannya membuka aib nya. Tetapi dia harus menjawab pertanyaan itu, dan sambil kembali memandang Pradipta, Naura berbicara.


"Pak Dipta, dari awal Naura tidak pernah menuntut pak Ditya atas kehamilan ini. Dan juga tidak pernah menyampaikan pada siapapun jika bayi ini adalah bayi pak Ditya. Tetapi memang Naura tidak pernah berhubungan intim dengan laki-laki manapun termasuk Om Firmansyah mantan suami Naura, kecuali karena kecelakaan di malam itu." jawab Naura yang terasa dadanya merasa sesak.


"Dan apakah Naura merayu pak DItya untuk melakukan kejadian malam itu? Naura tidak dapat menjawabnya. Karena semua uncontrollable, dan Naura tidak masuk ke kamar pak DItya. Tetapi pak Ditya yang masuk ke kamar yang sedang dipakai Naura tidur. Apakah menurut pak Dipta ini salah Naura?" Naura mulai menangis terisak-isak.


Pradipta terdiam, dan mencoba berpikir dari sisi gadis di depannya itu. Dia berpikir jika Naura adalah korban, tetapi dia baru kenal Naura belum lama. Meskipun dari investigasi anak buahnya, Naura merupakan gadis yang sangat baik, dan tidak memiliki intrik dengan siapapun.


"Dan jika memang pak Ditya mau mengakui anak Naura, jika nanti bayi yang Naura kandung ini lahir. Silakan lakukan test DNA, untuk memastikan bayi siapa, yang Naura kandung saat ini! Dan yang perlu pak Dipta ketahui, meskipun hasil test DNA menandakan jika bayi ini adalah putra pak Ditya, Naura tidak akan pernah menuntutnya untuk menikahi Naura. Bayi ini bukan putra siapapun, dia adalah putra Naura." dengan berani Naura bicara dengan nada tinggi.


"Sudahlah Naura, tolong berhentilah menangis! Bukannya aku tidak mempercayaimu, tetapi aku mencoba ingin mengetahui semua kebenaran ini darimu. Karena aku tidak ingin, sahabatku Ditya terluka, kamu sendiri sudah tahu kan bagaimana kekuatan yang dia miliki?"


Naura diam tidak menjawab. Tiba-tiba terdengar dering airphone  di atas meja Pradipta. Bergegas Dipta mengangkatnya.


"Ya, Naura ada di ruanganku sekarang. Ada apa, baru saja duduk di ruangan belum sampai 2 jam, sudah mencarinya?"


"Iya, iya.. ini belum saya kasih pekerjaan apapun. Sejak kapan sih Dity, kamu menjadi sepeduli ini pada seorang gadis?"


Pradipta langsung menutup panggilan telpon dari Ditya.


"Sudah cukup Naura, cucilah mukamu dulu. Matamu sembab, dan kembalilah duduk di meja kerjamu!"

__ADS_1


 


*********************************


__ADS_2