
Pradipta menceritakan dengan runtut dari awal dia mendapatkan pesan berisi share location dari unknown number. Dia hanya menduga-duga jika unknown number merupakan Nomor yang digunakan oleh seseorang yang menculik Naura dan Ezaz.
"Apakah kamu sudah mulai bergerak Dipta.., aku pingin menghajarmu sebenarnya. Kamu membiarkan aku seperti orang bego, padahal itu menyangkut hidup dan mati dari istri serta putraku." Ditya geram dengan gerakan yang dilakukan sahabatnya itu.
"Aku mengenalmu lebih dari siapapun Dity.., baru aku kasih informasi ini saja bagaimana responmu sekali. Tenanglah dulu, kita tidak boleh grusa-grusu. Apalagi kita tidak begitu hafal dengan kota ini." Pradipta membuat alasan.
"Jangan meremehkan aku Dipt. Meskipun aku kuliah di USA, tapi masa kecilku dengan mama, banyak aku habiskan di kota ini." kata Ditya sambil melihat kepada Pradipta.
"Terus apa rencana kita selanjutnya, kirim share location itu ke nomor ponselku." lanjut Ditya lagi.
"Aku sudah menemukannya Dity, tadi pagi aku sudah bicara dengan pelayan di rumah itu. Aku jogging, saat kamu dan Claudia masih tertidur. Lokasi rumah itu persis berada di tiga blok mansion dari sini." Pradipta menceritakan apa yang dia lakukan tadi pagi.
"Apa benar Naura ada disana?" dengan tidak sabar, Ditya terus mengejar Pradipta dengan pertanyaan.
"Aku belum tahu, hanya pelayan rumah itu memberi tahuku. Jika pemilik mansion tempat dia bekerja adalah orang Indonesia. Untuk menghindari kecurigaan aku memang belum berbicara banyak, dia hanya bilang akan bilang dengan Tuan dan ada juga Nona yang tinggal di rumah itu." Pradipta menambahkan lagi.
Ditya diam sebentar, mendadak hatinya merasa berdesir dan juga merasakan deg-degan. Dia merasa seperti akan berjumpa dengan seseorang yang sudah lama tidak dia temui.
"Ayo..., kita tidur dulu Dity. Kalau kamu ingin ke rumah itu, kamu harus bangun pagi. Besok ikut denganku, kita pura-pura melakukan olahraga pagi disitu." Pradipta berdiri kemudian menepuk bahu sahabatnya itu. Ditya diam saja tidak menjawab, dia malah duduk melamun disitu. Pradipta membiarkan sahabatnya itu sendirian, dia langsung meninggalkan Ditya untuk cepat beristirahat.
********
__ADS_1
"Drtt.., drtttt." baru saja Pradipta selesai mencuci wajahnya, dan bersiap untuk berangkat tidur ponselnya tiba-tiba bergetar. Dia langsung mengambil ponselnya, kemudian sambil membaringkan tubuhnya dia membuka ponselnya tersebut.
"Kak..., Claudi ga bisa tidur. Peluk..!" Pradipta tersenyum membaca chat yang dikirimkan Claudia padanya.
"Baca do.a dulu, kemudian pejamkan mata! Bayangkan wajah kakak sayang.." Pradipta membalas pesan Claudia.
"Ehmmm.., maunya ada kak Dipta disini. Kak Dipta peluk Claudia, sampai tertidur." dengan manja Claudia ingin Pradipta memeluknya.
"Ha..ha..ha..., bisa-bisa nanti kakak dirajam habis sama kak Ditya, kalau malam ini nyusul kamu ke kamar sayang. Belom boleh kita tidur satu kamar, mulai saat ini. Akan ada saatnya itu akan datang untuk kita." Pradipta tertawa kecil mencoba menghibur Claudia.
"Padahal dulu saat kecil, kak Dipta sering meluk Claudia sampai tertidur." Claudia tetap merajuk.
"Sudah.., atau sekarang kita video call saja. Kakak akan berbicara terus, menemani Claudia sampai tertidur." akhirnya Pradipta mengambil jalan tengah. Karena dia merasa sudah sangat mengantuk.
"Hai.. Claudia sayang. Sekarang selimutnya ditarik sampai ke leher, biar nanti malam tidak kedinginan." Pradipta langsung menyapa Gadis itu. Claudia menurut anjuran Pradipta, dia segera menarik selimutnya sampai menutup semua pundaknya.
"Sekarang miring ke kanan sambil kaki kirinya diletakkan di atas guling. Jika sudah baca doa mau tidur, dan pelan-pelan pejamkan mata. Jangan lupa, bayangkan kak Dipta saat ini sedang memeluk Claudia." dengan sabar Pradipta memandu Claudia. Dia terus berbicara, tanpa mendengar balasan apapun dari gadis itu.
Tidak lama kemudian, Pradipta tersenyum. Dia sudah mendengar nafas teratur dari gadis yang baru saja dia tembak, dan dia menyatakan perasaan padanya. Melihatnya sudah tertidur, Pradipta mematikan ponselnya, dan tak lama kemudian, akhirnya diapun menyusul tertidur lelap.
*******
__ADS_1
Pukul 03.00 pagi hari, Naura sudah terbangun. Setelah semalam dia terpikirkan oleh perkataan yang disampaikan pelayan rumah, jika dia ketemu dengan warga negara Indonesia, Naura menjadi susah untuk tidur. Setelah jam 00.30 menit dia baru bisa memejamkan matanya, ternyata pada dini hari ini dia sudah terbangun.
"Aku harus bangun pagi.., aku akan pura-pura olahraga pagi ini. Aku akan mencari tahu, siapa yang ditemui Laura kemarin pagi." Naura berpikir sendiri.
"Ya Tuhan..., kenapa dari kemarin jantungku berdetak terus. Aku seperti mengharapkan jika orang yang dimaksud Laura adalah kak Ditya. Beri kami keajaiban ya Allah!" Naura memanjatkan doa pengharapan.
Dia kemudian beranjak dari tempat tidurnya, dia melihat ke arah putranya yang masih nyenyak terlelap dalam tidur. Dia kemudian membuka pintu kamar dan berjalan ke dapur. Naura menyalakan kompor, dia memanaskan air untuk membuat teh panas. Setelah beberapa saat, air sudah mendidih, dia kemudian duduk di meja makan sambil menghangatkan badannya dengan satu cangkir teh panas.
"Ada apa pagi-pagi kamu sudah duduk di sini Naura?" Naura agak kaget, karena tiba-tiba dia sudah melihat Edward ada di belakangnya.
"Tidakkah kamu bisa melihat apa yang aku lakukan di pagi hari ini?" Naura balik bertanya tanpa menoleh pada Edward.
Edward tersenyum, kemudian dia berjalan mendekati Naura, tiba-tiba dia memeluk Naura dari belakang. Dagunya dia letakkan pada sisi bahu Naura.
"Jangan gila kamu Edward.., kamu memeluk seorang perempuan yang sudah bersuami. Dimana letak adabmu?" Naura berseru dengan nada keras.
"Ssttt..., diamlah Naura! Apakah kamu mau membangunkan Ezaz dan semua pelayan di rumah ini? Aku hanya ingin memelukmu saja, aku tidak akan memperkosamu." mendengar Edward menyebut nama putranya, Naura terdiam. Dia juga tidak bisa membuat alasan untuk menjelaskan pada putranya, jika sampai Ezaz melihatnya sedang dipeluk oleh Edward.
Edward tersenyum, setelah beberapa saat dia melepaskan pelukannya pada Naura, kemudian mencuri sebuah ciuman dari pipi gadis itu.
"Plak.." tamparan keras bersarang di pipi Edward, tampak di depannya Naura melotot padanya. Setelah itu tanpa berkata apapun, gadis itu langsung pergi meninggalkan Edward sendiri di dapur. Dia langsung segera masuk kembali ke dalam kamar, kemudian mengunci pintunya dari dalam.
__ADS_1
"He...he..he.., manis sekali tatapanmu padaku Naura. Aku bisa gila menahan keinginanku padamu." sambil tertawa kecil, Edward berbicara pada Naura. Dia kemudian mengambil air teh panas yang belum dihabiskan Naura, kemudian meneguk sisanya sampai habis.
********