
Dengan melakukan pemaksaan, akhirnya Pradipta dan Claudia berhasil membawa Ditya untuk melakukan perjalanan ke Tamarama Sydney. Laki-laki muda yang semakin kurus dan kurang terawat itu tinggal berangkat dan masuk ke dalam pesawat. Semua perlengkapannya sudah diatur dan disiapkan oleh Pradipta dan Prasetyo Pangestu. Pesawat pribadi diterbangkan langsung dari bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta.
"Mama sebenarnya ingin mengikuti mereka pa? Tapi sampai sekarang, Ditya masih mendiamkan mama. Padahal hilangnya Naura dan Ezaz.., bukan hanya Ditya yang merasakan kehilangan pa. Mama juga merasakan hal yang sama." sambil menangis terisak, Marina mengadu pada Prasetyo Pangestu. Dia betul-betul merasa menyesal, karena baru hari pertama menantu dan cucunya mengunjunginya di Jakarta, hari itu juga mereka telah meninggalkannya.
"Sudahlah ma.., kita banyakin berdo.a saja. Semoga putri menantu, dan cucu kita segera ditemukan. Tapi papa yakin dengan feeling Pradipta, papa merasa yakin jika Naura dan Ezaz dibawa pergi oleh Edward. Hanya anak itu yang merasa terobsesi cinta mati pada menantu kita." Prasetyo berusaha menenangkan istrinya.
"Iya pa..., mama betul-betul merasa menyesal. Dulu awal masuk di keluarga kita, mama telah menolak Naura sebagai menantu kita. Dan saat mama sudah bisa menerimanya, malah cobaan datang ke keluarga kita. Naura hilang. hiks.." Marina kembali menangis, apalagi dengan ikutnya Claudia ke Australia, Marina merasa tidak memiliki teman di rumah saat suaminya harus pergi mengurus perusahaan. Apalagi, karena Ditya dan Pradipta keduanya pergi ke Australia, maka dia juga harus ikut memantau kegiatan operasional perusahaan yang ada di kota Semarang.
Pasangan suami istri itu segera memasuki rumah, begitu mereka sampai di halaman rumah.
***********
Setelah menempuh perjalanan selama hampir mendekati 7 jam, pesawat yang menerbangkan Ditya beserta Pradipta dan Claudia akhirnya berhasil landing dengan mulus di Sydney Kingsford Smith Airport yang berlokasi di Mascot, New South Wales, Australia. Mereka langsung keluar melalui pengecekan imigrasi khusus, dan bagasi langsung diurus oleh orang-orang Prasetyo Pangestu.
"Kak Dipta.., Claudia capek. Kita langsung ke mansion kan, mau cepat tidur." Claudia merengek manja pada Pradipta. Dia belum berani bermanja pada Ditya, yang senyum tidak pernah muncul dari wajahnya.
"Halah.., capek? Perasaan dari bandara Halim Perdanakusuma, kamu tidur terus deh. Masak, baru turun sudah bilang capek." Pradipta menggoda Claudia, tetapi dia langsung merangkul gadis itu kemudian langsung keluar menuju terminal kedatangan.
Baru saja mereka keluar, tampak orang-orang Prasetyo Pangestu sudah menjemputnya di depan.
"Good afternoon Mr. Ditya,... we will head straight to the mansion." seorang pengawal langsung menyapa Ditya, dan memberi tahu bahwa akan langsung menuju mansion.
"Yupz..., we're going straight back to the mansion." Ditya langsung mengiyakan, dan pengawal langsung membukakan pintu mobil. Mereka bertiga langsung masuk dan menyandarkan punggungnya ke kursi mobil.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, driver langsung menjalankan mobilnya. Pradipta mengeluarkan ponselnya, kemudian menyalakan Google map. Dari map hasil share location dari unknown number, dia mulai klik tombol mulai.
"Lokasi siapa kak? Kak Dipta punya teman di kota ini apa?" Claudia merasa penasaran dengan location di Google map yang diaktifkan Dipta.
"Ga ada Claud..., kalau di New York banyak. Tapi kalau kota sini ga tahu, ada tidak teman kak Dipta." tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang dipegangnya, Pradipta menjawab pertanyaan gadis itu.
"Terus ini Kak Dipta cari alamat siapa, kok nyalakan map?"
"Alamat mansion di Tamarama, iseng saja tidak usah banyak berpikir. Katanya mau tidur, sini!" Claudia langsung menyenderkan kepalanya di bahu sebelah kiri Pradipta.
Tidak sampai 30 menit perjalanan, mereka sudah memasuki jalan komplek menuju mansion. Pradipta terkejut, dia langsung menengok ke bangunan rumah yang didominasi oleh warna putih, saat map menunjukan sudah sampai lokasi.
Setelah melewati tiga blok rumah, mobil masuk ke halaman pekarangan.
*********
Pagi hari teringat akan misinya, Pradipta bersiap-siap untuk berangkat jogging. Mungkin karena merasa capai duduk selama perjalanan, semalam Pradipta istirahat lebih awal sehingga hari ini dia bisa berangkat lebih pagi. Suara deburan ombak di belakang rumah, tampak jelas terdengar. Dia membuka jendela kamar, dan terlihat hamparan pasir putih dengan laut yang tampak biru.
Pradipta meregangkan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan, dia menghirup udara sebanyak-banyaknya kemudian mengeluarkannya lagi. Tidak mau banyak membuang waktu, laki-laki itu segera menuruni tangga. Dia melihat Ditya tampak melamun sambil merokok di teras depan.
"Mau kemana Dipt?" tanya Ditya singkat.
"Mau jogging, mumpung berada di pinggir pantai. Udaranya bersih dan bagus untuk saluran pernapasan. Mau ikut?" Pradipta menawari Ditya
__ADS_1
"No..., wasting time." jawab Ditya singkat. Pradipta hanya menggelengkan kepala mendengar Jawaban itu.
"Ya sudah..., bersahabat lah dengan asap rokokmu. Aku jalan dulu." setelah pamitan, Pradipta langsung turun ke halaman dengan berjalan cepat. Untuk menyamarkan identitas, karena khawatir dia berjumpa dengan orang yang mengenalnya, Pradipta menaikkan hoddie untuk menutupi kepalanya.
Setelah berjalan melewati tiga blok, Pradipta memelankan jalannya dan mulai berhenti di depan mansion yang ditunjukkan oleh map. Dia melakukan peregangan dengan menggerak-gerakkan Anggota badannya. Tiba-tiba dia melihat ada seorang perempuan keluar dari dalam pagar.
"Morning.." dengan ramah, Pradipta menyapa perempuan tersebut.
"Morning to ., are you Indonesian." tanya perempuan setengah baya tersebut. Dia menanyakan apakah Pradipta adalah orang Indonesia.
"Yes, I am Indonesian. How do you know if I am Indonesian?"tanya Pradipta pada perempuan tersebut sambil tersenyum ramah. Dia mengiyakan pertanyaan dari perempuan tersebut.
"Yes, of course I know. Because your face is very similar to the inhabitants of this house." perempuan itu tidak diduga sama sekali oleh Pradipta, langsung memberi tahu jika tipe wajahnya serupa dengan penghuni rumah.
"Really?? If so, may I know, who lives in this mansion?" Pradipta menanyakan siapa yang tinggal di dalam Mansion.
"Mr. Edward and Mrs. Naura and the son of the woman."mendengar perkataan perempuan setengah tua itu, Pradipta terkejut. Tetapi untungnya dia segera bisa menguasai dirinya kembali.
"I am very happy to talk to you. But I have to continue my sport. Say hello to this family." agar tidak menimbulkan kecurigaan perempuan itu, Pradipta langsung minta pamit untuk melanjutkan olah raganya.
Dia berlari lurus ke depan sampai melewati lima blok, kemudian berbalik arah. Saat melewati mansion Edward, dia menatap ke dalam halaman tetapi tidak menemukan bayangan Naura maupun Ezaz.
***********
__ADS_1