PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Trimester Pertama


__ADS_3

Naura yang baru tertidur, tiba-tiba merasa terganggu tidurnya karena di punggungnya ada hembusan nafas berat dan kecupan bertubi-tubi. Ditya sang pengganggu tidur istrinya, tersenyum saat melihat Naura membuka matanya, kemudian membalikkan badan menjadi menghadapnya.


"Sudah bangun Nauraku sayang?" tanya DItya dengan lembut.


Naura hanya menganggukkan kepala tidak menjawab pertanyaan suaminya, dia masih agak kesal dan mengalami *bad mood  gara-gara omongan dari mama mertuanya. Naura kembali akan membalikkan badannya untuk membelakangi Ditya, tetapi suaminya menahannya.


"Kan hari ini kita sudah resmi menikah, apakah Nauraku masih keberatan untuk melayani suaminya?" dengan senyum Smirk, Ditya bertanya.


Naura pernah membaca tabloid Ayahbunda, dan kehamilan dalam trimester pertama sangat beresiko dengan goncangan. Akhirnya dia ingin menjadikan alasan itu untuk menolak suaminya.


"Naura baru hamil hampir dua bulan, yang masih masuk dalam trimester pertama. Artikel yang pernah Naura baca, sangat berbahaya dan beresiko tinggi untuk melayani suami pada saat ini. Jadi, Naura mohon, suami Naura bisa menahan hasratnya dulu."


"Benarkah? Apakah ini bukan alasan yang dicari-cari istriku untuk menolak suami? Sayangnya, suamimu ini bukan tipe orang yang mudah dibohongi sayang. Aku akan melakukannya dengan pelan." kata Ditya sambil menempelkan bibirnya ke bibir Naura, dan lidahnya langsung mencari celah untuk masuk ke dalam.


Dan lagi-lagi pipi Naura jadi memerah, karena dia sendiri juga tidak memahami apa yang terjadi pada dirinya. Naura sendiri tidak tahu, bagaimana perasaan dia sebenarnya pada Ditya. Tetapi setiap kulitnya bersentuhan dengan kulit laki-laki itu, dia menjadi sangat sensitif.


"Jangan khawatir sayang, aku hanya ingin memeluk dan mengagumi keindahan yang ada di depan mataku. Aku sangat berbahagia, karena akhirnya aku bisa memilikimu seutuhnya." bisik Ditya sambil tersenyum.


"Kak.., tidakkah kakak merasa malu? Di rumah ini sedang banyak orang, ada papa, mama, Claudia, Dipta. Tidak bisakah kakak menahan keinginan dulu?" ucap Naura lirih mencoba mempengaruhi suaminya.


"Apa yang kamu takutkan sayang? Kamar ini kedap suara sayang, tidak akan ada yang mendengar rintihan maupun desaanmu saat aku menyentuhmu. Juga kamu bisa mengeringkan rambutmu dengan hair dryer* jika malu keluar dengan rambut basah." goda Ditya sambil tangannya dengan lembut, mulai melepaskan kancing piyama yang dikenakan Naura.


Setelah terlepas\, kedua tangannya langsung melepaskan pengait penutup dada gadis itu\, dan akhirnya menyembul dua bongkahan kembar putih yang membuat gila Ditya. Bibir Naura tidak berhenti mengeluarkan desa*an\, saat bibir* Ditya mengulum lembut *niple, dan lidahnya menari di sekeliling areolanya. Suara desa*an Naura menjadi lecutan Ditya, dan menaikkan hasratnya untuk semakin menyatukan dirinya dengan istrinya itu.


Kedua tangan Naura berpegangan ke leher Ditya, dan saat hisapan lembut terasa pada niplenya, tangannya naik dan mengacak-acak rambut suaminya. Tubuhnya menggelinjang hebat, dan tangannya dengan cepat melepaskan baju yang dikenakan suaminya. Melihat istrinya yang semakin agresif, Ditya tersenyum kemudian bibirnya mulai turun menyusuri lekukan perut, pinggang dan berakhir di area inti Naura. Saat jari Ditya merasakan bahwa istrinya sudah basah, akhirnya di siang hari ini mereka kembali menyatukan diri untuk pertama kalinya setelah menjadi pasangan suami istri. Senyum bahagia dan puas terbit di mulut Ditya, sedangkan dengan merona malu, Naura merasakan kepuasan yang tidak pernah dia rasakan dari pernikahannya terdahulu.


 

__ADS_1


************************************


 


Claudia sedang bersantai menyelonjorkan kakinya di sofa ruang keluarga sambil melihat televisi. Melihat gadis yang diincarnya sedang sendirian, Pradipta menghampiri dan pura-pura bergabung melihat televisi bersamanya.


"Ehm.., asyik sekali sepertinya. Lihat apaan Claudi?" tanya Pradipta.


"Kenapa pakai tanya segala, kan bisa tengok sendiri di layar LED. Apa yang sedang diputar disana." sahut Claudia judes.


"Kapan sih anak cantik, sikap judesmu kamu kurangi untuk kak Dipta?" goda Pradipta, kemudian duduk di sofa di sebelah Claudia.


Gadis itu tetap diam, dan tatapan matanya tidak lepas dari layar LED yang sedang menayangkan FTV. Melihat dirinya dikacangin, muncul keisengan Pradipta untuk mengerjai gadis itu. Dia menengok-nengok mencari remote LED, tetapi tidak menemukannya. Ternyata tanpa diduga, Pradipta melihat remote berada dalam genggaman Claudia.


"Claudi.., mumpung berada di kota ini, jalan yukk. Kak Dipta antar puter-puter kota ini. Kita bisa ke Sanpoo kong, Lawang Sewu, atau kita ngemall?" tawar Pradipta.


"Lah daripada cuman berada di rumah, kamu tidak bosankah? Nanti kita mampir ke Pondok Ikan, tinggal milih seafood  apapun ada disana. Ayoklah!"


"Tidak.. Aku mau di rumah saja, lihat televisi terus tidur. Sana kak Dipta menyingkir, gangguan kesenangan orang aja!"


"Claudi tidak malu apa, mendengar suara-suara aneh di dalam rumah ini?"


Claudia menengok ke arah Pradipta, mencoba menerka apa yang dimaksud laki-laki itu. Pradipta terlihat serius.


"Suara apaan, ada hantu disini?" Claudia mulai kepo.


"Itu suara dari kamar kakakmu Ditya. Kan mereka sudah resmi menikah tadi pagi barusan. Tahu sendiri kan, apa yang akan mereka lakukan dalam kamar." sahut Dipta sambil cengar-cengir.

__ADS_1


"Dasar PIKTOR kamu kak, PIKIRAN KOTOR." semprot Claudia sambil melempar Pradipta dengan bantal kursi.


"Lho, siapa yang PIKTOR? Ayo ikut kak Dipta, kalau kamu tidak percaya. Kita intip kamar kakak kamu, mesti ada peperangan di dalam sana."


Tiba-tiba Claudia berdiri dan akan meninggalkan ruang keluarga. Tetapi tangan Pradipta dengan cepat menangkat tangannya, dan melarangnya pergi.


"E..e..eh., masak kak Dipta ditinggal sendiri. Ga boleh pergi ninggalin." seru Pradipta.


"BODO, kak Dipta nyebelin. Dari tadi gangguin Claudia lihat televisi, mendingan pindah kamar saja nontonnya. Lepasin tangan Claudia dong kak!"


Sambil iseng Pradipta mencium tangan Claudia dengan lembut. Claudia agak terkejut dengan perlakuan yang diberikan laki-laki itu, tetapi dengan cepat dia menarik tangannya.


"Ih.., kak Dipta nyebelin, kenapa juga cium-cium tangannya Claudia. Jorok!" semprot gadis itu, sambil mendorong badan Dipta.


Tetapi karena posisi Dipta memegang tangan Claudia, saat badannya terjatuh di belakang, Claudia ikut jatuh menimpa badan Pradipta. Mereka jadi jatuh berdua di atas sofa, dengan tubuh Claudia berada di atas tubuh Pradipta. Mata mereka beradu pandang, tetapi Claudia tiba-tiba pipinya merah merona malu kemudian langsung bangun dan berlari meninggalkan Pradipta sendiri.


"Aduh.., kenapa susah sekali sih ambil hati adiknya Ditya itu. Meskipun Claudia sudah punya pacar, lihat saja aku akan selalu mendekatinya." gumam Pradipta sambil tersenyum membayangkan kejadian barusan.


Dengan cepat Pradipta beranjak dari sofa, kemudian berjalan ke wastafel. Sambil melihat cermin yang ada di depan wastafel, dia mencuci wajahnya. Melihat semua orang sudah berada dalam kamarnya masing-masing, akhirnya dia kembali pulang ke apartemennya.


 


 


*******************************


 

__ADS_1


 


__ADS_2