PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Hilang


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan Mommy nya, Naura sambil menuntun Ezaz pergi ke toilet perempuan. Di depan pintu masuk, ada seorang perempuan yang memberi senyum padanya, dengan sopan Naura membalas dan menganggukkan kepala.


"Sabar ya sayang..., tunggu sebentar!! Toiletnya masih ada yang pakai, Momm and Ezaz tunggu dulu!" Naura berbicara pada Ezaz, agar anaknya mau antri.


"An.tri Momm?" tanya Ezaz dengan nada cedal sambil melihat ke wajah Mommy nya.


"Yupz.., kita tunggu sebentar." sambil tersenyum manis, Naura meminta Ezaz untuk menunggu.


Sambil menunggu antrian, Naura mengambil ponsel dari dalam tasnya, karena dia merasa ponselnya bergetar.


"Ternyata ada chat masuk." gumam Naura, kemudian dia membuka ponselnya.


"Selamat siang cantik..., sekarang ada di Jakarta ya?" bunyi chat dari no kontak yang tidak ada di ponselnya, membuat Naura berkerenyit. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling toilet, tetapi dia merasa tidak mengenal satupun orang yang berada disitu.


Untungnya satu toilet yang terletak di pojokan kosong, karena penggunanya barusan keluar. Dengan cepat Naura memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas selempangnya, kemudian membawa Ezaz masuk ke dalam toilet. Tidak berapa lama, setelah selesai Naura mencuci tangan di wastafel, dan membasuh muka Ezaz dengan sedikit air. Dia melirik orang yang ada di belakangnya. Dari cermin yang ada di depannya, perempuan itu dari tadi melihatinya. Karena merasa khawatir, Naura mengangkat Ezaz kemudian menggendongnya.


"Zaz jalan sendiri Momm..," ucap Ezaz menolak di gendong.


"Biar cepat sayang..," setelah Ezaz berada dalam gendongannya, dengan cepat Naura membawanya keluar. Sesampainya di akses keluar terakhir, ada seorang perempuan yang tiba-tiba memegang belakang kepalanya dan Ezaz...


"Maaf."


 


 


**********************

__ADS_1


 


Dengan wajah panik Marina dan Claudia dengan dikawal oleh dua orang bodyguard keluarga duduk di pos security di mall tersebut. Lebih dari satu jam, mereka menunggu di pintu luar toilet tetapi mereka tidak melihat Naura maupun Ezaz keluar dari dalam. Bahkan Claudia sudah masuk dan memeriksa keadaan di dalam, tetapi tidak melihat keberadaan kakak ipar dan keponakannya.


"Salah satu dari pihak Nyonya ikut security kami ke ruang kontrol CCTV, mungkin nanti bisa kita ketemukan petunjuk kemana perginya putri dan cucu Nyonya." penanggung jawab security memberi saran pada Marina.


"Iya pak..., tolong bantu kami menemukan putri dan juga cucuku." sambil terisak Marina berbicara pada security tersebut, dia menyesal kenapa tadi mereka hanya menunggu di pintu luar toilet. Dia dan Claudia tidak menemani putri dan cucunya masuk ke dalam.


"Putri Nyonya atau keluarga merasa punya musuh, atau orang yang akhir-akhir ini terlibat persengketaan dengan anggota keluarga?" kembali security yang ada di depannya bertanya pada Marina.


"Saya kesini ini mencari dan minta tolong untuk menemukan putri dan cucu saya, Bukan kamu malah menginterogasi saya. Jika tidak bisa membantu, bilang dari tadi. Aku akan lapor pada pemilik mall ini, agar mall ini ditutup." Marina tidak mampu menahan emosinya, Claudia memeluk mamanya dan berusaha menenangkannya.


"Sabar ma..., mama istirahat dulu saja ya!" Claudia berbicara pada Marina.


"Pak.., segera beri tahu kamu bagaimana hasil pemeriksaan kamera CCTV. Seegra instruksikan untuk menutup akses keluar dari mall ini, lakukan sweeping segera. Anda jangan khawatir, semua biaya yang timbul dari pemeriksaan ini akan menjadi tanggungan keluarga saya. Segera temukan kakak dan ponakan saya dalam keadaan tidak kurang satu apapun." Claudia memberi arahan tegas pada security itu.


 


***************


 


Mendapatkan panggilan telpon dari Claudia yang memberi tahu jika istri dan putranya menghilang di mall Senayan City, Ditya langsung berlari menuju basement dan langsung melarikan mobilnya. Terlihat di akses keluar gedung perkantoran, Prasetyo Pangestu menghadangnya dengan merentangkan kedua tangannya.


"Papa minggir..., Ditya harus segera ke Sen Ci pa!" teriak Ditya kalap. Tetapi Prasetyo Pangestu tetap tidak mau bergeser, kemudian mengetuk jendela mobil.


"Buka pintunya!" teriak pengusaha terkenal di negeri ini itu.

__ADS_1


Ditya baru tersadar, kemudian dia menekan tombol pembuka pintu, dan Prasetyo Pangestu langsung masuk dan duduk di samping Ditya putranya. Dia juga merasa kaget, karena baru saja menerima telpon dari istrinya Marina. Dia memberi tahu jika posisi mereka saat ini, sedang berada di pos penjagaan keamanan di mall tersebut.


"Tenanglah Dity..., Naura dan Ezaz pasti ketemu!! Kamu harus tetap berpikir tenang." Prasetyo menasehati putranya.


"Ditya sudah tidak setuju, saat mama tadi pagi bilang jika akan membawa Naura dan Claudia pergi pa. Tapi papa sendiri yang bilang, mereka akan aman. Tidak akan terjadi apa-apa, tapi mana buktinya pa?" sambil mengemudi dengan kencang, Ditya berbicara keras pada papanya.


"Sabarlah dulu..., siapa tahu Naura sedang ada sedikit urusan! Akhirnya mereka terpisah di mall. Wajar kan, karena mall itu kan ramai." Prasetyo tetap berusaha sabar, tidak terpancing dengan nada tinggi putranya itu. Sebenarnya dia juga ikut memarahi Marina, saat istrinya itu melaporkan jika menantu dan cucunya hilang di mall. Tetapi saat ini dia harus menenangkan putranya sebagai pihak utama yang kehilangan.


Ditya diam tidak menanggapi omongan papanya, dia masih fokus menyetir mobilnya dengan memandang ke depan. Tiba-tiba ponsel Ditya berdenting menadakan ada panggilan masuk, tetapi karena sedang menyetir Ditya mengangkat panggilan dengan menggunakan head set.


"Dity... apa benar yang disampaikan Claudia, jika Naura dan Ezaz hilang di mall?" terdengar suara Pradipta menanyakan keadaan yang terjadi.


"Ya." jawab Ditya singkat.


"Baik.. aku akan segera menyusulmu ke Jakarta. Dan akan aku kirimkan beberapa penyelidik untuk membantu mencari Naura dan Ezaz." Pradipta langsung mengakhiri panggilan, karena dia bisa merasakan apa yang saat ini sedang dialami sahabat dan juga bossnya itu.


Prasetyo melirik wajah putranya yang tampak panik, dan saat ini mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Tetapi sebagai orang tua laki-laki, dia memaklumi apa yang dilakukan putranya. Kemudian Prasetyo menghubungi seseorang..


"Pastikan anakku ketemu Jenderal, kerahkan timmu untuk mencari keberadaan putri dan cucuku!" Prasetyo terlihat berbicara dengan seseorang yang memiliki jabatan penting di negeri ini.


Sesampainya di lobby mall, tanpa bicara Ditya langsung membuka pintu mobil dan berlari keluar. Dia melemparkan kunci mobil pada petugas valley untuk mengurusi mobilnya. Melihat Prasetyo Pangestu di belakang yang mengikuti Ditya, petugas valley langsung memberikan hormat, kemudian segera meminggirkan mobil yang tadi dibawa Ditya.


Ditya langsung berlari menuju pos security dengan terengah-engah. Matanya terlihat merah karena menahan amarah bercampur dengan rasa khawatir. Marina dan Claudia langsung berpegangan tangan melihat kedatangan Ditya yang disusul Prasetyo Pangestu di belakangnya.


 


 

__ADS_1


*********************


__ADS_2