PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Bebaskan Aku


__ADS_3

Pradipta masih merasa oleng saat mendengar nada dering ponsel dari tadi. Dia mengambil ponselnya dengan malas, dan saat melihat unknown number, dia mengacuhkannya. Laki-laki itu kembali memeluk guling dan memejamkan matanya. Tetapi tidak lama kemudian, ponselnya kembali berdering. Dengan rasa malas, dia kemudian mengambil ponselnya itu  dan menekan tombol terima.


"Pagi.., Pradipta disini." sapa khas Pradipta keluar dari mulutnya.


"Dari tadi dipanggil, kenapa tidak diangkat. Tolong aku segera Pradipta, Naura.., aku melihatnya." Pradipta langsung membuka matanya, dia mendengar suara Ditya.


"Sebentar.., sebentar.., Dity.. ini benarkan kamu?? Kenapa kamu bisa menelponku saat ini, ada dimana kamu?" Pradipta memberondong Ditya dengan pertanyaan beruntun.


"Cepatlah kamu datang kesini, aku ada di pos polisi Tamarama. Ada kesalah pahaman, dikira aku adalah penjahat. Cepat bebaskan aku, aku harus segera membawa Naura!" Ditya langsung meminta Pradipta untuk segera datang.


'What..??? Bagaimana bisa Ditya.., kamu biasanya jam segini masih berada di dalam selimut. Kamu tidak mempermainkan aku bukan. Aku masih ngantuk Ditya, semalam tidak bisa tidur, aku digangguin sama Claudia. Aku harus menyalakan video call sampai dia tertidur." Pradipta malah menganggap Ditya main-main.


"Cepatlah kemari, bebaskan aku. Jika kamu tidak percaya, lihat apakah aku ada di kamar saat ini!" dengan nada jengkel, Ditya berbicara seru. Dia kemudian mengakhiri panggilannya.


Pradipta langsung seger beranjak dari tempat tidurnya, dengan melayang jalannya dia langsung mendatangi kamar Ditya. Tanpa mengetuk pintu, dia mendorong kamar tidur sahabatnya itu. Tetapi saat pintu terbuka, dia tidak melihat siapapun ada di kamar itu.


"****.., anak itu tidak ada. Berarti yang menghubungi aku tadi benar-benar Ditya. Sampai kapan anak iutu berhenti untuk menyusahkan aku." sambil berlari, Pradipta langsung kembali masuk ke kamarnya. Dia menggosok gigi dan cuci muka. Tanpa mandi, setelah mengganti bajunya dia langsung berlari keluar dari kamar.


"Iwan..., cepat antarkan aku ke pos polisi Tamarama!! Boss Ditya sedang ditahan disana saat ini." teriak Pradipta pada pengawal yang ditugaskan Prasetyo Pangestu untuk menjaga mereka selama berada di negara ini.


"Siap Boss.., tunggu sebentar aku ambil kunci mobil." sambil berlari Iwan mengambil kunci mobil, dan langsung mengambil mobil. Tanpa banyak bertanya, Iwan langsung mengantarkan Pradipta ke tempat yang ingin dia tuju. Untungnya pos polisi Tamarama berada tidak jauh dari mansion dimana mereka tinggal saat ini.


Setelah beberapa saat, akhirnya mobil yang disopiri Iwan memasuki halaman pos polisi. Iwan kemudian memarkir mobilnya di tempat khusus parkir. Pradipta langsung berlari ke dalam kantor, karena di pos penjagaan dia tidak melihat ada polisi satupun. Iwan mengawal Pradipta tepat di belakangnya.

__ADS_1


"Good morning sir. Can I meet the person who was arrested by the police this morning?" melihat polisi yang sedang berjalan, Pradipta langsung ijin untuk bertemu dengan Ditya.


"What is the name of the person you are looking for?" polisi balik bertanya tentang siapa yang mereka cari.


"Aditya Herlambang Pangestu, he is from Indonesia." Pradipta menjawab jika dia mencari Ditya.


"Okay, let's follow me!" Pradipta dan Iwan kemudian mengikuti polisi itu. Mereka dibawa ke tempat penampungan orang yang dicurigai, sambil menunggu untuk disidangkan di pengadilan.


"Dipta.., Iwan.., aku disini." terdengar suara Ditya memanggil mereka. Pardipta menoleh ke sumber suara, kemudian mereka mendatangi Ditya.


"Kamu kenapa Dity.., kenapa bisa seperti ini?" tanya Dipta.


Ditya langsung menceritakan kejadian yang melatar belakangi kenapa dia bisa berada disini. Iwan diminta Pradipta untuk mengurus pembebasan dan pemberian uang jaminan agar Ditya dibebaskan dari tuduhan.


****************


Setelah mendengarkan cerita dari Pradipta tentang kemungkinan Naura berada di kota ini, Ditya tidak bisa tidur. Dia ingin segera mencari tahu sendiri tentang kemungkinan dia menemukan istrinya di blok mansion yang diceritakan oleh sahabatnya itu. Pukul 03.00 pagi, laki-laki itu sudah berjalan keluar dari rumahnya dengan membuka pintu gerbang mansion sendiri, Dia langsung menuju mansion yang diceritakan Pradipta.


"Apakah rumah ini yang dimaksud oleh Pradipta?" tanya Ditya dalam hati.


"Aku akan menunggu sampai ada penghuni rumah ini yang membuka pintu gerbang di pagi hari. Aku akan bertanya padanya secara langsung." lanjt Ditya berbicara pada diirnya sendiri.


Dari kejauhan, jika orang tidak tahu dia memang seperti orang yang memiliki niat tidak baik. Dia sebentar-sebentar menengok ke arah rumah itu, dan hilir mudik jalan-jalan di depannya. Dia juga sama sekali tidak sadar, jika gerak geriknya diamati lewat kamera CCTV oleh perangkat polisi yang bertugas di kawasan tersebut.

__ADS_1


'Masih jam empat pagi, paling sebentar lagi orang-orang di rumah ini akan segera bangun. Aku akan duduk disini sambil memejamkan mata sebentar."


Ditya kemudian duduk di kursi panjang yang ada di pinggir jalan. Memang sebagai pantai tempat wisata, di sepanjang jalan yang ada di komplek itu ada fasilitas umum berupa kursi panjang di masing-masing mansion. Dia memejamkan matanya, dan tanpa sadar dia tertidur.


"Hello..., who are you? Come on, wake up!" tiba-tiba Ditya yang terlelap tidur, dibangunkan oleh suara orang yang mengguncang pundaknya.


"Who are you? And why did you wake me up?" Ditya bingung karena ada orang yang membangunkannya.


"I am a police officer on duty in this area. Do you have any evil?" ternyata polisi yang bertugas di wilayah itu yang telah membangunkannya. Bahkan mencurigai Ditya sebagai orang jahat.


"Don't get me wrong! I live in a Block A12 mansion. I'm a good person." Ditya sudah menyampaikan bahwa polisi itu salah paham terhadap dirinya. Tetapi perkataan yang disampaikan oleh Ditya tampak tidak dipercayai oleh polisi itu. Polisi tetap ngotot untuk membawanya ke pos polisi untuk mengamankannya.


Saat dia beradu argumen dengan polisi itu, pintu gerbang terdengar dibuka dari dalam. Sontak, Ditya menengok ke arah pintu. Dia seperti tidak percaya saat melihat seorang gadis yang tampak lebih kurus dengan mata cekung, mengenakan pakaian olah raga sedang keluar dari dalam.


"'Naura..," begitu panggilannya terhadap wanita itu keluar dari mulutnya, polisi sudah memasukkannya ke dalam mobil.


"Naura.., Naura.., Nauraku.." di dalam mobnil polisi, Ditya terus berusaha berontak untuk keluar menemui istrinya. Dia melihat bagaimana Naura juga menyadari bahwa itu dia, tetapi gadis itu merasa tiada berdaya. Dan dengan keras, polisi malah memukulnya sampai dia pingsan.


Saat dia bangun, dia sudah berada di pos polisi Tamarama, kemudian dia minta pada polisi untuk mengijinkannya menggunakan saluran telpon. Dia langsung menghubungi Pradipta agar memberikan jaminan untuk pembebasannya.


#Flash back Off


*********************

__ADS_1


__ADS_2