
"Kenapa kakak lakukan itu? Kasihan mama, papa kak. Bagaimanapun mereka melakukan semuanya untuk kita." mendengar perkataan Jessica, Naura sangat menyayangkan tindakan kakaknya itu.
"Huh...!" Jessica mengangkat sudut bibir nya ke atas dengan sinis.
"Sudahlah Naura, ini kondisi kakak saat ini. Kakak belum bisa menerima saat papa dan mama merelakan Putrinya untuk menikah dengan laki-laki tua."
"Itu dilakukan apakah untuk kita? Apa bukan hanya agar mereka tetap memiliki teman dan pengaruh dalam lingkungan pergaulannya?" tambahnya semakin sengit.
"Naura.., jangan salahkan kakakmu! Meskipun mama Novi dan papa Samsuar tidak mengetahui pernikahan kami, tetapi semua keluargaku hadir saat kami menikah." sahut Doni.
Ketiga teman Naura speechless, saat mereka makan bareng, malah mendengar hal seperti itu. Tetapi mereka memahami kondisi ganjil itu. Mereka akhirnya mengobrol sendiri, dan sepertinya Naura serta kakaknya tahu ketidak enakan mereka.
"Iya juga kak Don, bagaimanapun semua sudah terjadi. Tapi Naura usul, kalian berdua harus segera memberi tahu papa dan mama. Mintalah Restu pada mereka!"
Doni diam kemudian melihat ke arah Jessica.
"Sudah ayo, segera dihabiskan makanannya!" Jessica langsung mengalihkannya pembicaraan.
Naura hanya mengambil nafas dan menatap kakak iparnya Doni. Laki-laki itu mengangkat kedua bahunya keatas, kemudian melanjutkan makannya.
"Nau.., habis makan kita mau jalan kemana lagi?" tanya Iin.
"Habis makan, ya antarkan Naura kembali ke perusahaan dong! Naura khawatir boss dan suami Naura sudah bingung cariin Naura. Karena tadi Naura tidak pamit mereka, rencana mau kirim pesan ternyata ponsel juga tertinggal di meja kantor."
"Kapan sih, sifat cerobohmu hilang Na? Aku yakin, pasti khawatir banget suamimu. Ditelpon gih, pakai ponselku!"
"Sayangnya Naura juga tidak hafal Nomor kak Ditya. Biarlah, paling 30 menit lagi, kita juga sudah sampai kantor lagi."
"Bener Na, sambil kita lihat nanti. Apakah suami Naura Boss besar itu peduli dengan istrinya. Kalau dia cariin berarti dia peduli, kalau tidak. Cuekin saja Na!" sahut Akbar.
"Kalian ini bisa tidak sih, kalau kasih masukan itu yang positif. Sudah yuk, kasihan Naura. Jangan sampai image jadi down hanya karena makan siang bareng kita tanpa pamit." kata Fikri.
"Benar kata Fikri, Ayuk kita kembali! Lain waktu, kita bisa janjian lagi jemput Naura di kantor." melihat debat kecil teman-teman Naura, akhirnya Doni mengajak mereka segera kembali.
__ADS_1
Akhirnya mereka mengakhiri makan siang, dan berjalan keluar bersama menuju halaman parkir.
"Kok ada polisi? Di dalam tadi memangnya ada siapa?" tanya Jessica.
"Halah paling ada tokoh yang sedang makan disini juga kak. Di private room mungkin." sahut Naura.
"Wah malah mereka stand bye di mobil kita lagi. Agak rikuh nih ambil mobilnya."
"Iya juga ya, kayak kita ini buronan saja."
Begitu dekat dengan mobilnya, Doni menyalakan remote mobil. Dan yang mengejutkan, para polisi tidak berpindah tempat, malah semakin siap berjaga-jaga. Jessica melihat ke arah Doni.
"Selamat siang, siapakah yang membawa mobil ini?" tanya salah satu polisi pada mereka.
"Saya pak, ada ya? Ini mobil saya resmi dan surat-surat lengkap." kata Doni.
"Nanti bisa dijelaskan di kantor. Sekarang dua mobil ini, ikuti saya! Ada perintah untuk pengamanan penumpang yang ada dalam mobil ini, dan karena mobil Yaris ini terlihat bersama kalian, makan kalian juga ikut kami ke kantor.!"
"Deg.., apakah ulah kak Ditya ini?" Naura berpikir sendiri, tetapi dia menepis pikiran itu. Nanti jika tidak ada jalan keluar di kantor polisi, maka pilihan terakhirnya adalah menelpon suaminya.
Sesampainya di kantor polisi, mereka ditempatkan di ruang tamu khusus Kapolres. Tidak ada interogasi yang polisi lakukan, malah mereka disuguh teh manis panas.
"Siapa yang namanya Nona Naura?" tanya Kapolres dengan hati-hati seperti khawatir menyinggung.
"Saya Naura pak? Ada apa ya pak, apakah kami melakukan kesalahan? Kok tiba-tiba anak buah Bapak, meminta kami datang kesini."
"Iya pak, dan sepertinya saat kami datang ke rumah makan, juga tertib berkendara." Fikri ikut berbicara.
Kapolres tersenyum ramah, kemudian.
"Tunggu sebentar ya, kira-kira 15 menit lagi! Nanti Nona Naura akan tahu, kesalahan apa yang sudah dia lakukan. Bapak tinggal dulu sebentar, tapi jangan pergi dari ruangan ini. Bisa-bisa kalian dipindahkan di sel tahanan." goda Kapolres.
Naura langsung membatin, suaminya memiliki hubungan dekat dengan aparat di kota ini. Dia yakin sepenuhnya, penangkapan mereka ada hubungannya dengan Ditya. Tetapi dia diam, tidak memberi tahu kakak dan teman-temannya. Kalau Jessica tahu sekarang, mesti geger jadinya.
__ADS_1
"Benar istri saya bukan? Ada dimana dia sekarang?" terdengar di ruang sebelah suara Ditya.
"Tenang Dity.., yang penting Naura sudah ketemu kan. Kenapa jadi BUCIN kamu sekarang?" kata Pradipta.
Naura berusaha tetap tenang, dia berdiri untuk menyambut suaminya dan saat dia berjalan sampai di pintu, tiba-tiba pintu didorong dari luar.
"Aauw...," jerit Naura karena badannya hilang keseimbangan, dan sebelum jatuh ke lantai dia sudah dipeluk seseorang. Saat dia mengangkat wajahnya, matanya bertatapan dengan suaminya.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanpa kenal malu Ditya mencium kening Naura, kemudian mendekapnya lebih erat.
"Lepaskan dulu Naura, ini di tempat umum kak!" bisik Naura.
"Siapa yang menculik kamu? Besok lagi kamu di rumah saja, tidak perlu kerja! Pusing aku, muter-muter cariin kamu."
"Siapa yang diculik? Naura itu keluar makan siang sama teman-teman Naura. Sudah lama banget tidak makan soto Semarang, tadi dijemput kak Jess di kantor. Rencana mau kasih tahu Boss Dipta, tapi ponsel Naura ketinggalan."
Mendengar perkataan istrinya, Ditya melepaskan pelukannya kemudian menatap teman-teman Naura. Iin sudah akan over, tetapi melihat tatapan suami Naura, dia jadi menundukkan wajahnya.
"Jangan salahkan mereka! Kakak yang jemput Naura, apa begini kamu memperlakukan adikku. Dia seperti burung yang kamu kurung dalam sangkar?" tiba-tiba Jessica ambil suara.
"Adikku itu manusia, beri dia me time, privacy. Jangan hanya kamu suruh menurut padamu saja!" imbuhnya lagi.
"Kak Jess, maafkan kak Ditya! Bukan maksud kak Ditya seperti itu, kak Ditya trauma dengan penculikan Naura 2 Minggu yang lalu, jadi jangan disalahartikan kalau sekarang jadi over protective seperti ini!" Naura mencoba menenangkan kakaknya.
"Tidak perlu kamu belain suamimu Na? Mikir tidak, kalau kita ini juga punya agenda. Hanya gara-gara cari kamu, sampai kita harus ditahan disini. Itu kan tidak benar."
"Kak Ditya.., maafkan Naura ya kak Dity! Kakak dan teman-teman tidak bersalah, Naura yang mengajak mereka ketemuan. Karena saat di masjid, Naura tidak sempat berbincang dengan mereka. Kak..!"
Melihat suaminya masih menatap kakak dan teman-temannya dengan pandangan marah, Naura memberanikan diri memberikan kecupan di pipinya. Ditya terkejut, kemudian menatap istrinya dan langsung merangkul dan membawanya keluar.
"Hai Dity.. mau kemana?" tanya Pradipta.
"Urus mereka semua!" Ditya tidak memberi kesempatan pada istrinya untuk berpamitan dengan temannya.
__ADS_1
***************