PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Ungkapan Sayang


__ADS_3

Naura ditemani Ditya duduk menemani papa Samsuar berbicara dengan mama Novi. Sedangkan Ezaz sedang bermain bersama Bibi. Mereka berusaha untuk menenangkan perasaan Novi, dan meminta untuk menuruti apa yang diinginkan Jessica.


"Ma.., sudahlah. Mengalah sedikit demi anak apa susahnya sih? Kalau Jess tidak mau dibuat resepsi ya sudah, untuk apa pakai resepsi segala." Samsuar mengajak bicara Novi.


"Tapi pa.., kita hanya punya dua putri. Apa salahnya sih jika kita mengadakan pesta untuk publikasi jika kita memang sudah mantu. Hampir semua teman mama, mereka sudah pernah menyelenggarakan, hanya mama saja yang belum pernah."


"Tujuan mama sebenarnya untuk apa? Hanya untuk sekedar publikasi? Apakah ada jaminan, jika pakai resepsi pernikahan kemudian rumah tangga pengantin jadi keluarga yang sakinah? Belum tentu ma, itu hanya ceremony... wasting time and money." Naura ikut menanggapi mamanya.


"Kamu tidak akan pernah tahu rasanya Naura.., bagaimana sindiran teman-teman arisan, dipikir mereka putri mama tidak laku-laku."


"Jadi menurut mama, itu harus? Maaf ma, Naura juga tidak setuju. Jika sampai besok, mama belum mengambil keputusan terkait Restu untuk kak Jess, Naura akan balik ke rumah ma."


"Naura..., kenapa kamu jadi ikut-ikutan?" seru Novi dengan nada tinggi. Dia lupa jika disitu ada Ditya ikut duduk disamping Naura.


"Sebenarnya ini ada masalah apa ya? Kenapa mama malah membentak istri Ditya? Malam ini juga, Naura akan Ditya bawa pulang, jika masih ada yang membentaknya." Ditya dengan muka merah terlihat terpancing emosi, melihat mama mertuanya tanpa sadar membentak istrinya. Naura menggenggam erat tangan suaminya, memintanya untuk mengendalikan diri.


"Maaf nak Ditya.., ini hanya ada Miss saja. Bukan maksud mamanya Naura untuk membentak Naura." Samsuar mencoba menetralisir suasana.


"Oke pa.., jadi yang dimasalahkan ini sebenarnya apa? Mama ingin ada resepsi pernikahan dari putri-putri mama? Silakan tanya Naura.., jika dia mau. Secepatnya akan kita selenggarakan resepsi kami, agar mama bisa puas." lanjut Ditya.


"Tidak.., Naura tidak mau. Kak Ditya jangan ada usul aneh-aneh! Mama.., sudahlah. Segera panggil kak Jess dan mertuanya kesini. Kita sudahi semuanya ma, jika mama masih seperti ini. Malam ini juga mending kembali pulang." Naura ikut merajuk.


Novi tetap diam, dan karena tidak ada tanggapan dari istrinya, akhirnya Samsuar..


"Naura.., apakah kamu tahu dimana kakakmu tinggal?"


"Iya pa, Naura pernah kesana beberapa kali. Ada apa?"


"Besok pagi, temani papa ke tempat mereka! Papa akan secara resmi menyampaikan pada mertua Jess, jika papa merestui pernikahan mereka. Tidak peduli mamamu setuju atau tidak."


Naura memandang ke mamanya, tetapi wanita paruh baya itu tidak mengeluarkan respon apapun.


"Baik pa...besok pagi Naura antar papa berkunjung ke rumah kak Doni. Jam 7 ya pa?"


"Nanti Ditya ikut kesana pa. Nanti biar dikirim driver oleh Dipta, dan disiapkan semua oleh-oleh sekalian."

__ADS_1


Naura menengok tak percaya ke arah suaminya, tapi Ditya malah menjentikkan jari ke hidung istrinya.


"Kenapa sayang? Baru sadar jika suamimu ganteng dan tampan?" goda Ditya.


"Ge er..," sahut Naura sewot.


"Baik.., terima kasih nak Ditya. Papa mau ke kamar dulu, mau istirahat capai pikiran papa." selesai berbicara, Samsuar langsung berdiri meninggalkan putri dan menantunya. Novi tetap diam tidak berkomentar apapun, tapi tidak lama dia mengikuti suaminya ke kamar.


"Kak Ditya serius?" tanya Naura tiba-tiba.


"Apanya? Tadi yang bilang ke papa? Ya seriuslah.., kalau kamu bersedia saja, resepsi secepatnya bisa kita adakan. Biar mama Novi tersenyum bisa publikasi di depan teman-temannya."


"Ga usah aneh-aneh deh."


"Iya..iya.., Ayuk Momm.. sebentar saja. Mumpung Ezaz baru main sama Bibi?" Ditya mengkode Naura, tapi istrinya pura-pura tidak memahami apa yang dimaui suaminya.


Naura berdiri dan baru akan berjalan, tangannya ditarik suaminya ke dalam kamar.


****************


"Masnya mau ketemu sama siapa ya?" tanya Bibi pada Pradipta.


"Naura atau Ditya Bi.., sama saja."


"Duduk dulu, Bibi panggilkan dulu. Mau minum apa, sekalian saya siapkan?"


"Kopi hitam panas saja."


Tidak berapa lama, Naura keluar menemui Pradipta. Naura yang terbiasa tampil polos, hari ini dia menggunakan make up tipis. Tampak kecantikan wajahnya lebih menonjol, Pradipta sampai terpana melihatnya.


"Pak Dipta.., ada titipan baju untuk kak Ditya? Dia lagi mandi, Naura yang diminta mengambil."


"Nih.., jam berapa jadinya berangkat?" kata Dipta agak tergagap karena kaget dengan suara Naura.


"Jam 7 dari sini, ini lagi pada siap-siap. Pak Dipta, Naura tinggal dulu ya sebentar."

__ADS_1


"Ya.., ini aku juga lagi nungguin kopi panas."


Naura segera masuk kembali ke kamar, dan terlihat Ditya baru saja keluar dari kamar mandi.


"Nih kak batiknya.., baru saja diantar pak Dipta."


"Sekarang ada dimana dia?" tanya Ditya sambil menerima batik dari tangan istrinya.


"Menunggu di ruang tamu, sepertinya sudah dibuatkan kopi oleh Bibi. Kakak mau sarapan dulu tidak, kalau sarapan Naura siapkan dulu?"


"Gak usah.., nanti makan diluar saja! Kita tidak pernah kan makan bersama dengan keluarga?"


"Iya.., Naura ikut saja. Kak.. maafkan mama ya!"


"Maaf? Mama Novi tidak buat masalah apapun denganku, kenapa minta maaf? Harusnya kamu minta maaf sama keluarga kak Doni!"


"Tapi Naura tidak enak dan jujur tidak nyaman dengan sikap mama tadi malam. Naura malu kak.."


Ditya berjalan lebih mendekat ke arah istrinya, kemudian memeluknya.


"Naura.., kita ini suami istri. Bukan orag lain yang sedang ketemu.., semua masalahmu adalah masalahku juga, jangan sekali-kali kamu menyembunyikan masalah!"


"Jika ada apa-apa, beri tahu aku! Kita akan mencari cara bersama-sama. Untuk saat ini, lihat saja, mama Novi akan ikut ke tempat kak Doni. Itu feeling kakak." dengan penuh percaya diri, Ditya meyakinkan Naura.


"Benarkah? Bagaimana kakak bisa yakin seperti itu?"


"Mama itu menyayangi kalian berdua. Hanya cara pengungkapan berbeda, dengan adanya resepsi, adanya lamaran.. bagi orang tua adalah merupakan penghargaan atas putri mereka. Bukan hanya sekedar menghabiskan uang.., karena mama dan papa pernah menasehati aku saat akan membawamu menikah."


"Tetapi saat itu, maunya kita cepat menjadi pasangan suami istri, makanya aku mengabaikan nasehat mama dan papa."


"Dan setelah tadi malam, aku dapat memaknai ucapan dan nasehat mereka. Jadi jangan salahkan mama, aku yakin mama akan ikut."


"Iya kak, semoga. Terima kasih sudah mau menerima keluarga Naura kak."


Ditya memberikan kecupan lembut di kening Naura.

__ADS_1


****************


__ADS_2