PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Kamu Dimana Naura???


__ADS_3

Edward sudah duduk di meja makan, tetapi dia tidak melihat Naura dan Firmansyah. Dia mau mengetuk pintu kamar Naura merasa tidak enak, akhirnya dia memanggil Bi Ijah.


"Bi.., Bi Ijah.."


"Iya ada apa Tuan Edward? Tuan mau Bibi siapkan apalagi?"


"Pada kemana Bi? Apakah sudah pada berangkat kerja, dari tadi perasaan Edward tidak ketemu Naura, juga tidak ketemu Om Fir."


Bi Ijah bingung mau menjelaskan apa kepada Edward, akhirnya dia hanya diam.


"Kenapa tidak menjawab perkataanku Bi?" Edward mengingatkan pertanyaannya pada Bi Ijah.


"Iya Tuan, semalam Bibi sama Ujang juga bingung. Kita nungguin sampai malam, tetapi Non Naura belum pulang-pulang. Karena Tuan Firmansyah juga belum pulang, akhirnya kami berkesimpulan jika Non Naura baru bepergian sama Tuan Firmansyah."


"Kenapa tidak bilang padaku Bi? Kalau Naura tidak pergi sama Om bagaimana? Kalau Naura ada yang menculik bagaimana?" seru Edward dengan suara tinggi. Mendengar perkataan Edward, Bi Ijah menjadi ketakutan.


Edward langsung berdiri, dan tidak jadi melakukan sarapan.


"Aku akan mencari Naura, jika Om Fir pulang, bilang saja seperti itu!' bergegas Edward masuk kamar, mengambil kunci mobil dan langsung melarikan mobilnya.


"Dimana aku harus mencari gadis itu? Apakah pulang ke rumah orang tuanya? Terus laki-laki yang kemarin sore bersamanya itu siapanya Naura?" berbagai pertanyaan muncul di benak Edward.


Karena bingung akan mencari Naura kemana, akhirnya Edward mengarahkan mobilnya ke rumah orang tua Naura. 30 menit perjalanan, Edward menghentikan mobilnya di pinggir jalan, kemudian dia menekan bel pintu yang ada di dekat pintu gerbang. Tidak lama kemudian seorang laki-laki yang sedang membersihkan tanaman, berlari membukakan gerbang.


"Selamat pagi Tuan, mau mencari siapa?" tukang kebun di rumah keluarga Naura menyapanya.


"Mau mencari Naura ada pak?"


"Non Naura, apakah mas belum tahu. Non Naura sudah tidak pernah pulang ke rumah ini lagi, sejak dia menikah selama hampir 3 tahun ini."


"Masa? Di dalam rumah ada siapa saja?"


"Yah cuman kakaknya Non Naura dan kedua orang tuanya. Atau mas masuk dulu, saya panggilkan Tuan?"


"Ya sudah, terima kasih informasinya pak. Saya cari di tempat kerjanya saja. Mari pak." Edward langsung kembali ke mobilnya.


"Aku harus cari kemana lagi Naura? Atau aku ke tempat dia bekerja saja ya?" merasa tidak ada ide untuk menemukan Naura, Edward mengarahkan mobilnya menuju tempat bekerja Naura di PT. Elang Jaya.

__ADS_1


Sesampainya di kantor Naura, Edward langsung menuju pos security. Seorang satpam laki-laki menghampirinya.


"Permisi pak, selamat pagi. Bisa numpang tanya sebentar?" sapa Edward.


"Iya pak, silakan."


"Naura nya sudah datang belum ya pak? Saya keponakannya, mau ada keperluan sebentar. Jika sudah datang, bisa minta tolong untuk dipanggilkan Naura sebentar."


"Kalau biasanya sudah pak, ini sudah hampir jam 8 pagi. Tetapi saya ganti shift jam 5 pagi, belum melihat mbak Naura masuk. Jok.., pagi ini kamu sudah lihat sekeretaris pak Pradipta belum?" satpam itu bertanya pada teman satunya.


"Belum lihat, mungkin bareng pak Pradipta atau Pak Aditya? Siapa tahu ada acara penting, kayak kemarin pagi, mereka bertiga sudah menemui tamu di luar?" sahut satpam yang bernama Joko.


"Oh, jadi Naura disini sebagai sekretaris ya pak?"


"Iya pak, mbak Naura itu sekretarisnya pak Pradipta. Beliau itu wakilnya pak Ditya, boss perusahaan ini."


"Oh kalau gitu, terima kasih informasinya pak. Nanti saya akan telpon Naura langsung saja."


"Iya, pak."


"Ternyata Naura sekretaris Boss perusahaan ini. Yah, mungkin ada acara di luar kota. Jadi dia tidak bisa pulang tadi malam." Edward sedikit merasa tenang, kemudian dia langsung berangkat kerja.


**********************************************


Firmansyah tidak jadi berangkat ke kantor, dari apartemen Santi tiba-tiba dia merasa kangen ingin ketemu Naura. Dia juga merasa heran dengan perasaannya itu, bisa-bisanya dari pagi dia teringat Naura. Dia melirik jam di pergelangan tangannya, waktu masih menunjukkan pukul 06.45. Dia harus mencari alasan agar bisa meninggalkan Santi.


"Biasanya jam segini, pada sarapan di meja makan. Aku langsung ke sana saja." begitu menghentikan mobilnya, Firmansyah langsung ke ruang makan.


"Kok sepi, pada kemana? Atau sudah pada selesai sarapannya?" Firmansyah berpikir sendiri.


"Selamat pagi Tuan Firmansyah, apakah Tuan mau sarapan pagi? Bi Ijah siapkan dulu ya Tuan." tergopoh-gopoh Bi Ijah dari dapur menemui majikannya.


"Tidak perlu Bi, buatkan kopi hitam panas saja."


Firmansyah langsung meninggalkan BI Ijah dan duduk di ruang tengah. Dia melirik kamar Naura, tetapi tidak melihat ada gerakan gadis itu. Akhirnya Firmansyah duduk di depan kamar Naura, sambil membaca surat kabar.


"Ini kopinya Tuan?" Bi Ijah datang mengantarkan kopi ke mejanya.

__ADS_1


"Ya, kok sepi Bi? Naura sama Edward apa sudah pada berangkat?"


Bi Ijah tiba-tiba gugup mendapat pertanyaan seperti itu. Dia mau jujur takut, kena teguran. Melihat ART yang sudah ikut dengannya sejak dari dulu, Firmansyah.


"Ada apa Bi, ceritakan semua. Aku tidak akan marah."


"Begini Tuan, sepertinya Tuan Edward mencari Non Naura. Dari semalam Non Naura belum pulang kerja, karena Tuan juga tidak pulang. Bibi dan Ujang berpikir kalau Non Naura pergi bersama Tuan." dengan lirih Bi Ijah akhirnya bercerita.


Raut wajah Firmansyah langsung memerah, tetapi karena dia sudah berjanji untuk tidak akan marah, dia hanya mengangkat tangannya memberi isyarat agar Bi Ijah pergi dari depannya.


"Kemana Naura, apa pulang ke tempat Novi?" Firmansyah berpikir sendiri. Kemudian dia mengambil ponsel, dan melakukan panggilan telepon pada Novi.


"Ada apa Fir, tumben menelpon? Putriku baik-baik saja kan?" tanya Novi.


"Baik, Nov aku mau tanya. Jawab dengan jujur. Apakah akhir-akhir ini Naura ke rumahmu?"


"Kenapa kamu sebagai suaminya malah tanya hal tersebut padaku. Seharusnya kami yang bertanya, sejak Naura menikah denganmu, sekalipun dia belum pernah pulang ke rumah. Apa kamu melarangnya?"


Malas menjawab Novi, Firmansyah langsung menyimpulkan jika Naura tidak ada di rumah keluarganya.


"Kemana Naura, dia bukan tipe gadis pemberontak. Tidak mungkin Naura melarikan dirinya." batin Firmansyah.


Wajah Naura terlihat menari-nari di depannya. Kemudian dia menyesap kopi, dan langsung menuju ke mobilnya. Sambil mengemudi, Firmansyah menghubungi ponsel Naura. Tetapi ponsel Naura sudah kehabisan daya dari tadi malam, sehingga jawaban nomor tidak dapat dihubungi.


Dia kemudian menghubungi Edward, untungnya anak itu langsung mengangkat ponselnya.


"Ada apa Om?"


"Kamu tahu kemana Naura, kata Bi Ijah kamu sedang mencarinya?"


"Mungkin ke luar kota sama Boss nya Om. Naura kan sekretaris Pradipta, wakil Direktur Utama PT. Elang Jaya."


Mendengar jawaban keponakannya, hati Firmansyah sedikit merasa lega. Dia langsung memutar balik arah mobil, dan langsung menuju perusahaan.


******************


'

__ADS_1


__ADS_2