
Setelah menerima panggilan dari anak buahnya, Edward merasa panik. Segera dia mengajak Naura untuk meninggalkan hotel, dan gadis itu dengan rasa capai yang luar biasa hanya mengikuti keinginan laki-laki itu. Dia mencari celah, kapan bisa melarikan diri dari Edward.
"Kita lewat tangga darurat Naura, kuatkan dirimu. Kita berada di lantai 5 saat ini!"
ucap Edward sambil menarik tangan gadis itu.
Naura tidak menjawab, dan mengikuti permintaan Edward. Bahkan keluhan dalam hatinyapun sedikitpun tidak dia keluarkan.
"Cepat sedikit masih kuat tidak badanmu?" melihat Naura yang sempat berhenti, Edward menunggunya. Karena tidak sabar, Edward langsung mengangkat Naura, dan membawanya turun.
"Turunkan aku Edward, aku masih bisa jalan!" Naura meronta-ronta sambil memukul punggung Edward.
"Sudah, tolong jangan buat keributan Naura! Menurut orang-orangku yang ada di bandara, Ditya akan datang ke hotel ini, dia menyabotase petugas imigrasi yang akan membuat passport untukmu. Kita pikirkan cara lain, yang penting kita harus meninggalkan hotel ini secepatnya."
"Aku tidak butuh passport Edward, aku ingin tetap berada di negara ini. Aku tidak mau tinggal di luar negeri." rengek Naura, tetapi laki-laki yang tengah menggendongnya itu tidak peduli dengan tangisannya.
Edward membiarkan gadis itu menangis, dengan tersengal akhirnya mereka sudah bisa turun sampai ke basement. Edward melihat ada beberapa orang, dan dia tidak mengenalnya. Dia langsung mengambil ponsel, dan menghubungi anak buahnya.
"Aku sudah sampai basement, dan sepertinya orang-orang dari Ditya sudah berusaha mencegat kami. Siapkan mobilmu, masukkan ke basement sekarang!"
"Posisi?"
"Aku bersembunyi di samping toilet basement. Arahkan mobilmu kesini!"
Setelah menghubungi anak buahnya, Edward melihat ke arah Naura yang tampak lemas berpegangan pada tembok. Dia langsung menghampirinya.
"Tenangkan dirimu Naura, apa yang kamu takutkan? Kamu akan aman bersamaku, tenanglah!" Edward memeluk tubuh Naura yang tampak lemas.
"Nanti kamu makan di mobil ya, aku kan sudah bilang. Makanlah dulu, karena dari pagi tadi kamu belum makan. Tolong, sabar ya!" tambahnya lagi.
Sekitar 15 menit menunggu di samping toilet basement, akhirnya sebuah mobil datang dan merapat ke arah toilet. Beberapa orang tampak dengan awas mengawasi pergerakan mobil itu. Tetapi karena kebetulan di dekat Edward, terdapat space parkir kosong akhirnya mobil pura-pura parkir di tempat tersebut. Sambil merundukkan badan, Edward dengan memeluk Naura langsung masuk ke dalam mobil.
"Tunggu!" terdengar teriakan seseorang mencoba menghentikan mobil, tetapi mobil yang dinaiki Edward dan Naura dengan cepat meninggalkan basement.
Beberapa orang berlari mengejar mobil itu sampai mengeluarkan suara tembakan. Tetapi driver yang memabwa mobil seperti sudah terlatih dalam situasi tersebut. Sesampainya di pintu keluar hotel, di sebelah kanan dan kiri portal, tampak beberapa orang sedang menghadang mobil itu.
"Langsung kamu terjang saja portalnya!" perintah Edward.
"Tolong, jangan gunakan kekerasan! Aku takut Edward, ayo kita menyerahkan diri saja!" Naura terus menangis.
__ADS_1
Edward langsung memeluk Naura, dan memaksanya untuk menidurkan kepala di pangkuannya.
"Pejamkan matamu Naura, jangan terlalu banyak pikiran! Kamu akan aman bersamaku."
"Brak, dor.., dor...!" terdengar suara mobil menabrak portal pintu keluar hotel, yang langsung diikuti suara tembakan.
"Aawww.., apa itu Edward?" seru Naura yang semakin ketakutan sambil menyembunyikan mukanya di pangkuan Edward.
"Bukan apa-apa Naura. Kita aman di mobil ini, karena mobil papa kebal peluru."
"Kita ambil arah mana Boss? Karena tidak mungkin bisa terbang saat ini, aku yakin orang-orang Ditya sudah berada di bandara juga." tanya driver.
"Langsung ambil Muara Angke saja, sementara aku akan menunggu di Kepulauan Seribu sampai situasi relatif aman. Dari Teluk Jakarta aku akan bawa speedboat, aku akan hubungi yang lain untuk menyiapkannya."
***************************************
"Siapa orang yang telah berkhianat?" teriak Ditya.
"Sabar dulu Dity, kita disini sama-sama tidak tahu. Beberapa anak buah kita berusaha mengikuti mereka, tetapi mereka kehilangan karena macetnya jalan. Aku akan hubungi pihak kepolisian untuk memantau via CCTV jalan raya, tetapi harus tahu dulu plat mobil yang mereka bawa. Ini lagi dilacak lewat CCTV hotel." Pradipta mencoba menenangkan Ditya.
Ditya diam, kemudian menghubungi anak buahnya yang lain untuk memindahkan semua sumber daya yang sudah disiapkan di hotel tersebut. Dia terlihat sangat kacau, berkali-kali dia mengacak-acak rambutnya.
"Apa perlu aku minta bantuan papa ya Dipt, aku tidak bisa kehilangan Naura. Bisa hancur hidupku," kata Ditya pelan.
"Pertimbangkan dulu kemungkinan terbaik dan terburuknya Dity! Om Prast menyetujui tidak keinginanmu mendapatkan Naura? Kalau beliau setuju aku yakin tanpa kamu minta, jika Om Prast tahu masalahmu sudah akan mengirimkan bantuan. Tetapi akan terjadi sebaliknya, jika Om prast tidak menyetujui kamu ada hubungan dengan Naura."
"Aku tidak peduli dengan keluargaku Dipt. Setuju maupun tidak papa dan mama, aku akan tetap menjadikan Nauraku mendampingi hidupku di masa datang."
Pradipta diam tidak merespon perkataan sahabatnya itu, memang mengenal Naura belum genap satu minggu saja, dia juga mengakui ada rasa ketertarikannya pada gadis itu. Tetapi melihat latar belakang rumit Naura, dan ditambah dengan obsesi Ditya akan gadis itu, Pradipta mending menekan rasanya itu.
__ADS_1
**********************************
Begitu turun dari mobil, Edward langsung mengangkat Naura yang lemas menuju ke pelabuhan Kaliadem, Muara Angke. Dia langsung masuk ke speed boat yang sudah siap dengan mesin menyala untuk menyeberang ke Pulau Seribu.
"Langsung ke pulau Tidung ya!"
"Siap Boss," pengemudi langsung menjalankan boat menuju ke pulau Tidung.
Angin dingin menerpa dengan kencang, Edward melepas jaketnya dan menyelimutkan di tubuh Naura.
"Edward, kita mau kemana?" tanya Naura dengan lemah.
"Kita sementara di pulau Tidung lagi. Keluargaku ada villa disana, Om Firman tidak tahu jika kami asset disana."
"Untuk apa Edward? Mau jadi apa kita disana, ayo kita balik saja Edward! Aku capai, lelah."
"Sabarlah dulu Naura, aku tidak akan mencelakakan kamu. Percayalah padaku, tidak sampai satu jam, kita akan sampai disana!" Edward memeluk Naura karena rasa dingin air laut yang menerpa mereka di malam itu. Naura yang sudah tidak memiliki tenaga, hanya diam sambil menggigil kedinginan.
"Bang, kamu ada makanan tidak di boat ini?"
"Tidak ada boss, tadi saya pikir karena sudah malam, Boss sudah makan."
"Ya sudah."
"Kita sudah mau sampai kok Boss, tidak sampai 5 menit kita sudah akan menepi di pelabuhan."
Edward diam tidak menjawab, dan tidak lama kemudian pengemudi sudah menepikan boatnya di pinggir dermaga. Terlihat beberapa orang menjemput mereka di dermaga, dan saat Edward melihat Naura yang ada di sebelahnya, dia menjadi panik.
"Naura, bangunlah kita sudah sampai!" Edward menepuk-nepuk pipi Naura. Tetapi Naura diam, dan badannya terasa dingin. Langsung reflek dia mengangkat tubuh gadis itu, dan membawanya ke dermaga.
"Bawa mobilnya kesini, antar kami ke RSUD dulu!"
****************************************
__ADS_1