PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Pindah


__ADS_3

"Kondisi pasien atas nama agak beresiko untuk kehilangan bayi yang dikandungnya. Tubuhnya lemah, meskipun nutrisi dari selang infus sudah membantu memenuhi asupan gizinya, tetapi kondisi psikhologis pasien cenderung menghambatnya." dokter menjelaskan hasil diagnosis terhadap Naura pada Ditya.


"Upayakan yang terbaik untuk menetralisir psikhologisnya Dok, aku akan ratakan rumah sakit ini jika terjadi sesuatu pada Naura." DItya menekan dokter jaga tersebut.


"Tolong jangan lakukan itu Pak Ditya, Bapak harus memaklumi kondisi peralatan di RSUD ini! Kita sangat terbatas dari segi peralatan medis, tidak seperti kondisi peralatan yang ada di Jakarta. Beberapa pasien dari RSUD ini sering kita rujuk untuk mendapatkan perawatan pada rumah sakit di ibukota."


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Naura?"


"Sepertinya masalah kurangnya asupan nutrisi dan gizi bukan satu-satunya faktor penyebab kondisi pasien. Faktor kelelahan, dan yang terpenting adalah sepertinya mbak Naura mengalami depresi yang cenderung akut. Maka penting untuk netralisir depresinya terlebih dahulu, agar tidak berdampak pada bayi yang sedang dikandungnya."


Ditya terdiam sebentar. dia mengingat hal apa yang telah dialami gadis itu dalam satu minggu ini. Saat Naura dia bawa ke rumahnya, kemudian akta cerai dari suaminya dia kirimkan. Setelah itu, dari pagi hari sampai hari ini dia terbaring di rumah sakit.


"Baik Dokter, tolong siapkan semuanya. Aku akan pindahkan Naura ke rumah sakit di ibukota hari ini juga!"


"Ya baik pak DItya, tetapi Bapak harus menanda tangani jika pemindahan pasien atas request dari pihak keluarga sendiri, bukan karena rujukan dari saya. Tolong Bapak ikut memahami posisi saya!"


Ditya tidak mendengarkan dokter yang merawat Naura, dia langsung keluar dari ruangan konsultasi. Dokter langsung menelpon perawat untuk membereskan persyaratan administrasi yang harus dibawa pasien, Dia tidak tahu jika Ditya tidak membutuhkan surat rujukan tersebut, karena salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta adalah milik dari keluarganya.


 


 


***********************************


 


"Lihat dari ruang konsultasi, ada cowok tampan sekali! Sejak kapan rumah sakit ini punya pasien setampan itu?" bisik para perawat yang melihat Ditya keluar dari ruang konsultasi dokter.


"Oh my God..., sudah punya pacar belum dia? Tampannya."


"Hush.., jangan keras-keras. Kalau dia sampai dengar apa yang kita obrolkan, kita bisa hancur. Itu suami dari pasien yang semalam masuk dalam keadaan pingsan!" perawat yang melihat Ditya saat mendampingi dokter saat memeriksa Naura mengendalikan teman-temannya.


Mendengar perkataan temannya, para perawat perempuan langsung terdiam, hanya melirik DItya yang berjalan melewati mereka.


Ditya langsung menyampaikan pada para anak buahnya untuk menyiapkan helikopter, dan bisa parkir di halaman rumah sakit. Kemudian dia masuk kembali ke kamar Naura. Tanpa bicara apapun dia langsung menghampiri Naura yang masih terbaring lemah di ranjang.

__ADS_1


"Dipta..., kondisikan rumah sakit punya papa di Jakarta. Hari ini juga aku akan pindahkan Naura untuk di rawat disana!"


Pradipta memandang sebentar pada Ditya, tetapi melihat ada sedikit kemurungan di matanya, dia mengurungkan niatnya untuk konfirmasi lanjutan. Dia hanya menganggukkan kepala, kemudian keluar dari dalam kamar, Tinggal Ditya dan Naura kembali yang berada di dalam kamar.


"Kenapa tidak dimakan sarapannya? Mau aku suapin?" tanya Ditya lembut,


Naura melihat pada Ditya sebentar kemudian menggelengkan kepalanya.


"Naura.., harus diingat sekarang sayang, Kamu makan bukan hanya untuk dirimu sendiri, tetapi juga untuk bayi kita sayang. Ada makhluk kecil didalam perut ini sekarang. Kamu harus makan sayang!" setelah mengelus perut Naura, Ditya kemudian mengambil piring dan menyiapkan sarapan untuk Naura.


Mengenali sifat laki-laki disampingnya saat ini, yang tidak menerima penolakan, Naura membuka mulutnya saat Ditya menyuapkan sendok padanya. Hal itu berlangsung, dan Ditya tersenyum saat melihat nasi yang dia siapkan untuk Naura perlahan habis.


Pradipta sangat terkejut saat membuka pintu dan melihat pemandangan di depannya. Putra seorang konglomerat yang terkenal dingin dan tidak memiliki perasaan, saat ini penuh kasih sayang sedang menyuapi seorang gadis di depannya. Tanpa sadar, kelopak matanya menggenang air mata, dia sangat terharu melihat begitu lemah lembutnya, sahabatnya sekaligus Boss nya itu merendahkan martabatnya di hadapan Naura.


"Naura, beruntungnya dirimu. Kamu bisa terpilih oleh Ditya." batin Pradipta. Kemudian dia kembali keluar dari kamar, membiarkan sahabatnya menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.


 


 


**********************************


 


"Baik, kami segera keluar."


"Naura akan dibawa kemana lagi? Naura ingin pulang, kangen sama papa dan mama, juga kak Jessica. Jangan bawa Naura lagi, tolong Naura!" mendengar pembicaraan Ditya dan anak buahnya, Naura mulai menangis terisak-isak.


Ditya langsung memeluk Naura, kemudian berbisik padanya dengan suara lembut.


"Naura.., aku akan memindahkan kamu ke rumah sakit di Jakarta. Di RSUD sini, masih memiliki peralatan yang terbatas sayang. Jadi untuk cepat memulihkan kondisimu, aku akan membawamu kesana."


Tetapi Naura masih merasa trauma dan ketakutan akan keadaannya selama berhari-hari terakhir.


"Kalau kamu ingin bertemu kembali dengan kedua orang tuamu dan kakakmu Jessica, kamu harus mau aku pindahkan ke Jakarta sayang. Aku janji, mereka akan segera menemuimu di Jakarta!"

__ADS_1


Naura memandang ke wajah Ditya, dan laki-laki itu tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Pak Ditya tidak akan membohongi Naura? Benarkah Naura akan seegra ketemu dengan mereka?"


"Apakah aku pernah membohongimu sayang? Tenanglah Naura, apa yang kamu inginkan, secepatnya akan terwujud. Mau ya aku pindahkan sekarang?"


Naura menganggukkan kepala mencoba mempercayai apa yang dikatakan laki-laki itu. Kemudian Ditya mengambil infus di tongkat penyangga dan memberikannya pada Naura.


"Kamu pegang dulu ya sayang, aku akan mengangkatmu ke helikopter!" belum sampai Naura menjawab, Ditya langsung mengangkat tubuh Naura dan membawanya keluar kamar.


Beberapa orang dan polisi terlihat mengamankan lokasi dimana helikopter itu berada. Pengawal langsung mengamankan Ditya dan Naura sampai mereka bisa masuk ke helikopter. Terlihat Pradipta sudah duduk di depan disamping pilot yang menerbangkan helikopter.


"Bagaimana dengan Edward? Apakah dia baik-baik saja?" dengan suara pelan, Naura masih menanyakan keadaan Edward.


Ditya diam melihatnya, dia agak jengkel sebenarnya dengan pertanyaan gadis itu. Melihat kondisinya sendiri saja belum stabil, masih menanyakan kondisi orang yang telah menyebabkannya hampir celaka. Tetapi untuk mengambil hati Naura, Ditya dengan sabar menjawab pertanyaannya.


"Untuk keadaan pastinya, aku belum melihatnya sayang. Kan dari pagi aku tidak meninggalkan kamu sendiri?"


"Terus siapa yang membawa Edward? Apakah anak buah Bapak?"


"Kakak sayang, kan kemarin sudah sepakat untuk memanggilku dengan sebutan Kakak?" dengan tersenyum manis, Ditya mencoba menggoda Naura.


Pradipta menengok ke belakang, dan geleng-geleng kepala. Dia tidak menyangka sahabatnya yang berhati batu karang, bisa menjadi BUCIN.


"Ada apa pak Dipta?" tanya pilot sambil senyum-senyum sendiri.


"Tuh." sahut Pradipta singkat sambil kepalanya agak dia tolehkan ke belakang.


"Yah, namanya juga lagi mabuk cinta pak. Dunia mah seakan hanya milik mereka berdua. He..he..he.."


"Bicara apa kalian, bawa dengan benar!" tiba-tiba terdengar suara Ditya di belakangnya dengan nada tinggi.


"Siap Boss."


 

__ADS_1


 


*****************************************


__ADS_2