PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Tolong Selamatkan Aku


__ADS_3

"Pak Ditya, ijinkan Naura hari ini berangkat kerja! Masak Bapak tega mengurung Naura di kamar ini."


Naura berusaha merayu Ditya agar mengijinkannya berangkat ke tempat kerja hari ini. Aditya sedang memasang dasi di dalam kamarnya, tetapi Naura masih duduk di atas ranjang. Sedikitpun, Naura tidak diijinkan untuk keluar dari rumah itu. Untuk keperluan makan pagipun, ART yang mengantarkannya ke dalam kamar.


"Pak.., tolong Naura! Naura bosan kalau hanya ada di kamar ini terus. Ijinkan Naura ya pak, nanti pak Dipta akan mencari Naura."


"Pradipta tidak akan mencarimu, dia tahu posisimu saat ini ada di mana? Kamu jangan mencoba untuk menipuku, aku tahu kamu akan kabur meninggalkanku lagi."


"Tidak pak, Naura janji pak."


Aditya tidak menghiraukan rengekan gadis itu, setelah selesai dengan pakaiannya, Aditya kemudia keluar dari kamar, kemudian kembali mengunci Naura di dalam kamarnya. Naura menangis kencang minta tolong agar ada orang yang mau membukanya. Para ART hanya berada di luar kamar, mereka juga tidak berani memancing kemarahan Tuan Mudanya itu.


"Kasihan gadis itu ya, masak dia dikurung." kata seorang pelayan.


"Iya, tapi sebenarnya gadis itu sangat beruntung. Hanya dia yang pernah dibawa Tuan Muda ke rumah, kata Nyonya Besar, banyak gadis yang ingin dekat dengan Tuan Muda. Tetapi mendekatinya saja sudah diusir sama Tuan muda." kata pelayan satunya.


"Ayo, kita kembali pada pekerjaan kita. Biarlah itu menjadi urusan dari Tuan Muda. Kita ini siapa, tidak berhak kita ikut campur urusan Tuan Muda."


Akhirnya ketiga ART itu kembali pada pekerjaannya masing-masing. Meskipun mereka mendengar tangisan Naura, tetapi mereka juga tidak berani melanggar perintah dari Tuan Mudanya.


************************************************


Pradipta sangat kewalahan hari ini, pekerjaan yang biasanya sudah disiapkan oleh Naura, hari ini posisi Naura digantikan sementara oleh karyawan lainnya. Berkali-kali dia harus pusing kepala, karena banyak draft surat yang keliru. Karena merasa jengkel, pekerjaannya tidak beres-beres, Pradipta langsung mendatangi Aditya di ruang kerjanya.


"Dity..., tolonglah jangan kamu buat kacau perusahaan ini!" Pradipta langsung berbicara dengan suara keras pada Aditya, yang saat ini baru tenggelam dalam laptopnya. Dengan marah Aditya langsung balik membentak Pradipta.


"Kamu sadar sedang berbicara dengan siapa Dipt? Ini kantor, di dalam perusahaan ini, aku pimpinanmu. Bisakah kamu ketuk dulu pintu, sebelum masuk ke dalam ruanganku?"


"Aku sadar Dity, posisiku di perusahaan ini ada di bawahmu. Itu semua karena keinginanmu, kalau kamu ijinkan sekarang juga aku keluar dari perusahaan ini. Daripada aku harus selalu mengikuti keinginan gilamu itu." Pradipta langsung berbalik meninggalkan Aditya di ruangannya. Mendengar ancaman sahabatnya itu, Aditya langsung berdiri.


"Tunggu dulu Dipt. Kamu bicara apa, duduklah dulu."


Pradipta berhenti, dan tetap berdiri di depan pintu dia memandang Aditya.

__ADS_1


"Duduklah dulu, mari kita bicara. Aku hanya tidak suka, dengan caramu tadi. Aku baru lakukan koneksi penting, dan dari pagi belum berhasil. Tiba-tiba kamu datang, langsung bicara seperti itu."


"Aku hanya pesan Dity. Biarkan Naura tetap masuk kerja, bebaskan dia. Aku sudah terbiasa tergantung dengan kerja cepatnya, kalau kamu tahu, dari pagi sampai sekarang aku belum  bisa menyelesaikan satu pekerjaanpun."


"Jika ini berlangsung terus, dan aku belum menemukan pengganti Naura, apakah kamu mau perusahaan ini hancur karena ulahmu?" lanjut Pradipta lagi.


Aditya terdiam, kemudian dia menatap Pradipta.


"Kamu tahu bagaimana perasaanku dengan gadis itu Dipt. Berapa lama aku memerintah kamu, dan membayar banyak orang untuk menemukannya. Sekarang gadis itu, sudah berada di tanganku. aku kamu suruh untuk melepaskannya?"


"Tapi, apa yang bisa kamu lakukan pada gadis itu? Ingat Dity, gadis itu sudah memiliki suami, apakah kamu tidak berpikir jika suami gadis itu melaporkan kehilangannya ke polisi?"


"Maaf Dipt, aku tidak akan menyerahkan gadis itu untuk kembali pada suaminya. Apakah kamu tidak tahu, bagaimana perlakuan suaminya pada Naura. Dia wanitaku Dipt, aku tidak akan membiarkannya sendiri menderita."


"Dan aku sudah mengirim orang untuk menemui suaminya, besok pagi aku akan mengajaknya untuk bicara. Aku akan meminta Naura untukku."


Pradipta terdiam, karena dari sangat sulit untuk merubah keinginan laki-laki itu. Apa yang dia inginkan, harus selalu menjadi miliknya.


*******************************************


"Bagaimana cara aku bisa bebas dari cengkraman laki-laki itu, Apakah aku minta tolong sama kak Jessica dan kak Doni ya. tapi bagaimana caranya?" Naura mengacak-acak rambutnya, dia merasa pusing memikirkan cara untuk dapat melarikan diri dari rumah itu.


"Apa aku minta tolong Edward saja, karena tidak mungkin jika aku memberi tahu Om Firmansyah, mana peduli dia denganku?"


"Edward.., tolong aku. Bebaskan aku!" akhirnya Naura mengirim pesan pada Edward. karena sudah tiga kali dia melakukan panggilan pada keponakan suaminya itu, tidak ada jawaban. Dia memilih Edward, karena bagaimanapun Naura tahu, jika Edward masih memiliki kepedulian terhadapnya.


Tidak berapa lama, terdengar suara panggilan dari ponselnya, Naura segera mengangkat dan melihat Edward sedang memanggilnya.


"Edward..., tolong bebaskan aku Ward!"


"Naura, kamu dimana sekarang dan sedang bersama siapa?"


"Aku ditahan pak Aditya, dia bosku di perusahaan. Aku tidak tahu dimana aku berada saat ini, aku disekap di dalam kamar laki-laki itu. Tolong aku!" Naura menangis meminta tolong pada Edward.

__ADS_1


"Tunggu Naura, aku cari informasi dulu dimana alamat bossmu. Sebagai putra dari konglomerat, semoga saja alamatnya masih bisa aku lacak. Sabarlah dulu, tunggulah aku Naura. Aku pasti akan membebaskanmu."


"Terima kasih Edward, aku akan menunggumu," Naura merasa lega mendengarkan jawaban Edward, yang akan berusaha untuk membebaskannya.


************************************


Setelah menutup panggilan telpon, Edward kemudian melacak alamat Aditya Herlambang Pangestu melalui internet, Tetapi tidak satupun informasi dia dapatkan. Kemudian dia menelpon yellow pages, dan dijawab jika tidak ada pemilik rumah atas nama itu. Merasa tidak mendapatkan informasi apapun, Edward langsung mengambil kunci mobil, kemudian langsung keluar meninggalkan perusahaan.


"Aku harus menanyakan alamat Aditya pada security perusahaannya. Aku yakin, mereka pasti tahu alamat bossnya."


Dia langsung mengemudikan mobilnya dengan kencang,  dan langsung menuju PT. Elang Jaya. Kurang lebih 30 menit kemudian, Edward sudah memarkirkan mobilnya di depan gerbang perusahaan tersebut. Dia langsung turun dan berjalan menuju pos satpam perusahaan tersebut. Tidak lupa dia mengeluarkan amplop untuk tips satpam, jika dia berhasil mendapatkan informasi yang dia inginkan.


"Selamat siang pak," sapa Edward pada satpam yang bertugas.


"Siang, ada yang bisa kami bantu pak?" satpam yang berjaga itu menyapa kembali.


"Pak, saya membutuhkan informasi tempat tinggal dari pimpinan perusahaan ini, pak Aditya. Apakah kira-kira Bapak dapat memberikan informasi pada saya?"


Satpam itu diam sebentar, kemudian mengamati penampilan Edward dari atas sampai bawah. Tetapi satpam itu tidak melihat sedikitpun ada yang mencurigakan darinya.


"Dengan siapa saya bicara ya?"


"Saya Edward pak, dari perusahaan PT. Aneka Jaya." jawab Edward dengan tersenyum.


"Pak Edward, mohon maaf ya pak. Pak Aditya tidak pernah memberikan informasi tempat tinggal beliau. Jadi hanya orang-orang tertentu dari perusahaan ini yang tahu dimana beliau tinggal."


"Masak begitu pak, kalau ada apa-apa yang mkendadak terus bagaimana?"


"Kami lewat telpon pak, lagian mana tahu pak kami yang hanya bagian kecil dari perusahaan ini. Mohon maaf pak Edward, kami tidak bisa membantu."


"Ya sudah pak, terima kasih. Saya akan berusaha menanyakan pada sumber yang lain. permisi pak." dengan perasaan kecewa, Edward meninggalkan pos satpam. Tapi belum sampai di mobil, Edward mendengar seruan satpam.


"Pak Edward.., itu pak Aditya mau keluar. Bapak bisa ketemu saja disini daripada ke rumahnya." Edward hanya tersenyum sambil melambaikan tangan, kemudian dengan cepat Edward masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


************************************************


__ADS_2