
Setelah mendapatkan persetujuan dari keluarga Prasetyo Pangestu, Pradipta segera mempersiapkan keberangkatannya ke Australia. Petugas imigrasi juga sudah membuatkan visa tinggal untuk beberapa waktu di negara tersebut.
"Pa.., Claudia ikut kakak ya ke mansion di Tamarama. Kan sudah lama, Claudia tidak bepergian ke luar negeri." Claudia merayu Prasetyo Pangestu agar diijinkan mengikuti kepergian Pradipta dan Ditya.
"Terus kamu mau meninggalkan mama sendiri?" protes Marina.
"Bukannya begitu ma.., jujur Claudia bosen. Kuliah juga dah selesai, tinggal nunggu wisuda. No activity Mom... Dulu kan Claudia juga dah mengalah, ikut mamah waktu diminta kuliah di Jakarta." putri Prasetyo Pangestu itu terus berusaha merayu hati Marina.
"Minta ijin sana sama Pradipta, papa khawatir kamu ikut kesana, malah nantinya akan buat masalah. Kakakmu dan Pradipta itu mereka bekerja disana, bukannya main-main." kata Prasetyo Pangestu.
"Okay thank you pap.., kak Dipta mana ya? Belum balik Semarang kan?" Claudia berlari memberi kecupan di pipi Prasetyo Pangestu.
"Ambil passportmu, Pradipta baru di ruang tamu. Lagi ngobrol dengan petugas imigrasi, sekalian kamu minta dibuatkan visa sekalian." Prasetyo Pangestu memberi saran.
Mendapat saran dari papanya, Claudia segera menuju kamarnya untuk mencari passport. Setelah membawanya, dia langsung ke ruang tamu mencari Dipta dan petugas imigrasi.
"Ada apa Claudi? Kangen sama kak Dipta?" goda Pradipta.
Claudia tidak menjawab, dia malah memonyongkan bibirnya. Dia kemudian memberikan passport yang dipegangnya pada laki-laki muda itu.
"Apaan ini, passport?" tanya Pradipta bingung dengan perilaku Claudia.
"Iya..., Claudia mau ikut kakak dan kak Ditya ke Sydney. Kata papa boleh, asalkan kak Dipta mengijinkan. Boleh ya kak, please..!" dengan tatapan puppy eyes, Claudia memohon pada laki-laki itu.
Pradipta tersenyum sambil mengacak-acak rambut gadis itu, dia teringat apa yang dia lakukan tadi pagi di ruang kerja Prasetyo Pangestu. Melihat senyum dan permohonan Claudia, berdesir hati laki-laki itu.
"Boleh.., tapi ingat. There is no such things as a free lunch..," bisik Pradipta di telinga Claudia. Muka gadis itu langsung memerah, dia langsung mencubit pinggang laki-laki itu.
"Ha.., ha.., ha..., gadis kecilku yang cantik ternyata nakal." celetuk Pradipta, sampai sesaat dia lupa jika di depannya masih ada petugas imigrasi.
__ADS_1
"Ehemm...," tiba-tiba petugas imigrasi itu berdehem.
Claudia dan Pradipta langsung menoleh pada laki-laki itu.
"Maaf pak Harjanto.., kalau sudah ketemu adik cantik ini, saya suka kelupaan. Oh ya..., ini sekalian passport Claudia. Tolong sekalian buatkan visa seperti punya saya dan Aditya Herlambang Pangestu." Pradipta menyerahkan passport pada petugas imigrasi itu.
"Okay .., saya permisi dulu Tuan. Saya pastikan nanti malam visa sudah jadi." laki-laki bernama Harjanto itu langsung minta pamit. Pradipta mengantarnya sampai di depan pintu, dengan Claudia menggelendot di lengannya.
Setelah Harjanto meninggalkan rumah, Pradipta melirik ke arah Claudia. Dia tersenyum melihat gadis itu seperti tidak punya beban, menyandarkan kepalanya di lengannya.
"Claudia..., kamu tidak takut apa pada kakak?" tanyanya perlahan.
"Takut..., takut apaan kak?" tanya gadis itu dengan pandangan bengong.
"Kita ini beda jenis, dan juga tidak ada hubungan darah. Apakah kamu tidak tahu, jika perilakumu ini membangkitkan sesuatu yang ada dalam tubuhku?" tanya Pradipta sambil tersenyum smirk.
"Uhh.., aku yakin Claudi. Kamu tidak akan lama lagi akan jatuh ke pelukanku." gumam Pradipta, sambil mencium lengannya yang habis digigit oleh gadis itu.
*******"*
Melihat Naura yang duduk santai di sofa sambil membuka majalah bisnis, Ezaz berlari menghampirinya. Dengan lucu dia ikut naik dan duduk di samping Mommy nya.
"Mommy..., jalan yukk temani Zaz!" Ezaz merayu mommy nya untuk menemaninya jalan-jalan.
"Kemana sayang.., Mommy belum hafal daerah sini sayang, takut nyasar ga bisa balik kesini." dengan suara pelan, Naura menolak ajakan putranya.
"Kan sama Uncle Ward juga jalannya Momm. Uncle ajakin Momm and Zaz jalan ke pantai atau ke mall." dengan polosnya, Ezaz memberi tahu jika Edward yang ajak mereka.
"Mommy capai sayang.., kalau Zaz mau jalan. Ga pa pa, Zaz jalan sama Uncle. Tapi Mommy ga bisa sayang, Mommy mau di rumah saja." sambil tersenyum, Naura tetap menolak ajakan putranya.
__ADS_1
"Ya udah.., nanti Zaz bilang Uncle. Zaz mau di rumah saja, temani Mommy. Zaz ga mau jalan-jalan." ucap Ezaz lucu sambil meletakkan kepalanya di pangkuan Naura.
"Sekarang sayang Mommy tidur dulu ya." tangan Naura dengan pelan, mengelus-elus kepala putranya. Dari mulutnya menyenandungkan lagu pengantar tidur untuk Ezaz. Tidak berapa lama, Ezaz sudah mulai tertidur.
Setelah memastikan Ezaz terlelap, Naura bermaksud memindahkan putranya ke atas tempat tidur. Perlahan Naura mengangkat kepala Ezaz, dan meletakkannya sebentar di atas sofa. Dia kemudian berdiri, untuk membopong Ezaz.
"Aku saja yang angkat Ezaz. Dia sudah semakin besar, badanmu ga akan kuat angkat lagi." tiba-tiba Edward sudah berada di belakangnya.
Naura diam, dia membiarkan laki-laki yang menculiknya itu membawa Ezaz ke kamar. Sesampainya di depan pintu, Naura membukakan pintu sehingga Edward dengan mudah langsung membawanya masuk. Perlahan, Edward membaringkan kembali tubuh Ezaz dengan hati-hati di atas ranjang.
"Naura..., mumpung Ezaz tidur. Aku ingin mengajak kamu bicara." Edward mengajak Naura, kemudian dia menggandeng tangan Naura. Melihat tangannya dipegang laki-laki itu, Naura langsung berusaha melepaskannya.
"Aku tidak akan mengganggu waktu istirahatmu. Hanya sebentar." Edward tidak mau melepaskan pegangannya, dia tetap mengajak Naura keluar kamar. Kemudian dia mendudukkan Naura kembali ke sofa.
"Naura.., Jujur aku rindu suaramu, Bicaralah padaku!" ucap Edward sambil memandang wajah Naura. Dia duduk di depan gadis itu, kemudian tangannya mengambil kedua tangan gadis itu. Naura mengibaskan tangan Edward, tetapi laki-laki itu malah mengangkat kedua tangan Naura dan menciumnya dengan lembut.
"Sudah dua bulan Naura kamu berada di rumah ini denganku. Apakah sedikitpun kamu tidak mau memberi secuil hatimu untukku?" tanya Edward dengan suara pelan.
Melihat penolakan gadis itu terhadapnya, dalam hati, Edward merasakan kesedihan. Dia kembali menatap mata Naura.
"Katakan padaku Naura.., apa yang harus aku lakukan. Agar kamu bisa menghadirkan senyuman di bibirmu lagi untukku?" ucap Edward yang tidak ada bosan berbicara.
"Antar aku dan Ezaz ke suamiku, kak Ditya." jawab Naura pelan.
"Apa yang kamu bilang?? Huh..., dua sudut bibir atas Edward, sedikit diangkat keatas.
"Setelah lewat tiga bulan, kamu meninggalnya, aku akan melihat bagaimana responnya terhadapmu." dengan senyum licik, Edward berbicara.
*********
__ADS_1