
Sesampainya di rumah, baru saja Naura turun dari mobil dan suaminya memindahkan mobil, penjaga rumah menghampiri Naura yang sedang memegang stroller Ezaz.
"Non.., tadi ada yang ijin minta ketemu dengan Non Naura. Tetapi Non dan Tuan sedang tidak ada di rumah, terus katanya nanti sore mau kesini lagi Non." , penjaga rumah langsung menginformasikan jika tadi pagi ada yang mencarinya. Untungnya Ditya tidak mendengar apa yang disampaikan penjaga itu, karena laki-laki itu sedang memasukkan mobil ke dalam garasi.
Naura mengerenyitkan keningnya, karena merasa tidak memiliki janji dengan siapapun.
"Laki-laki atau perempuan pak yang mencari saya? Atau mungkin dia meninggalkan contact person yang bisa dihubungi?" merasa penasaran, Naura bertanya lebih lanjut pada penjaga rumah.
"Maaf ya Non, saya lupa menanyakan namanya. Orangnya laki-laki Non, masih muda. Ditunggu saja Non, nanti sore anaknya kan mau datang kesini."
"Iya juga sih, saya masuk dulu ya pak." Naura tersenyum sendiri, kemudian dia mulai berjalan dan masuk ke dalam rumah sambil mendorong stroller Ezaz.
"Bicara apa kamu dengan penjaga rumah? Dibiasakan masuk dulu ke rumah, jika penjaga itu ada perlu, dia pasti akan masuk ke rumah untuk mencarimu." Ditya berdiri di depan pintu menunggunya, kemudian mengambil Ezaz dari stroller, kemudian menggendongnya.
"Hanya memberi tahu, jika ada yang mencari Naura. Tapi nanti sore, dia akan datang kesini lagi." tidak mau membohongi suaminya, Naura memberi tahukan juga pada Ditya.
"Siapa dia? Kamu ada janji dengan seseorang?" dengan tatapan curiga, suami Naura langsung memastikan. Sebenarnya Ditya sudah mencoba melonggarkan perlakuan over protective pada istrinya, tetapi terkadang ada kekhawatiran jika istrinya akan meninggalkannya.
"Ya Tuhan kak Ditya.., tidak begitu juga lihat Naura kali. Naura tidak tahu siapa yang datang, karena penjaga lupa untuk menanyakan namanya. Kalau tetap curiga, hari ini kak Ditya tidak usah datang ke kantor, tungguin saja siapa yang mencari Naura." setelah mengucapkan kalimat itu, Naura langsung masuk ke dalam kamar.
"Lhah.., kok malah dianya yang ngambek." Ditya langsung menyerahkan Ezaz untuk digendong baby sitter, kemudian dia mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar.
**************
Pradipta menunggu Ditya di ruang tamu, karena ada rekanan bisnis yang minta ketemu langsung dengan Ditya maka wakil CEO itu langsung datang menjemput Bossnya sendiri. Dia tidak mau berdebat dengan DItya di telpon, maka dia langsung ke rumah. Dengan muka bantal, Ditya keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Naura ikut mengantarkan suaminya keluar ruangan.
"Kamu itu sudah pikun apa Dipt? Aku sudah kasih tahu kamu kan tadi pagi, jika hari ini aku Off dari urusan perusahaan dulu. Aku mau me time dengan istriku di rumah." begitu melihat Pradipta, Ditya langsung menyemprotnya.
__ADS_1
"Ini penting Dity.., karena tanpa kamu client kita ini tidak akan mau ketemu. Daripada project kita gagal, mending aku jemput saja kamu di rumah. He..he..he.." sambil tertawa kecil Pradipta menjelaskan maksud dia datang.
"Makanya, segera kamu menikah! Jangan jadi jomblo.." sambil mengomel, Ditya langsung berjalan ke arah pintu keluar.
"Eits.. apa hubungannya aku jemput kamu, dengan kamu minta aku untuk segera menikah? Kamu paham maksud ucapan suamimu Naura?" Naura tertawa kecil sambil mengangkat kedua bahunya keatas, sebagai isyarat dia juga tidak memahami maksud suaminya.
"Pikir sendiri, apa hubungan perkataanku dengan kalimatmu!" sahut Ditya cepat, yang langsung berhenti dan menunggu Naura agar tepat berdiri di sampingnya.
"Hi..hi..hi.., Naura sudah paham apa yang dimaksud kak Ditya." Naura menutup mulutnya, saat dia sudah berada di samping suaminya, tiba-tiba tangan Ditya sudah berada di pinggangnya. Tanpa dia sangka, di depan Pradipta dan penjaga rumah, laki-laki itu mencium bibir Naura. Naura mencoba menolak, tetapi pelukan Ditya sangat erat. Setelah mereka hampir kehabisan nafas, baru dengan tersenyum manis Ditya melepaskannya.
"Lihat-lihat tempat dong kak!" semprot Naura dengan pipi merah menahan malu.
"Hadeeh broo..., tidak ada tempat lain apa? Pamer adegan mesum di depan rumah." seru Pradipta sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Hati-hati di rumah, jika nanti sore temanmu datang kesini, jangan mau diajak keluar rumah! Aku tidak memberimu ijin untuk kemana-mana hari ini, tanpa ada aku disampingmu." mengabaikan perkataan Pradipta, Ditya berpesan pada istrinya.
"Siap Tuan Besar..," sahut Naura sambil mengangkat tangan dan meletakkan di dahinya. Ditya memberikan kecupan singkat di kening Naura, kemudian turun ke halaman dan masuk ke dalam mobil Pradipta.
******************
Terdengar suara ketukan pintu tiga kali di kamar Naura, membuat Naura yang sedang membri ASI pada putranya menengok ke arah pintu.
"Masuk.." teriak Naura sambil membetulkan posisi Ezaz tidur.
"Maaf Non, Bibi mengganggu. Ada anak laki-laki Non yang sedang menunggu di teras. Tanpa ijin dari Non Naura, Bibi belum memintanya untuk menunggu di dalam ruang tamu." pelayan rumah yang sudah masuk ke dalam kamar Naura, memberi tahu jika ada tamu.
__ADS_1
"Diminta masuk saja tidak apa-apa Bi. Minta menunggu Naura sebentar, biar Ezaz kenyang dulu! Sama sekalian, minta Mira untuk kesini, agar menggendong dan memindahkan Ezaz ke kamarnya!"
"Baik Non, Bibi akan meminta tamu yang mencari Non untuk masuk ke dalam rumah." pelayan yang berusia paruh baya itu kemudian keluar kamar dan menutup pintu kamar kembali dengan pelan.
Setelah memastikan Ezaz kenyang dan tertidur lelap, Naura pelan-pelan bangun. Sambil menunggu Mira masuk untuk memindahkan Ezaz, dia kemudian mengganti baju dasternya dengan pakaian yang lebih rapi.
"Tok.., tok.. tok.." perlahan pintu diketuk tiga kali, dan pintu kamarnya didorong dari luar. Mira yang sudah mandi dan rapi, masuk ke kamar Naura.
"Non.., Ezaz langsung saya bawa ya! Biar saya tidurkan di kamarnya saja." Mira meminta ijin untuk memindahkan Ezaz ke kamarnya.
"Ya hati-hati." jawab Naura cepat sambil menyisir rambutnya.
Tidak berapa lama, Naura sudah selesai berdandan sedikit. Kemudian perlahan dia keluar dari kamarnya untuk menemui orang yang tadi pagi datang mencarinya. Saat selesai menutup pintu, Naura berhenti sejenak.
"Siapa laki-laki itu?" Naura berpikir sendiri, saat melihat punggung seorang laki-laki sedang duduk di meja tamu. Laki-laki itu mengenakan kemeja dari bahan kain fanel kota-kotak. Dia duduk membelakanginya, sehingga Naura tidak bisa mengetahui siapa dirinya. Perlahan dia melangkah ke ruang tamu, dan bertepatan anak laki-laki itu menoleh padanya.
"Hey..., aku tidak salah lihat kan? Ini benaran kamu?" Naura tampak kegirangan melihat laki-laki muda itu berdiri di depannya.
***************
__ADS_1