PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Mengingatnya


__ADS_3

Naura hampir terjatuh saat Ditya mendorongnya masuk ke dalam kamar, kemudian menguncinya dari luar. Dia menangis di balik pintu, tangannya mengetuk agar dibukakan pintunya. Tetapi tidak ada yang membukanya, dan dia sama sekali tidak dapat mendengarkan suara dari luar, karena kamar Ditya memang didesain kedap suara. Akhirnya dia menjatuhkan dirinya di lantai yang dilapisi dengan karpet tebal, karena merasa tidak berdaya dia menyandarkan badannya di pintu kamar.


"Ya Tuhan, selamatkan Naura!" dengan menangis Naura bicara sendiri.


"Kenapa nasib buruk selalu membersamai Naura Ya Tuhan? Sebenarnya dosa apa yang sudah Naura  lakukan?"


Naura terus menangis. Dia mengingat kembali kejadian malam itu, saat dia mengajak laki-laki itu untuk tidur dengannya karena pengaruh obat. Meskipun dia tidak bisa mengingat wajah laki-laki yang telah tidur dengannya, tetapi pelukan dan kehangatan yang diberikan Aditya padanya tadi, masih sama dengan yang dia rasakan malam itu.


"Aku tidak pantas untuk pak Aditya, dan saat ini aku juga tidak lagi pantas untuk Om Firmansyah. Aku kotor." gumam Naura meratapi nasibnya.


Dia terus menangis, kemudian dia mengamati kamar Aditya, mencari celah untuk melarikan diri. Sebuah kamar yang sangat mewah dan luas, dengan ranjang king size berada di tengah. Warna hitam putih mendominasi kamar tersbut, cocok untuk gaya maskulin Aditya. Tetapi Naura mengamatinya, dia mustahil bisa melarikan diri dari situ. Karena jendela yang ada, memiliki teralis yang sangat kuat, dan dia juga yakin mesti ada pengaman tersendiri untuk kamar Aditya.


"Apa yang akan terjadi pada Naura malam ini, Naura ingin pulang." Naura menjatuhkan badannya di lantai, dan tidak lama dia tertidur di lantai kamar Ditya.


*************************************************


"Jang..., Non Naura kok belum pulang ya? Apakah tadi Non memberi tahu kamu kalau akan pulang terlambat, tapi ini sudah jam 21 lebih." Bi Ijah tampak khawatir menanyakan Naura pada Ujang.


"Tidak Bi, kemarin sih dua hari Non Naura pulang bareng sama Tuan Edward. Tetapi tadi Tuan pulang sendiri, dan tanpa senyum langsung masuk ke dalam kamar."


"Iya Jang, semoga Non Naura baik-baik saja ya Jang. Bibi betul-betul khawatir jika terjadi sesuatu dengan Non Naura. Dia orangnya sangat baik, dia menerima apa saja perlakuan dari Tuan Firmansyah. Tidak pernah menuntut, selalu menerima."


"Jam segini Tuan Firmansyah juga belum pulang ya Jang?" tanya Bi Ijah lagi.


"Belum Bi, atau mungkin Non Naura pergi sama Tuan ya Bi?"


"Gimana ya Jang, Bibi juga bingung jawab pertanyaanmu. Sebenarnya kalau menengok Non Naura itu, bibi sangat kasihan sekali. Kok ya dulu orang tuanya tega menikahkannya dengan Tuan Firmansyah. Harusnya dia bisa mendapatkan jodoh yang seumuran dengannya, ini malah dinikahkan dengan Tuan, dan tidak pernah dianggap sebagai istri beneran lagi."

__ADS_1


"Iya juga ya Bi, tapi Non Naura tidak pernah menuntut lebih dari Tuan. Bahkan Ujang sangat yakin, jika Tuan Edward itu ada rasa dengan Non. Tetapi Non tidak memberinya kesempatan. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Non Naura malam ini. Aamiin."


"Semoga saja Jang, kamu tungguin Non Naura ya? Bibi mau masuk dulu."


Bi Ijah kemudian masuk ke dalam rumah, dan berpapasan dengan Edward yang sedang mengambil air minum di dapur.


"Tuan Edward mau makan, Bibi siapkan dulu ya Tuan?"


"Tidak Bi, tadi sore Edward sudah makan di luar. Dari mana Bi, jam segini kok dari luar?"


"Biasa Tuan, habis ngobrol sama Ujang di luar. Karena Bibi sudah ngantuk ya, akhirnya Bibi masuk duluan."


"Ya, silakan Bibi tidur dulu." Edward langsung meninggalkan Bi Ijah. Saat dia lewat di depan kamar Naura, dia hanya melihatnya sebentar kemudian dia langsung masuk ke kamarnya sendiri.


*********************************************


"Mas..., malam ini tidur disini saja ya. Santi tidak mau sendiri, tiba-tiba Santi merasa khawatir dan takut mas." bisik Santi di telinga Firmansyah.


"Halah, kamu juga biasanya sendiri kan setiap malam. Mas pingin pulang, besok mau berangkat kerja pagi, ada yang mau tak tanda tangani."


"Kerja kan bisa berangkat dari sini, di rumah kamu juga cuma tidur sendiri kan. Mendingan disini, ada aku yang memelukmu sepanjang malam."


Santi kembali memasukkan tangannya ke dalam kemeja Firmansyah, saat kekasihnya itu akan melepaskannya, Santi memberikan kecupan lembut di belakang telinga  kekasihnya itu.


"Sayang, kan tadi barusan kita sudah. Besok lagi ya, aku pulang dulu."


"Tidak boleh pulang, malam ini temani Santi disini." untuk menahan agar Firmansyah tidak pulang, Santi segera melepaskan baju Firmansyah, dan tangannya terus menggerilya di tubuh laki-laki itu.

__ADS_1


Merasakan lembutnya tangan Santi yang bermain-main di tubuhnya, Firmansyah tidak dapat menahan hasrat alami warisan nenek moyang yang serasa menerbangkannya. Tidak lama kemudian, dengan tenaganya Firmansyah membalik tubuh Santi dan meletakkan di bawah tubuhnya. Pergumulan dan pergulatan keduanya terjadi, dan akhirnya mereka kembali menyatukan kedua tubuhnya.


*********************************************


"Pulanglah Dipt, aku tidak akan memberikan wanitaku padamu. Setelah kejadian malam itu, aku hanya menginginkannya, tolong pahami aku Dipt." Ditya tetap menolak usul sahabatnya yang akan mengantarkan Naura pulang malam itu.


"Jika kamu tidak mengijinkan aku untuk membawa pulang Naura malam ini, aku juga tidak akan pulang. Aku akan mencegahmu menyakiti gadis itu."


"Terserah apa maumu Dipt, silakan masuk kamar. Istirahatlah, hari sudah malam."


"Kamu mau kemana Dity, jangan masuk kamarmu. Disana ada Naura, jangan buat dia takut."


"Apa yang kamu khawatirkan Dipta. Kami sudah pernah melakukannya malam itu, tapi aku janji. Aku tidak akan mengganggunya sebelum dia bisa menerimaku dengan tulus. Aku hanya akan memastikan wanitaku bisa istirahat nyaman di kamarku. Percayalah padaku Dipta. Masuklah ke kamarmu."


Merasa sulit meyakinkan sahabatnya itu jika sudah memiliki keinginan, Pradipta meninggalkan Ditya sendirian, dan segera masuk ke dalam kamar. Ditya langsung melangkah menuju kamarnya, kemudian dia membuka kunci dari luar. Dia terkejut melihat Naura tertidur di lantai kamar depan pintu. Perlahan dia menutup pintu kamar, menguncinya. Perlahan dia mengangkat tubuh Naura, dan membaringkannya di atas ranjang.


"Kamu sangat cantik wanitaku Naura." bisik Ditya sambil memandang dan mengusap lembut wajah Naura.


Ditya tersadar jika dia dan Naura masih mengenakan pakaian kerja. Kemudian dia meninggalkan Naura sebentar, untuk membersihkan dirinya di kamar mandi. Selesai mandi, Ditya menelpon bagian dapur untuk mengantarkan makanan ke dalam kamarnya, dan meminta butik langganannya untuk mengantarkan baju dan perlengkapan untuk Naura.


Tidak lama, pintu kamarnya diketuk dari luar tiga kali. Ternyata ART mengantarkan makanan ke dalam kamar.


"Taruh di meja samping ranjang. Jika ada yang mengantarkan pakaian dari butik langgananku, langsung bawa kesini barangnya."


"Ya Tuan."


Ditya akan membangunkan Naura, namun melihat gadis itu sangat pulas tertidur, dia menjadi tidak tega. DItya menurunkan wajahnya di atas wajah Naura, kemudian memberikan kecupan lembut di keningnya. Kemudian Ditya pindah di sofa kamarnya, kemudian berbaring di atasnya. Akhirnya tidak lama kemudian, diapun ikut tertidur.

__ADS_1


************************************************************


__ADS_2