
Naura mengetuk sebuah ruangan yang ditunjukkan oleh karyawan PT. Elang Jaya, dan sesudah dipersilakan masuk, Naura mendorong pintu. Tampak di depannya duduk dua orang, satu laki-laki yaitu Pradipta, dan satu orang karyawan perempuan. Naura mengintip name tag yang tertempel di dadanya, wanita itu bernama Herwinda.
"Silakan duduk." Herwinda mempersilakannya duduk.
"Terima kasih." jawab Naura kemudian duduk di kursi yang sudah di sediakan untuknya.
"Okay..., dengan mbak Naura ya namanya. Rekomendasi dari Sekolah Tinggi di daerah Semarang. Okay Naura..., apa yang bisa kamu tunjukkan hari ini pada kami." Herwinda yang pertama kali mengajaknya bicara, sedangkan Pradipta hanya melihatnya saja.
Naura menyerahkan berkas yang sudah dia siapkan tadi malam, yang bersisi port folio prestasi, ijazah, transkrip dan curriculum vitae nya. Herwinda menerimanya kemudian mempelajarinya sebentar, kemudian mengambil CV, dan berkas lainnya dia serahkan pada Pradipta.
"Komentar pertama dariku untukmu Naura. Kamu lebih siap dari dua kandidat lain yang baru saja kami wawancarai. Sekarang apa yang membuatmu ingin bergabung dengan perusahaan ini, dan apa yang kamu miliki?"
"Terima kasih Ibu Herwinda. Saya seorang pekerja keras, yang menyukai tantangan, dan selama saya menjadi mahasiswa, yang dapat Ibu lihat pada portfolio yang saya tuliskan, hari-hari selalu saya isi dengan kegiatan positif. Sekaligus saya menjadi aktivis sebuah organisasi. Meskipun sebagai aktivis organisasi, tidak mengurangi minat saya dalam belajar, dan saya berhasil lulus sangat tepat waktu yaitu 3.5 tahun dengan Ipk 3,89."
"Meskipun saya belum memiliki pengalaman kerja sebelumnya, tetapi daya juang saya sebagai anak muda yang ingin selalu mengkaryakan sesuatu yang bagus, akan menjadi bekal saya untuk bekerja lebih baik ke depannya nanti."
Setiap pertanyaan yang diajukan Herwinda pada Naura, selalu dapat dia tangkap dan terjemahkan dengan baik. Pradipta senyum-senyum, karena dari awal dia sudah tidak meragukan capabilty dari Naura. Selama hampir satu jam, terjalin diskusi menarik antara Herwinda dan Naura. Herwinda merasa mendapatkan partner discuss yang cocok untuknya.
"Okay Naura. Tidak sadar kita menghabiskan waktu satu jam sendiri untuk diskusi. Saya cukup, silakan pak Pradipta untuk menyampaikan konfirmasi dan klarifikasi pada Naura." Herwinda mengakhiri sesi tanya jawabnya, kemudian memberikan kesempatan bicara pada Pradipta.
"Terima kasih Win. Saya tidak akan tanya panjang lebar seperti kamu Wind. Karena dari awal saya sudah mengetahui siapa Naura. Hanya satu pertanyaan saya, hasil nanti sore akan dikirimkan ke email, kebetulan minggu depan pas siklus penggajian perusahaan kami. Apakah kamu sudah menyiapkan diri untuk join di perusahaan ini."
Pertanyaan yang diajukan Pradipta, cukup membuat terkejut Naura yang malah tidak dengan cepat menjawabnya.
"Naura kenapa tidak langsung menjawab pertanyaan Pradipta?" Herwinda mengingatkan Naura.
"Maafkan saya Bu Herwinda dan Pak Pradipta. Saya tadi kurang mempercayai apa yang tadi saya dengar. Jika apa yang saya dengar adalah saya diterima. Minggu depan, saya siap dan akan berada di perusahaan ini tepat waktu sesuai jam kerja perusahaan."
__ADS_1
"Okay, Pradipta ini orangnya terus terang dan to the point Naura. Selamat, kamu sudah dipilih Dipta untuk mengisi kekosongan karyawan disnini. Tetapi hasil resminya secara tertulis akan dikirim secepatnya ke email kamu."
"Terima kasih Bu Herwinda, Pak Pradipta." Naura mengucapkan terima aksih dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Baiklah, cukup Naura. Tolong kamu panggilkan partisipan lainnya yang datang sesudah kamu untuk masuk kesini."
"Baik bu Herwinda. Saya permisi dulu, selamat pagi."
Naura langsung keluar dari ruang wawancara, kemudian memanggil partisipan lainnya yang akan mengikuti kegiatan wawancara tersebut.
*************************************************************
"Pagi pak," sekeretarisnya menyapa.
"Ehm." jawabnya singkat langsung mendorong pintu masuk ruangannya.
Di dalam terlihat Santi sedang duduk di sofa, dan sedang memperhatikan screen ponsel. Firmansyah langsung masuk tanpa menyapa Santi, kemudian menaruh tasnya di atas meja kerja. Baru saja Firmansyah akan duduk, Santi memeluknya dari belakang.
"Mas..., kenapa semalam tidak jadi datang ke apartemen. Santi kangen." tangan Santi langsung masuk ke dalam pakaian Firmansyah.
__ADS_1
"Santi, jaga sikapmu. Ruanganku ada CCTV, jangan bertindak sembarangan yang bisa menjatuhkan citraku." kata Firmansyah sambil melepaskan tangan kekasihnya itu.
"Aku sudah bilang kan, jangan sering-sering datang ke perusahaan. Apalagi lihat ini, sekarang jam berapa."
"Habis Santi kangen, dan ingin memastikan jika kamu baik-baik saja. Semalam aku telpon, tapi jawabannya nomor di luar jangkauan. Aku kirim chat via whattsapps juga belum kamu baca sampai sekarang. Tidak salah kan, jika pagi-pagi aku langsung menunggu disini."
Firmansyah diam, kemudian dia duduk di kursi. Semalam dia memang janji akan datang ke tempat Santi, tetapi melihat istrinya dan Edward berbicara berdua di pinggir kolam, akhirnya dia mendengarkan perkataan istri dan keponakannya itu.
"Tadi aku ketemu juga sama Edward, katanya pagi tadi kamu juga mengantarkan istrimu kemana gitu. Mas Fir, jangan bilang sekarang kamu lebih mempedulikan Naura daripada aku."
Santi menghampiri Firmansyah, dan duduk di pegangan kursi samping Firmansyah.
"Kamu terlalu berpikir terlalu berlebihan San. Jika aku sekalian mengajak istriku bersama, saat kita sama-sama mau pergi jam 08.00 itu aku melakukan kesalahan. Ketemu orang lain di jalan saja, aku akan tawari dia, masak lihat istri malah aku biarkan naik ojol."
Santi menundukkan wajahnya, kemudian memberikan kecupan di pipi Firmansyah. Yang merasa punya pipi juga membiarkan tingkah wanita itu, sehingga menjadikan Santi menjadi lebih berani. Tidak pakai waktu lama, ikatan dasi dan kemeja yang dikenakan Firmansyah sudah terlihat acak-acakan. Dia akan menolak Santi, tetapi hasrat pagi laki-lakinya terlihat lebih mendominasinya daripada akal sehatnya.
Akhirnya pagi hari itu berubah menjadi suasana panas di ruang Direktur Utama. Tanpa mengenal malu, Santi mengeksplorasi setiap jengkal tubuh dari laki-laki itu, yang meskipun usianya sudah 60 tahun, tetapi masih memiliki tubuh atletis.Firmasyah juga tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri, setiap serangan Santi, dia balas dengan penuh semangat pagi. Akhirnya dua manusia lain jenis itu menyatukan hasrat purba mereka di ruangan kerja.
"Santi..., besok lagi jangan kesini. Kamu telah mengacaukan pagiku." kata Firmansyah sambil melangkah ke kamar mandi.
Santi hanya tersenyum, kemudian mengenakan pakaiannya yang berserakan, dan setelah mengetahui jika kekasihnya sedang mandi, dia mengambil ponsel Firmansyah. Di daftar nomor kontak, dia menyalin nomor Naura kemudian mengirimkan ke nomornya sendiri.
"Aku harus segera bertindak, sebelum mas Fir benar-benar tertarik dan jatuh cinta pada gadis itu."
Setelah Firmansyah selesai mandi, dan mulai merapikan dirinya, Santi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Kemudian Santi pamitan untuk kembali ke apartemennya.
__ADS_1
***************************************************************