
Di rumah sakit, Naura langsung ditangani dokter. Ditya tidak berpikir panjang, meminta pada pihak rumah sakit untuk menurunkan beberapa dokter spesialis sekaligus untuk melakukan pemeriksaan pada istrinya. Melihat Naura yang menahan rasa sakit, meskipun tidak mengeluarkan suara, Ditya ingin menggantikan posisi istrinya.
"Bu Naura..., masih terasa sakit?" tanya dokter spesialis kandungan.
Naura tidak menjawab karena khawatir dengan respon DItya, dia hanya sedikit mencoba menganggukkan kepalanya.
"Sebentar Bu Naura.., kita lakukan USG dulu ya! Lho kok ini malah terjadi pendarahan.., sebentar bu!"
Ditya langsung pucat, saat melihat darah deras mengalir dari bagian bawah istrinya, dan melihat muka Naura yang pucat dan akhirnya terkulai lemas.
"Dokter...kenapa istri saya Dokter? Tolong segera selamatkan istri saya!" teriak Ditya tiba-tiba.
"Mohon maaf, tolong pak Ditya menunggu di luar saja ya! Karena jika Bapak tidak dapat mengendalikan emosi Bapak, kita juga tidak dapat konsentrasi dalam melakukan pemeriksaan." karena merasa terganggu dengan emosi Ditya, akhirnya dokter meminta Ditya menunggu di luar kamar pemeriksaan.
Dengan lunglai Ditya berjalan keluar kamar rumah sakit, yang langsung disambut dengan Pradipta yang sudah berada disitu. Ditya melihat, di kursi tunggu ada Jessica, Doni, papa dan mama mertuanya. Dia tidak dapat fokus, dan langsung dirangkul Pradipta dan diajak duduk di kursi.
Ditya menggelengkan kepalanya, dia tetap berdiri di depan pintu kamar. Dia memukul-mukul keningnya sendiri, dia sangat menyesal kenapa tadi membiarkan Naura memilih baju sendiri, tidak dia dampingi.
"Dity.., duduklah dulu! Naura sudah ditangani oleh Dokter-dokter spesialis. Bahkan sudah ada 4 dokter spesialis yang terkait dengan kandungan Naura sudah disiapkan oleh rumah sakit. Sekarang kita hanya perlu berdo.a."
Pradipta mencoba menenangkan Ditya. Dan saat Ditya mengangkat wajahnya, Pradipta terkejut karena baru kali ini melihat laki-laki ini menangis. Aditya Herlambang Pangestu yang biasanya galak, emosian, arogan, saat ini menjadi tidak berdaya. Dengan penuh pengertian, Pradipta memeluk Ditya yang tampak lemah.
Novi mama mertuanya menghampiri Ditya, dan Pradipta langsungĀ mengangkat tangannya untuk menghentikan Novi yang terlihat ingin bertanya pada Ditya. Jessica yang sedikit banyak sudah mengenal sifat adik iparnya langsung membawa mamanya untuk duduk kembali di samping papanya.
"Mama mau kemana? Sudah kita tunggu dulu sampai Dokter yang memeriksa Naura selesai melakukan pemeriksaan." Samsuar menasehati istrinya.
"Mama pingin tahu keadaan Naura pa?" Novi menjawab.
__ADS_1
"Kalau hanya ingin tahu, nanti juga bisa. Kita biarkan Dokter memeriksa dengan seksama kondisi Naura. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan putri kita ma."
"Iya pa, aamiin."
Tidak berapa lama, pintu dibuka dari dalam, dan terlihat perawat dan dokter mendorong tempat tidur Naura keluar.
"Akan dibawa kemana istri saya Dokter? Apa yang terjadi dengan Naura?" DItya langsung lemas dan mengejar Dokter dengan pertanyaan tentang kondisi istrinya.
"Sebentar pak Ditya. Bu Naura akan kita pindahkan dulu ke ruang ICU.., karena beberapa peralatan medis untuk mendukung pemulihan Bu Naura terletak disana." Dokter menjawab pertanyaan Ditya, dan langsung memberi kode pada perawat untuk mendorong tempat tidurnya.
Ditya langsung terduduk lemas di lantai, dan Pradipta dibantu Doni segera memapah Ditya dan mendudukannya di kursi tunggu. Jessica segera membawa air mineral dan memberikannya pada adik iparnya. Ditya menolaknya
"Ditya.., kalau kamu sakit, siapa yang akan menjaga Naura dan bayimu? Minum dulu, sudah dari tadi pagi kamu belum minum apa-apa." Jessica yang sebenarnya malas mengajak komunikasi suami adiknya itu, akhirnya melihat kondisi laki-laki itu akhirnya mengajaknya bicara.
Ditya melihat Jessica sebentar, kemudian menyesap sedikit dan meletakkannya di sampingnya.
****************************
"Kita tunggu sampai Bu Naura sadar dulu Tuan, baru nanti kita lakukan tindakan lebih lanjut. Karena gerakan janin makin menurun, dan Bu Naura mengalami pendarahan. Jika nanti Bu Naura sudah bangun, dan kondisi fisiknya stabil, kemungkinan besar segera akan kita lakukan tindakan operasi."
"Beri tindakan yang terbaik Dokter, selamatkan dua-duanya, Ibu dan bayinya,"
"Baik Tuan Prasetyo, kami akan usahakan yang terbaik. Tapi yang terpenting saat ini, kita tunggu sampai Bu Naura sadar dari pingsannya dulu."
"Atau jika tidak memungkinkan Dok, selamatkan bayinya! Dia calon penerus keluarga Prasetyo Pangestu Dokter!" Marina yang sejak tadi diam, tiba-tiba membuat pernyataan yang sangat mengejutkan suaminya.
"Jaga bicaramu ma, kalau tidak bisa berbicara baik, lebih baik kamu diam!" bentak Prasetyo yang langsung membuat Marina terdiam. Baru kali ini sejak mereka menikah, Prasetyo membentaknya.
__ADS_1
"Dokter..., saya akan menemui anak kami dulu. Pastikan kedua-duanya selamat!"
"Baik Tuan..., kami akan berusaha."
Prasetyo keluar dari ruang konsultasi Dokter dan langsung menuju ke ruang ICU. Terlihat di selasar ICU, putranya yang tampak kusut dan terpuruk sedang ditenangkan oleh Pradipta. Juga keluarga dari Naura sedang menunggui menantunya yang duduk menggelar tikar di space untuk menunggu pasien ICU. Dia segera menyalami Samsuar dan Novi, kemudian mendatangi putranya.
"Bagaimana kondisi Naura Dity?" tanya Prasetyo pelan pada putranya.
Melihat kedatangan papa dan mamanya, Pradipta memberi ruang untuk mereka berbicara. Dia bergeser dan duduk di samping Doni. Prasetyo langsung meraih putranya, dan Ditya langsung menangis tersedu di dada papanya. Marina terkejut melihat bagaimana kondisi putranya, dia sama sekali tidak mengira akan begitu dalam perasaan putranya pada gadis itu.
"Papa... Naura pa? Ditya titip do.a pa!" dengan tersedu Ditya meminta papanya mendoakan Naura.
"Iya Dity.., barusan papa dan mama ketemu sama dokter pendamping Naura. Untuk saat ini keadaan janin aman, kita menunggu sampai Naura sadar dulu dari pingsannya, baru akan dilakukan tindakan lanjutan."
"Naura akan selamat kan pa? Ditya tidak mau hidup, jika tidak ada Naura."
"Sssttt.., jangan bicara yang tidak-tidak. Tidak akan ada yang meninggalkan kita untuk saat ini. Papa yakin dan percaya jika istrimu itu gadis yang kuat. Hal sekecil ini akan dapat dia lalui dengan baik."
Marina mendekati Pradipta, kemudian dia menanyakan penyebabnya dengan runtut.
"Dipta sebenarnya tidak ada di TKP tante. Karena tadi Naura perdi dengan Ditya untuk belanja keperluan bayi di Paragon. Saat Naura sedang memilih pakaian, tiba-tiba ada seorang anak yang sedang dikejar orang tuanya, dan tidak tahu sebabnya, anak itu langsung menubruk Naura."
"Jadi gadis itu pingsan, sejak dari Paragon?"
"Tidak Tant..., katanya Naura dibawa kesini masih bisa komunikasi. Saat dilakukan pemeriksaan, baru dia tiba-tiba kehilangan kesadaran sampai saat ini."
**********************************
__ADS_1