PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Bawahan Pradipta


__ADS_3

Naura terlihat sibuk membuat draft konsep penawaran kerjasama ke perusahaan BUMN. Setelah tiga hari dari dia menikah dengan Ditya, hari ini dia sudah menjalani rutinitas kantor. Ditya sudah memintanya untuk istirahat, karena khawatir istrinya akan kelelahan, apalagi dia baru dalam keadaan hamil. Tetapi Naura tidak mau, dengan alasan jenuh dan bosan jika hanya berada di rumah.


"Naura.., apa rencana yang pas untuk kita tawarkan pada perusahaan daerah? Kemarin siang asisten Gubernur menanyakan padaku, karena akan digunakan sebagai usulan program kerja tahunan." Pradipta mengajak diskusi istri Bossnya itu. Dia tetap mati-matian mempertahankan Naura, saat Ditya memintanya untuk tukaran SDM antara Bambang dengan Naura.


"Apa ya pak? Atau kita minta perusahaan daerah untuk melakukan rejuvinasi, dari branding nya, juga sampai merubah budaya organisasinya. Kebutuhan untuk renewable sangat mendesak untuk dilakukan, karena beberapa masih menganut pola-pola konservatif." kata Naura.


"Iya juga ya, karena aku dengar sih dari beberapa orang yang aku tugasi untuk melakukan pra survey. Beberapa mereka bisa bekerja, karena ada atasan yang membawanya masuk. Berita recruitment tidak pernah mereka share dengan bebas ke khalayak luas. Mereka bekerja hanya sekedar yang penting mereka bisa mendapatkan untung, tapi untuk pengembangan terkesan lambat."


"Apalagi di kabupaten atau di tingkat desa. Adanya dana desa, di awal dapat memacu pertumbuhan desa. Desa yang kreatif mereka bisa mengembangkan dana dari pemerintah, mereka hanya menganggap dana desa sebagai stimulus untuk modal awal membangun desanya. Tetapi yang perlu dipahami, bahwa masyarakat juga cepat merasa jenuh, harus ada diversifikasi usaha untuk motif berjaga-jaga."


"Ehm.., asyik sekali kalian discuss. Sampai ada orang datang tidak ada yang melihat." tiba-tiba Ditya sudah nongol di depan ruang Dipta. Tampak jelas rasa iri terlihat di matanya, melihat Naura istrinya asyik beradu argumen dengan sahabat sekaligus bawahannya Dipta.


Naura dan Dipta langsung menengok ke arah pintu, kemudian dengan tersenyum mengajak Ditya masuk join dengan mereka.


"Ada apa Boss, sudah kangen dengan istrimu. Baru 3 jam bekerja, sudah main tengok saja." ledek Pradipta.


"Ya pasti dong kalau kangen, siapa sih yang tidak kangen dengan istri secantik Naura." tanpa kenal malu, DItya malah menanggapi ledekan Pradipta, dan langsung duduk di samping Naura, kemudian memberi kecupan di kening gadis itu. Naura langsung mendorong dada Ditya, dan melotot pada suaminya.


"Hey.., lihat-lihat tempat dong Boss! Ini ruanganku, jangan seenaknya pamer hubungan tidak senonoh seperti itu." semprot Dipta.


"Ha..ha..ha.., ada yang kebakaran jenggot karena iri tuh, By the way.., sedang diskusikan apaan kalian?"


"Kak Ditya.., tolong jaga sikap dong! Saat ini Naura jadi bawahan pak Dipta, hargai dong!" seru Naura ikut menegurnya.


"Hadeh.., kenapa jadi aku kalian keroyok berdua? Naura sayang..., aku kan suamimu, masak kamu membela Dipta daripada suamimu sendiri."


"Suami itu kalau di rumah, kalau dalam ruangan sini. Naura anak buahnya Boss Dipta." jawab Naura cepat.


"Rasain, memang enak dikacangin sama istri sendiri. Hi..hi.." kata Dipta.

__ADS_1


"Iya..iya, lanjutkan diskusi kalian maksimal 15 menit. Aku akan nungguin kalian disini!"


"Ga seru, pak Dipta.., Naura selesaikan dulu konsep PKS nya ya? Segera Naura antar kesini."


"Yupz, ditunggu."


Sepeninggalan Naura, Ditya merubah mukanya dengan mimik serius.


"Lagi bahas apaan tadi? Konsep tawaran dari pemerintah daerah ya?" tanya Ditya.


"Iya, bagus sih usulan konsep yang dibuat istrimu. Aku jadi terbiasa dengan cara kerja Naura, cepat baik lisan maupun tulisan. Aku yakin Dity, Bappeda akan langsung mengokekan konsep dari perusahaan kita."


"Baguslah kalau begitu. Tapi ingat Dipta, jaga kerjaan untuk istriku. Jika perlu, tambah satu pegawai untuk menemani istriku. Aku khawatir akan berdampak pada kehamilannya."


"Nanti kita pikirkan lagi. Aku juga lihat-lihat Dity, kalau kasih kerjaan ke istrimu. By the way, ada apa kamu kemari, ada hal penting?"


"Kamu tidak menanyakan dulu padanya, rumah seperti apa yang dia inginkan?"


"Ya tidak donk, dua bulan lagi Naura genap berusia 22 tahun. Aku ingin rumah ini menjadi surprise baginya, nanti aku hanya akan membawa satu ART, dan satu tukang kebun. Pokoknya rumah itu hanya untukku dan Naura, dan rahasiakan alamatnya dari keluargaku!"


"Siap Boss."


***********************************


"Naura..., aku di lobby depan, kita ketemuan yuk!" bunyi chat whattsapps dari Jessica kakaknya. Naura tersenyum membaca chat tersebut, kemudian dia bergegas tanpa pamit pada Pradipta, langsung ke lobby menemui Jessica.


Di sofa lobby, Naura melihat kakaknya Jessica ditemani Doni sedang duduk sambil membaca majalah yang ada disitu.


"Kak Jess.., kak Don.." seru Naura memanggil kakaknya.

__ADS_1


Jessica langsung berdiri, kemudian memeluk adiknya. Naura kemudian mengajaknya untuk duduk kembali.


"Lagi repot tidak Naura? Kakak tidak mengganggu kan, habisnya kakak kangen banget sama kamu."


"Halah paling repot juga cuma kerjaan surat menyurat kak. Bisa dikerjain staf yang lainnya. Dari mana ini tadi?"


"Biasa sama Doni habis dijemput dari pemotretan. Kok lewat sini, langsung deh ada ide untuk cari kamu kesini."


"Kayak ga tahu bagaimana kakakmu Naura. Apa yang dia inginkan, harus selalu terpenuhi dong." sahut Doni.


"Kok jadi hakimi aku sih? Naura, keluar yuk! Kan sudah hampir jam 12, kita makan siang yukk. Cari soto di sekitar Jatingaleh." ajak Jessica.


"Ayok.., kebetulan Naura juga sudah mulai lapar. Soalnya tadi cuma sarapan sandwich kak, udah lapar lagi jam segini."


"Ya udah, ayuk langsung saja. Kakak yang traktir, habis cair nih tadi. He..he.." Jessica langsung merangkul Naura dan membawanya keluar dari pintu lobby. Doni mengikuti dari belakang.


Karena tidak melihat security yang berjaga, Naura tidak pamitan dengan siapapun saat pergi meninggalkan kantor. Doni langsung menjalankan mobilnya keluar dari pintu gerbang perusahaan, dan langsung melintasi jalanan kota Semarang.


"Naura.., kakak bahagia sekali melihatmu sekarang. Pipimu sudah mulai bersinar lagi seperti dulu, dan Tuhan membalas rasa sabarmu, berbakti pada papa mama. Kamu berhasil mendapatkan seorang putra konglomerat terkenal di negeri ini."


"Iya Na..., Raditya Herlambang Pangesthu itu tokoh muda idolaku. Beruntung sekali dia bisa menjadi suamimu, tapi kemarin aku belum sempat foto bareng dengannya Na. Kapan-kapan diatur ya, agar aku bisa foto bareng dengan suamimu."


"Ha..ha..ha.., kak Doni bisa saja. Ya mainlah ke rumah, kalau hari libur, jadi pas kak Ditya juga sedang libur ada di rumah. Ntar kita bisa foto bareng."


"Beneran ya Na.., okay. Sayang besok ikut tidak foto bareng dengan suaminya Naura?"


"Ogah, lebay." sahut Jessica cepat.


****************************

__ADS_1


__ADS_2