PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Keputusanku


__ADS_3

Pagi hari setelah bangun tidur, Novi menyiapkan sarapan pagi di meja makan. Dia sengaja masak agar pagi ini mereka bisa makan bersama sekeluarga. Selain itu, dia dan Samsuar akan menanyakan sekali lagi kesediaan putri keduanya untuk menikah dengan Firmansyah.


"Bi.., tolong anak-anak dipanggilkan ya Bi. Bilang ditunggu mama dan papa di meja makan, Saya akan membangunkan Tuan dulu." Novi meminta Bi Siti untuk memanggil Naura dan Jessica.


"Iya Nyonya." Bi Siti langsung menuju kamar Jessica, dan tidak ke kamar Naura. karena dari jam 5 pagi, Naura sudah pamitan sama Bi Siti untuk pergi duluan.


Setelah memastikan semua siap di meja makan, Novi kemudian dia ke kamar untuk memberi tahu suaminya. Tidak lama kemudian Jessica sudah duduk di meja makan, sambil menikmati secangkir teh panas.


"Mana adikmu Jess," tanya Novi yang sudah di belakangnya dengan Samsuar.


"Tidak tahu ma, tadi Jess dari kamar langsung kesini. Tidak menengok ke kamar Naura dulu." jawab Jessica cuek.


"Bi Siti...., dimana Naura, kok belum keluar." Novi menanyakan Naura pada ART.


"Non Naura sudah pergi dari tadi Nyonya, sekitar jam 5 pagi. Maaf Bibi lupa memberi tahu pada Nyonya." kata Bi Siti.


Mendengar jawaban Bibi, semua yang ada di meja makan langsung terdiam. Jessica langsung menaruh cangkir teh di meja.


"Naura.., apa dia pergi dari rumah? Jessica tidak mau kalau harus menikah dengan teman mama, Jess tidak mau." teriak Jessica sambil berlari meninggalkan meja makan.


"Jess, tunggu. Mau kemana kamu." seru Samsuar memanggil Jessica, tetapi putri pertamanya itu langsung lari dan masuk ke dalam kamar.


"Bagaimana ini pa? Apakah Naura berubah pikiran, kemudian dia pergi dari rumah." Novi sangat Khawatir.


"Sudah, coba ambil ponsel. Dihubungi Naura nya, siapa tahu nomornya tidak dimatikan."


Mendengar saran dari suaminya, Novi bergegas ke kamar dan mengambil ponselnya. Kemudian dia menghubungi nomor ponsel Naura, dan terdengar ada nada dering, tetapi tidak diangkat. Novi mengulangi lagi panggilannya, dan juga tidak diangkat.


"Pa, Naura tidak mau mengangkat panggilan telepon dari mama pa."


"Kita tunggu sebentar ma, nanti kita hubungi lagi. Siapa tahu dia lagi sibuk sehingga tidak mendengar panggilan dari mama."


Akhirnya Novi duduk di meja makan. Dia yang sudah masak dari pagi, kehilangan selera untuk memakan hasil masakannya sendiri. Samsuar juga tampak gelisah, tetapi dia masih bisa menutup kegelisahannya.

__ADS_1


"Sampai jam berapa, Firmansyah menunggu jawaban dari mama."


"Jam 11 pa, sekarang sudah jam 09.00," sahut Novi.


"Sini, coba ambilkan ponsel papa. Papa yang akan menghubungi Naura."


Novi mengambil ponsel Samsuar kemudian menyerahkannya. Samsuar mencari nomor contact putri keduanya, kemudian melakukan panggilan. Panggilan pertama tidak ada jawaban, kemudian dia melakukan lagi.


"Selamat pagi, ada apa pa?" terdengar suara Naura dari seberang telepon. Samsuar merasa lega mendengar suara putrinya.


"Naura sedang ada dimana, kenapa tidak pamit sama mama dan papa hari ini perginya?"


"Tadi Naura pamit sama Bibi pa, karena Naura Ketua Panitia acara Minggu Keakraban di kampus. Hari ini masuk hari kedua pa, jadi Naura harus mengkondisikan acara, agar pelaksanaan hari ini bisa berjalan dengan lancar."


"Ya sudah, sukses ya nak acaranya. Papa dan mama selalu mendoakan untuk kalian semua."


"Terima kasih pa. Selasa pagi. "


"Pagi juga nak."


"Bagaimana pa, dimana Naura?"


"Dia sedang di kampus, melanjutkan kegiatan kemarin. Sudah sekarang mama hubungi Firmansyah, setujui kalau kita akan menikahkan putri kita dengannya. Papa yakin dengan Naura, dia tidak akan mengingkari apa yang sudah dia ucapkan."


Samsuar kemudian berdiri dan segera bersiap untuk berangkat ke perusahaannya. Sedangkan Novi kemudian melakukan panggilan telepon pada Firmansyah, dan memberi tahu tentang kesepakatan mereka.


***********************


"Hai..., dengan siapa kamu kesini Nov?" tanya Firmansyah. Saat ini mereka sedang bertemu di sebuah rumah makan di sekitar Simpang Lima.


"Sendirian Fir, mas Samsu tidak bisa mengantarku. Sedangkan anakku yang pertama sedang ada jadwal pemotretan, dan putri keduaku sedang ada acara di kampusnya."


Novi mengaduk gula pasir yang ada dalam gelasnya, sedangkan Firmansyah dari tadi melihatnya terus sambil senyum-senyum. Setelah saling terdiam beberapa saat.

__ADS_1


"Mau makan apa kamu Nov, silakan kalau mau pesan." Firmansyah memecah kesunyian antara mereka.


"Tadi aku barusan makan dari rumah Fir. Aku makan camilan ini saja." Novi terlihat agak gugup untuk menyampaikan jawaban atas permintaan Firmansyah.


"Ya sudah, kalau begitu kita ke pokok bahasan saja ya. Bagaimana dengan tawaran yang aku sampaikan kemarin, apakah kalian maksudku kamu dan suamimu sudah memiliki jawaban."


Novi menyesap air minum dengan menggunakan sedotan.


"Iya Fir, kami menyetujuinya. Putriku yang kedua yang bersedia untuk menikah denganmu." kata Novi dengan lirih.


Firmansyah tersenyum sinis mendengar jawaban yang diberikan Novi.


"Huh..., dasar materialistis. Mengorbankan putrinya hanya untuk kekayaan. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan pada putrimu." Firmansyah membatin sendiri.


"Okay..., kita nikah di KUA saja. Tidak ada lamaran, dan juga tidak ada pesta. Apakah kamu menyetujuinya Novi?"


Novi memandang Firmansyah, kemudian menganggukkan kepala.


"Aku setuju Fir, nanti aku akan sampaikan pada Samsuar jika kalian berdua akan menikah di KUA saja."


"Terus kapan kamu akan membantu keuangan perusahaan kami Fir? Kami sudah akan terkena finalty dan tuntutan wan prestasi jika sampai besok belum bisa membayar kewajiban kami."


"Okay..., gampang bisa aku atur. Nanti kirimkan saja nomer rekening mana aku harus transfer, nanti bia dibereskan sama asistenku."


"Aku harap juga, dalam Minggu ini segera kita laksanakan pernikahan antara aku dan anakmu. Di hari pernikahan juga, anakmu langsung ikut denganku ke rumahku." lanjut Firmansyah yang sangat mengejutkan Novi.


"Tidak bisakah kamu memberi waktu pada kami untuk menyiapkan mental putriku Fir? Usia putriku baru 18 tahun, dia belum masuk kategori dewasa untuk ukuran usia pernikahan saat ini." Novi mengharap perasaan Firmansyah.


"Nov..., apakah kalian pikir, uang yang akan aku kucurkan dalam jumlah yang sedikit? Jika kamu tidak setuju, ya sudah pernikahan kita batalkan saja. Silakan kalian berdua mencari jalan untuk melunasi kewajiban kalian." kata Firmansyah yang langsung berdiri untuk meninggalkan Novi di tempat itu.


"Jangan pergi Firman, iya aku akan menyetujui keinginanmu. Malam ini aku akan berbicara dengan putri keduaku."


"Yah, bagus kalau begitu. Segera aku tunggu nomor rekening, kirimkan ke asistenku. Maaf Novi, aku tidak dapat menemanimu makan siang ini. Aku sudah ditunggu oleh kolega. Selamat siang." Firmansyah langsung meninggalkan Novi sendirian di dalam rumah makan.

__ADS_1


Novi mengambil nafas panjang, tidak lama kemudian diapun ikut keluar dari rumah makan tersebut.


**************************


__ADS_2