PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Ijin


__ADS_3

"Kak Ditya.., Naura bisa bicara?" Naura menghampiri suaminya yang sedang membuka laptop di ruang kerja. Biasanya dia tidak pernah mengganggu suaminya jika sedang berada di kamar itu, tetapi dia ingin minta ijin pergi ke rumah mamanya. Panggilan telpon yang dilakukan mamanya, membuatnya untuk segera memeluk mamanya.


"Iya boleh, mau bicara apa sayang? Tapi sebentar aku left dulu dari meeting online." Ditya menulis chat untuk left, kemudian keluar dari koneksi video conference. Kemudian dia meraih Naura dan mendudukannya di pangkuan.


"Naura duduk sendiri saja kak, tidak enak bicaranya." Naura menolak didudukkan di pangkuan, tetapi Ditya tetap memeluk Naura dan meletakkan dagunya  di atas punggung Naura.


"Tetaplah seperti ini Naura, kita sudah lama tidak memiliki me time sendiri. Ezaz sudah tidur kan, atau minta baby sister untuk memeganginya sebentar, aku merindukanmu."


"Iya, sudah ada Rina yang menemani Eza di kamarnya. Tadi setelah Naura beri ASI, Ezaz langsung tidur." Naura akhirnya mengalah dan membiarkan suaminya memeluk dan mendudukannya di pangkuan.


"Kak.., Naura ingin ke tempat mama. Boleh ya?" Naura menyampaikan keinginannya pada suaminya.


"Maksudmu apa? Pindah ke rumah mama Novi, ingat kamu adalah istriku, dan juga ibu dari Ezaz putraku. Meskipun kamu menyangkal jika Ezaz bukan putraku, tetapi bukti test DNA sudah dipegang oleh papa. 99% Ezaz memiliki kemiripan denganku." seru Ditya dengan nada tinggi.


"Bukan itu maksud Naura kak. Mama tadi telpon, beliau lagi sedih, dan saat ini ingin Naura ada di rumah. Hanya Naura tempat mama bicara kak, karena saat ini permasalahan menyangkut kak Jessica. Jadi mama ingin Naura ikut bicara." kata Naura ketakutan melihat suaminya.


Ditya memeluk erat tubuh Naura, dan menciumi rambutnya.


"Maafkan kak Ditya sayang. Kakak takut, jika kamu tiba-tiba meninggalkan kakak sendiri. Kapan mau ke tempat mama, aku temani. Sekalian kita bawa Ezaz, karena Ezaz belum pernah menginap di tempat Oma Novi kan? Juga aku belum pernah menginap di tempat mertua."


"Benar kak, Naura diijinkan ke tempat mama? Kak Ditya akan menemani Naura dan Ezaz?" Naura tidak mempercayai pendengarannya, dia menanyakan kembali pada suaminya.


Ditya tersenyum kemudian menganggukkan kepala, Naura sangat senang dan tanpa sadar dia memberikan ciuman di bibir Ditya. Tetapi saat Naura akan menarik kembali bibirnya, Ditya sudah mengeksplorasi bibirnya. Lidahnya sudah membelit dan bermain di mulut Naura.

__ADS_1


"Kita belum pernah making love disini sayang, mumpung Ezaz ada temannya, layani aku disini ya!" bisik Ditya sambil bibirnya sudah berada di leher Naura.


Naura tersipu malu, dan tanpa jeda tangan Ditya sudah melepas kancing baju atasannya. Tidak menunggu lama, tubuh bagian atas Naura sudah terekspos tanpa busana di hadapan Ditya.


"Aaahh..., kakak." des..ahan halus keluar dari mulut Naura saat bibir Ditya bermain-main di sekitar aerola, mengitari lingkaran gelap yang ada di bukit gadis itu.


"Jangan ke puncaknya kak.., aahhh. Sss.sh.. Naura masih memberi ASI Ezaz." betul-betul suara de..sahan dan desisan Naura memicu gai..rah Ditya untuk terus memberinya sentuhan.


"Kamu semakin menggai..rahkan sayang." bisik Ditya dengan suara  serak.


Naura masih berada di pangkuan suaminya, dengan saling berhadapan memberi keleluasaan bagi Ditya untuk memberikan sentuhan dengan bibirnya. Tegangan tinggi Naura rasakan di bagian inti suaminya, yang terasa keras menghujam bagian intinya yang masih sama-sama terbalut kain.


Tangan Naura dengan sigap melepaskan baju yang dikenakan suaminya, dan tanpa diminta Naura memberikan serangan balik ke tubuh Ditya. Tubuh laki-laki seperti terkena tegangan tinggi, karena baru kali ini selama mereka menikah, Naura memberikan rang..sangan padanya.


********************


Jessica menangis terisak di pelukan Doni. Ucapan mama Novi sangat menyakiti hati dan perasaanya.


"Sudahlah sayang, berhentilah menangis! Wajar jika mama bersikap seperti itu, kita sudah pernah kan memikirkan dampak jika keluargamu tahu kalau kita sudah menikah." Doni berusaha menenangkan Jessica.


"Tetapi mama benar-benar egois, dari dulu hanya kepentingan mama dan gank sosialitanya yang selalu dia pikirkan. Tidak pernah mencoba berpikir dari sudut kedua putrinya. Kami bukan barang kak, kami manusia yang ingin diperlakukan wajar oleh keluarganya."


"Ingatkan bagaimana dulu meminta kami untuk menikah dengan Firmansyah? Aku saat itu menolaknya, dan tidak tahu akhirnya Naura yang mejadi korban. Kenapa juga mama dan papa tidak berhenti selalu menyakiti kami anak-anaknya?"

__ADS_1


Doni memeluk erat tubuh Jessica, dan mencium pucuk kepalanya. Tangannya mengelus punggung Jessica secara perlahan, dia paham jika saat ini istrinya membutuhkan perhatian.


"Sekarang kita pulang ke rumah mama Novi ya, kita klarifikasi tuduhan mereka padaku. Aku juga tidak ingin, mama menjelek-jelekkan papa Agus dan mama Ajeng."


"Jessica masih malas bertemu mama kak, Jess mau disini saja, bahkan mau dibuang sebagai putri mama Novi dan papa Samsuar pun, Jess juga rela. Jangan tinggalkan Jess kak Doni!"


"Sssttt, jangan bicara yang tidak-tidak Jess, kamu baru emosi. Jangan sampai ucapan kita akan menjadi do.a sayang! Sekarang minumlah dulu, kemudian istirahat!"


Jessica masih menangis tersedu-sedu, dan Doni melepaskan sebentar pelukannya kemudian mengambil air mineral satu gelas. Dengan penuh kasih sayang, Doni mengarahkan gelas di depan mulut Jessica. Setelah Jessica meminum beberapa teguk, Doni meletakkan gelas di atas meja kecil samping ranjang. Jarinya menghapus air mata yang masih mengalir di mata istrinya.


"Sekarang kamu istirahat dulu ya, nanti aku akan beli makan malam secara online saja! Besok pagi kita berdua ke tempat mama Novi, kita harus bicara padanya!"


Jessica menggelengkan kepalanya. Dia masih tidak terima, saat mamanya memarahi ketika tahu jika dia sudah menikah dengan Doni tanpa memberi tahu keluarganya.


"Jess..., ingat ridho orang tua akan memperlancar langkah kita, atau sekarang kamu mau bicara sama mama Ajeng. Kamu bisa menanyakan pada mama, bagaimana posisi orang tua untuk kesuksesan anak-anaknya."


"Jessica malu kak sama mama Ajeng, beliau selalu support Jess, menguatkan Jess. Tapi karena ingin menjalin silaturahmi dengan keluargaku, malah jadinya seperti ini."


"Sudah tenanglah, nanti kita lalui ini bersama-sama. Jangan khawatir, aku suamimu tidak akan pernah membiarkan kamu melalui masalah ini sendiri. Besok aku yang akan bicara dengan mama Novi, besok siang mama Ajeng dan papa Agus jika tidak ada halangan akan sampai di kota ini. Papa yang akan memintamu untuk menjadi istriku Jess."


"Terima kasih kak Don.., selalu mendampingi Jess dalam setiap masalah."


***********************

__ADS_1


__ADS_2