PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Bukan Hakku


__ADS_3

Setelah menanda tangani surat pencabutan tuntutan, dan surat pernyataan bersama sebagai jaminan jika Edward tidak akan mengganggunya di masa depan, Naura langsung pamitan untuk kembali ke kantor. Tiba-tiba Firmansyah memintanya untuk duduk sebentar. Naura menuruti permintaan laki-laki yang pernah menikahinya itu.


"Iya Om, ada apa?"


Tiba-tiba Firmansyah mengulurkan sebuah amplop padanya. Naura menerimanya kemudian membuka amplop tersebut, dan matanya terbelalak karena melihat ada cek senilaI Rp. 2 milliar atas namanya. Dia kembali menyerahkan cek tadi pada laki-laki tersebut.


"Mohon maaf Om, Naura tidak bisa menerimanya. Naura kembalikan lagi cek ini pada Om, antara kita berdua sudah tidak ada lagi hubungan. Jadi Om tidak memiliki kewajiban untuk memberi nafkah pada Naura. Apalagi sekarang Naura sudah bekerja lagi, dan memiliki uang dari hasil keringat sendiri." Naura menolak pemberian Firmansyah.


"Naura, tolong jangan tolak ini! Cek ini tidak sebanding dari yang seharusnya kamu dapatkan, karena kalau menurut hukum, kamu berhak atas harta gono gini, tetapi aku tidak pernah memberikannya padamu. Terimalah Naura!"


Rosie dan Michael saling berpandangan, mereka memahami ternyata gadis yang sangat digilai putranya itu memang berhati mulia.


"Maafkan Naura Om. Demi apapun Naura tidak berhak atas kekayaan dari Om Fir. Dulu Om Fir sudah membantu papa dan mama Naura, sudah memberi uang nafkah, uang kuliah sampai lulus. Bagi Naura itu sudah lebih dari cukup Om. Tolong pahami Naura Om, apalagi Naura juga sudah mengkhianati Om, berselingkuh dengan pria lain tanpa sepengetahuan Om."


"Jangan ulangi perkataanmu Naura, karena sama saja mengingatkanku pada dosa-dosa Om di masa lalu! Benar kamu tidak mau menerimanya Naura?" sekali lagi Firmansyah melakukan konfirmasi pada putusan Naura.


Naura dengan mantap menganggukkan kepala, kemudian berdiri dan langsung meninggalkan private room.


Rosie masih menangis terharu atas ketulusan Naura, yang tanpa apapun mau menandatangani surat pencabutan tuntutan. Bahkan jika itu di negaranya, Edward akan mendapatkan hukuman yang berat. Dan ketidak peduliannya dengan uang 2 milliar yang diberikan adiknya juga membuatnya terharu. Dia sangat kecewa kenapa gadis itu tidak bisa menjadi menantunya.


"Sudahlah Rossie, hentikan tangisanmu! Naura sudah pergi, aku jadi malu melihatnya. Dia gadis yang baik, santun dan penuh dengan etika tata krama. Tetapi Santi telah membuatnya menjadi seperti ini, semoga saja Aditya Herlambang Pangestu bisa membahagiakannya." kata Firmansyah.


"Iya, kenapa tadi kamu tidak menawarinya untuk mengantar kembali ke perusahaan? Ayo kejar Naura Fir, kasihan jika dia harus naik Ojek Online."


"Tidak kak, aku bisa dibunuh Aditya Herlambang jika dia tahu aku bertemu dengannya hari ini. Anak muda itu sudah berinvestasi di perusahaanku, saat aksi gelapku dibongkar polisi, sebagai syarat aku menceraikan Naura dulu."


"Waktu dulu, memang yang hinggap di kepalamu itu juga apa sih mas? Bisa-bisanya anak masih ingusan kamu jadikan istri?"

__ADS_1


"Jangan diingat kebodohanku itu Ros. Aku sangat dendam dengan kedua orang tuanya, yang sudah memilih Samsuar hanya karena kekayaan waktu kita masih muda. Akhirnya Naura yang mengorbankan dirinya untuk aku nikahi waktu itu. Sudahlah semua itu kita lupakan."


"Iya mas, aku sama Michael langsung ke bandara saja. Kita langsung menuju ke Kepulauan Seribu, semoga proses pembebasan Edward tidak membutuhkan waktu yang lama."


"Baiklah, ayo aku antar sekarang ke bandara. Besok pagi, kalau urusan perusahaan hari ini sudah selesai, aku susul kesana."


********************************


"Dipt..., kira-kira Naura tadi berbohong tidak ya? Tadi dia bilang mendapatkan undangan makan siang di Bowery restaurant." tanya Ditya pada Pradipta. Saat ini mereka sedang berada dalam perjalanan menuju restaurant tersebut.


"Kamu ngaca dulu Dity! Sudah pantaskah kamu akan menikahi gadis itu. Kalau belum pantas, ya sudah batalkan saja semua rencanamu!"


"Maksudmu apa Dipt? Ditanya A, jawabmu B?"


"Yang setiap hari tidur bareng, mungkin mandi bareng, makan bareng itu siapa? Kalau kamu masih meragukan Naura, buang rasa curigamu padanya! Gadis itu berlian Ditya, kamu sangat bersyukur dengan caramu kamu bisa mengikatnya."


"Iya, iya Dip. Kok malah jadinya kamu yang ngasih kuliah sekarang? Santai Brother, iya aku percaya jika Naura tidak berbohong padaku kali ini. Ha..ha..ha..,"


Pradipta membelokkan mobil dan menghentikannya di halaman parkir restaurant. Keduanya bergegas memasuki restaurant, dan melihat Naura keluar dari *private room. *


*"*Itu Naura Dity, sudah selesai ternyata anaknya. Berarti tadi dia janji padaku sebelum jam 14.00 sudah sampai kantor kembali. Benar-benar on time!" kata Pradipta, tetapi ternyata Ditya sudah langsung berjalan menghampiri Naura.


"Private room." seru Pradipta pada pelayan restaurant.


"Baik Tuan, kebetulan yang ruang Jasmine kosong. Mari saya antar!" Pradipta mengikuti pelayan itu, kemudian menarik tangan Ditya yang sedang berdiri di depan Naura.


"Ayo, kalau mau ngobrol di dalam. Jangan disini, dilihat banyak orang!" kata Pradipta.

__ADS_1


Ditya langsung merangkul Naura yang bengong, dan membawanya ke *private room *yang terletak di samping persis ruang tempat dia bertemu dengan keluarganya Edward.


"Tuan dan Nona mau pesan langsung, atau mau pelajari *menu *book dulu?" tanya pelayan.


"Langsung saja, aku sop buntut sama cumi goreng tepung. Minum avocade juice dan air mineral! Kamu mau makan apa Dity" sahut Dipta.


"Sirloin double steak, orange juice. Naura mau makan lagi?"


"Naura sudah makan barusan. Sekarang minum saja, sama kak Ditya."


"Uhuy..., pokoknya kalau dua hati sudah terjalin. Minuman juga sama." komentar Pradipta.


"Makanya segera cari pasangan, jangan jomblo terus!" Ditya mengambil rambut Naura kemudian menciumnya di depan Pradipta.


"Memangnya kamu sudah merasa memiliki Naura? Naura apakah sudah menjawab kalau dia mau kamu miliki?"


Naura hanya diam, dia masih terbawa perasaannya saat menemui keluarga Edward. Sama sekali dia tidak memperhatikan apa yang dibicarakan dua laki-laki di dekatnya itu. Pradipta memberi kode pada Ditya tentang reaksi Naura.


"Naura, barusan kamu ketemu siapa disini? Bolehkah kami berdua tahu?" dengan lembut Ditya bertanya pada Naura.


Naura sontak kaget dengan pertanyaan Ditya. Dia khawatir, jika dia berbohong akan berdampak parah. Tetapi jika dia jujur, juga tidak siap dengan reaksi yang akan ditunjukkan Ditya. Sejenak Naura terdiam, sampai terdengar kembali suara Ditya.


"Naura?" Ditya menaik turunkan telapak tangannya di muka gadis itu. Pradipta ikut merasa cemas melihat reaksi yang ditunjukkan Naura.


"Sudah Dity, kita makan dulu saja. Daripada mendengar jawaban Naura, malah ***** makan kita jadi hilang kan berabe!" tiba-tiba Dipta mengalihkan pembicaraan, karena bersamaan pelayan sudah mengantarkan pesanan mereka.


Naura mengambil nafas lega, kemudian dia menyesap perlahan orange juice miliknya.

__ADS_1


***********************************


__ADS_2