
"Naura..., kita jalan saja ya! Lagian suamimu kan lagi ada keperluan sama papa, mama ingin mengajak Ezaz jalan." Marina mengajak Naura jalan selagi masih ada di Jakarta.
"Claudia ikut juga Mam.., tenang ga ada jadwal kuliah kok." sahut Claudia dari dalam kamarnya.
Naura tersenyum, sebenarnya dia masih merasa capai ingin istirahat. Tetapi dia tidak mau jika mama mertuanya. semakin kurang menyukainya jika dia menolak.
"Baiklah mam.., mumpung pas kita kumpul. Naura ikut mama saja." akhirnya Naura bersedia mengikuti ajakan Marina.
"Tapi jalannya ke mall saja ya ma? KIta ke Senayan City.., kebetulan kemarin Claudia lihat ada tas bagus, limited edition lagi. Claudia dikirim sama SPG nya ke whattsapps, dikirim katalognya." Claudia langsung bersemangat.
"Ya sudah sana.., kamu segera mandi gih. Naura.. kamu siap-siap ya, biar Ezaz sama mama dulu! Sebentar lagi ada ART rumah yang tadi sudah mama minta kesini. Tidak perlu kamu membersihkan dapur, biar nanti diurusi semuanya sama ART."
"Ma..., Zaz mau ..tu!" Ezaz dengan suara yang belum jelas menunjuk makanan cake yang ada di atas meja.
"Uuhh cucu Oma mau cake. Bentar sayang, Ezaz pakai tissue dulu disini biar tidak berantakan." dengan telaten, Marina memasangkan tissue dengan dijepitkan di leher Ezaz, kemudian memberikan cake yang diminta cucunya. Tampak wajah Marina menjadi lebih bersinar, karena rasa bahagia bisa berkumpul dengan cucunya.
Melihat Ezaz tenang dengan Omanya, Naura segera masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap.
"Aku harus mengenakan baju apa ya?? Khawatir salah kostum kalau jalan dengan mama, beliau kan modis banget. Baju, sepatu, tas harus selalu match, dan ngelihatnya kayaknya ribet banget deh." gumam Naura sambil memilih baju dalam kamarnya.
Naura mengambil baju dengan model terusan midi dengan bagian lututnya agak lebar, kemudian memantaskan di depan cermin besar yang ada di kamarnya.
"Ah masa ke mall, pakai pakaian seperti ini. Belum lagi kalau Ezaz minta gendong."
Naura kembali menaruh pakaian tersebut ke walk in closed. Setelah berpikir sejenak, dan menimbang-nimbang positif dan negatifnya, akhirnya celana jeans dan kemeja warna putih menjadi pilihan akhirnya. Untuk melengkapi penampilannya, Naura mengenakan kalung yang terbuat dari batu yang dia beli saat menemani suaminya ke Martapura, Kalimantan Selatan. Dia kemudian mengoleskan bedak tabur, dan lip gloss, kemudian mengambil tas selempang dan segera keluar dari dalam kamar.
Marina terpana melihat penampilan Naura yang sedang berjalan keluar dari kamar. Dalam pandangannya, dia melihat Naura seperti anak ABG dengan penampilan polosnya. Dengan make up tipis yang nyaris tidak terlihat, dia melihat inner beauty istri dari putranya itu tampak keluar.
"Imut sekali.., pantasan saja si Ditya tidak mau melepaskannya." Marina membatin sendiri.
__ADS_1
Naura kemudian duduk di sofa disamping Ezaz yang masih menghabiskan cake yang dia minta tadi. Dengan cekatan, tangannya mengusap ceceran remah-remah kue yang menempel di dagu putranya dengan menggunakan lipatan tissue.
"Claudia belum selesai Ma?" Naura memecah kesunyian dengan menanyakan Claudia, Marina tampak tergagap karena dari tadi dia melamun terpana melihat kecantikan alami Naura.
"Claudia mah lama Na.., apalagi dia tadi kan belum mandi pagi. Tambah lama lagi dandannya." sahut Marina yang langsung mengalihkan pandangannya.
"Yah.., maklum lah ma. Claudia masih anak kuliahan.., beda dengan Naura. Sudah ada buntut yang mengikuti di belakangnya. He..he..he.."
"Eits.., cucu mama bukan buntut ya sayang. Ezaz akan jadi panutan, dia akan selalu jalan di depan. Jagain Oma dan Mommy ya sayang."
Naura tersenyum, kemudian menggandeng tangan Ezaz untuk mencuci mukanya. Melihat ketelatenan Naura dalam merawat cucunya, muncul sikap menerima akan menantunya di hati Marina. Di jaman sekarang, Marina melihat tidak akan mendapatkan menantu selengkap Naura.
***************
"Naura.. itu tas di pojok atas bagus. Sepertinya sangat cocok dengan karaktermu, sedikit casual sih.., tapi tidak ribet. Apalagi kamu kan kemana-mana, Ezaz selalu mengikutimu." Marina menunjuk salah satu koleksi tas dari merk internasional yang disimpan di pojok atas.
Karena keluarga Prasetyo Pangestu sebagai member untuk branded tersebut, pelayan toko langsung menghampirinya.
"Nyonya mau lihat-lihat dulu? Saya ambilkan ya, itu new arrival bulan ini, baru tiga hari ini tas itu kita pajang. Bener seperti yang disampaikan Nyonya Prasetyo, koleksi itu sangat cantik dan pas dengan karakter kakak. Saya ambilkan dulu ya, permisi." pelayan itu langsung mengambilkan koleksi tas yang tadi ditunjuk Marina.
Tidak berapa lama, pelayan itu menyerahkan koleksi terbatas itu pada Marina.
"Ini Nyonya koleksi terbaru kami." Marina menerima tas itu, kemudian melihatnya sebentar dan menyerahkan pada Naura
"Sudah diambil saja Naura. Pas banget ini denganmu. Cobalah sebentar, Ezaz sebentar ya, Mommy mau cobain tasnya dulu!"
__ADS_1
Sebelum mencobanya, Naura melirik tage harga yang masih tertempel dan tergantung disamping tas. Matanya terbelalak melihat harganya Rp.650.000.000, dia jadi tidak berminat lagi dengan tas itu, dan kembali menyerahkan pada pelayannya.
"Kenapa Naura kok dikembalikan lagi?? Ini bagus tahu.., dan lagian limited edition. Atau kamu mau lihat model yang lainnya lagi, sana ikut Claudia biar dipilihkan." Marina belum sadar, jika menantunya itu merasa ngeri melihat harga-harga yang ada di merchant tersebut.
"Tidak ma.., tas Naura masih banyak. Bahkan masih ada oleh-oleh dari kak Ditya waktu jalan dari Perancis, sekalipun belum pernah Naura pakai." Naura mencari alasan untuk menolak mama mertuanya. Bukannya dia tidak memiliki uang, tetapi terlalu sayang jika uangnya hanya dihamburkan untuk membeli sebuah tas. Dia tidak tahu, jika tas yang dibeli DItya di Perancis itu, jika dirupiahkan menjadi 2.4 milliar rupiah.
Marina terdiam mendengar perkataan menantunya itu, sepertinya dia mulai memahami apa alasan yang mendasari menantunya itu menolak tas tersebut.
"Claudia.., kamu sudah dapat belum?? Jika sudah.., bawa sini sekalian mama yang bayarkan." Marina ganti bertanya pada putrinya.
"Claudia dua sekalian ya ma. Satu untuk kuliah, dan satunya untuk jalan-jalan." Claudia mencoba mendekati mamanya.
Marina memberi isyarat pada pelayan untuk mendekat padanya, dan memberikan Platinum Card berwarna hitam padanya.
"Mbak.., langsung empat sekalian ya,"
"Baik Nyonya.., silakan menunggu dulu disana. Minumannya keburu dingin." dengan muka cerah, pelayan toko mengambil Platinum Card dari Marina.
"Lho kok jadi diambil ma tasnya?" tanya Naura pada mama mertuanya.
"Jadi.., aku tahu alasanmu menolak tas itu, Ingat Naura.., kamu itu menantuku, jangan permalukan kami hanya dengan melihat harga barang yang kamu inginkan."
******************
__ADS_1