PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Shopping


__ADS_3

Hari dan bulan dilalui Naura dengan penuh kebahagiaan. Lambat laun kepercayaan Ditya terhadap istrinya mulai meningkat. Kehamilannya juga sudah berada di trimester terakhir, meskipun hubungan baik antara Naura dan mama mertuanya belum terjalin sebagaimana mestinya. Tetapi keduanya cenderung sudah tidak ada perdebatan jika mereka ketemu, mama mertua memilih diam karena akan ditegur langsung oleh Prasetyo Pangestu.


"Kak.., Naura hari ini pingin jalan boleh? Kan belom cari baju untuk baby kita." pagi ini Naura menemani Ditya sarapan pagi, yang sedang siap-siap untuk berangkat ke kantor. Naura memang sudah tidak diperbolehkan datang ke kantor sejak usia kandungan di bulan ketujuh.


"Mau kemana..., atau nanti sore saja. Aku temani, sebelum jam 15, aku usahakan sudah sampai di rumah?" tanya Ditya yang menghentikan makannya sebentar. Tangan kirinya mengelus perut Naura yang tampak sudah mulai penuh.


"Bolehkan Naura jalan sama kak Jess?? Naura janji deh, tidak akan kemana-mana. Hanya akan ke Paragon Mall, makannya juga di dalam mall sekalian."


Ditya diam, tetap melanjutkan makannya. Dia memang agak meragukan kakaknya Naura, pertama kali mengajak Naura keluar makan siang, dia harus mengeluarkan uang ratusan juta hanya untuk menemukan Naura. Tetapi Ditya juga tidak mau mengecewakan istrinya, karena psikhologisnya harus selalu dijaga agar stabil. Apalagi jika ada Jessica, teman-teman kuliah Naura pasti juga akan menyusulnya.


"Gimana kak Dity? Boleh ya!" dengan puppy eyes.., Naura meminta pada suaminya.


"Yah, tapi ada syaratnya."


"Kok pakai persyaratan segala? Kok kak Ditya tega sih, masak hanya karena hamil tua, tidak boleh jalan sendiri. Apalagi ini kan ada temannya, kak Jess dan kak Doni. Mereka berdua kan juga Bude nya baby kita sayang?" mata Ditya langsung terbelalak, dia sampai menghentikan makannya, baru kali ini dia mendengar kata sayang keluar dari mulut istrinya. Serasa tak percaya, Ditya menoleh ke arah istrinya, kemudian memegang bahu istrinya.


"Apakah benar yang kamu ucapkan padaku Naura?" Ditya ingin mendengar lagi ungkapan kata sayang keluar dari bibir istrinya.


Naura bingung dengan perubahan tiba-tiba dari suaminya, dia lupa apa yang telah dia ucapkan barusan. Tetapi melihat tatapan mengharap dari suaminya,


"Iya kak, Naura tadi bertanya kenapa harus pakai persyaratan segala?"


Ditya menggelengkan kepala, Naura tambah bingung. Karena lama tidak ada respon dari Naura, akhirnya


"Benarkah Nauraku juga  sayang sama kak Ditya? Aku ingin mendengarnya sekali lagi sayang. Ucapkan sekali lagi!" dengan lembut Ditya meminta istrinya.


Mendengar perkataan suaminya, pipi Naura menjadi merah merona. Dia menutup mukanya dengan menggunakan kedua tangannya.


"Kenapa sih aku tadi bisa keceplosan? Tapi apa benar ya, aku sudah mulai sayang pada kak Ditya?" Naura malah diam bertanya pada dirinya sendiri.


"Ayolah Naura..., aku ingin mendengarnya lagi sayang!" Ditya kembali mendesaknya.

__ADS_1


"Ya, Naura sayang sama kak Ditya." akhirnya keluar perkataan lirih dari Naura, sambil beranjak dari kursinya meninggalkan Ditya sendiri.


"Akhirnya istriku juga bisa menyayangi aku." gumam Ditya sambil tersenyum. Kemudian dia meninggalkan makannya yang sudah selesai, mencuci tangan di wastafel dan mencari istrinya kembali.


Melihat istrinya sedang duduk di ruang tengah sambil melihat televisi, Ditya langsung duduk di sampingnya, dan langsung memeluk erat Naura.


"Aah kak.., jangan begini to? Ini Naura sedang lihat televisi ini lho?" Naura mencegah Ditya di dekatnya, karena dia masih merasa malu dengan perkataanya tadi.


"Aku jadi malas berangkat ke kantor hari ini. Ayo nanti aku antar ke Paragon jam 9, aku akan menemani kamu mencari baju untuk baby kita."


"Tapi gimana dengan Kak Jess dan kak Doni? Mereka sudah kirim chat kalau akan menjemput Naura jam 10. Lagian kak Ditya kan harus beker..." belum selesai Naura bicara, bibir Ditya sudah menutup bibirnya. Dan seperti yang sudah-sudah akan sangat sulit untuk menepis pesona dari laki-laki itu.


 


 


****************************


 


"Tidak kak.., bentar dulu ya. Naura mau lihat yang di sudut sana, lucu."


Akhirnya dia mengijinkan Jessica dan Doni ikut bersamanya mencari baju untuk baby yang masih ada di kandungan Naura. Doni duduk di kursi di samping Ditya, sedangkan Ditya terus mengamati langkah Naura, seakan mengawasi porselin yang khawatir akan pecah. Doni sebagai penggemar Ditya, tidak memiliki kesempatan untuk mengajaknya berbincang-bincang, karena fokus Ditya dari datang ada pada istrinya.


Tiba-tiba Ditya berdiri dan melangkah ke bagian sudut yang berbeda, dia melihat topi lucu untuk baby. Kemudian dia meminta pelayan untuk mengambilnya.


"Warna apa Tuan yang mau diambil?"


"Yang warna grey, sama biru soft."


Pelayan menyerahkan topi bayi yang sudah diambilnya. Ditya mengamati setiap detil untuk memastikan safety untuk kepala baby. Topi lucu terbuat dari bahan rajutan yang sangat halus.

__ADS_1


"Ambilkan satu lusin ya, tidak perlu pakai warna pink dan ungu!"


"Semua Tuan?"


"Tidak dengar apa yang saya perintahkan?"


Pelayan langsung menyiapkan pesanan Ditya, kemudian dia melihat seorang anak kecil berlari dikejar orang tuanya dan mengarah kepada Naura. Ditya langsung berlari ke arah Naura, tetapi terlambat anak itu sudah menabrak Naura. Dan Naura yang tidak tahu apa-apa, langsung kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang. Untungnya ada sofa di belakangnya, sehingga Naura langsung terjatuh di atas sofa.


"Aduh..." teriak Naura sambil memegang perut bagian bawahnya. Beberapa pengawal yang diminta Ditya untuk mengawal mereka segera berlari ke arah Naura.


"Na.., Naura.. kamu ga pa pa?" Jessica langsung duduk memegang Naura yang tampak merintih kesakitan.


Ditya langsung mengangkat Naura dan membawanya keluar menuju lobby. Dia yang pemarah sudah tidak bisa melakukan apa-apa kecuali membawa istrinya untuk dilarikan ke rumah sakit.


"Siapkan mobil di lobby!" teriak Ditya pada pengawalnya.


Orang tua dari anak itu mengejar Ditya, dan baru saja akan mendekatnya sudah dipelototi Ditya.


"Urusan anda dengan saya, akan diurus asisten saya!" mendengar seruan Ditya, orang tua dan anaknya itu hanya bisa menangkupkan kedua tangan di depan dadanya. Jessica tergesa-gesa mengikuti langkah DItya, dan Doni segera  mengambil mobil ke basement.


Beberapa security mall ikut mengamankan jalan Ditya menuju lobby, dan beberapa mengamankan orang tua dan anak yang menabrak Naura. Begitu mobil datang, tanpa banyak bicara Ditya langsung meminta langsung ke rumah sakit. Dengan air mata mengalir, Ditya menciumi Naura yang tampak kesakitan.


"Naura tidak apa-apa kak, tidak perlu menangis!" ucap Naura pelan. Dia tidak menyangka jika Ditya tampak mengkhawatirkannya.


"Sstt.., jangan berbicara dulu sayang! Yang akan menjawab setelah diperiksa Dokter."


Akhirnya Naura terdiam, dalam dekapan Ditya. Jessica yang duduk di depan, hanya melirik mereka dari kaca depan.


 


 

__ADS_1


***********************


__ADS_2