
"Ma.., kenapa papa tiba-tiba kangen dengan Naura ya. Sudah lama sekali kita tidak pernah ketemu dengan putri kita itu. Kira-kira sudah hamil atau punya momongan belum ya putri kita?" Firmansyah membicarakan tentang putrinya Naura pada Novi.
"Iya pa, mama juga. Tahun lalu, mama kirim pesan pada Firmansyah untuk menemui Naura di rumahnya. Tetapi dia tidak mengijinkannya, kenapa juga ya Naura sendiri tidak pernah pulang ke rumah ini. Apa Naura marah sama kita ya pa?"
"Papa tidak tahu jawabannya ma. Kita ini seperti sudah menjual putri kita. Begitu Firmansyah mengirimkan uang ke kita untuk melunasi semua hutang-hutang kita, sejak itu Naura langsung dia bawa. Papa kapan itu datang ke tempat kuliah Naura, ternyata anak itu sudah lulus dan diwisuda satu bulan yang lalu." tanpa disadari air mata mengalir dari kelopak matanya.
"Iya pa, mama juga bingung. Jessica sampai sekarang juga marah sama mama. Mama hanya bertanya, kapan dia akan menikah dengan pacarnya, malah menjawab jika itu bukan urusan mama dan papa."
"Coba ma, kamu hubungi Firmansyah sekali lagi. Minta ijin ketemu dengan putri kita, papa betul-betul kangen padanya, dan akan minta maaf padanya."
"Iya pa, nanti coba mama kirim pesan pada Firmansyah. Naura juga ganti nomor ponsel, tetapi tidak memberi tahu pada kita orang tuanya."
********************************************
Tangan Naura digandeng Ditya memasuki sebuah rumah mewah. Berkali-kali Naura mencoba melepaskan pegangan tangan DItya, tetapi laki-laki itu menggenggam tangannya sangat erat. Naura hendak melarikan diri, tetapi dia takut akan terjadi kesalah pahaman dengan Boss nya itu. Dia hanya berharap jika Pradipta segera datang ke tempat itu.
"Selamat sore Tuan, Non." beberapa ART yang ditemui memberi salam pada mereka berdua.
Ditya tetap menggandeng tangan Naura, dan mereka sudah melewati ruang tamu, tetapi Ditya tetap menariknya ke dalam. Dan saat Ditya mau menarik Naura ke dalam kamar, Naura berhenti.
"Pak Ditya.., kenapa Bapak membawa saya kesini? Saya duduk di ruang tamu saja pak, tidak etis jika saya harus masuk ke rumah bagian dalam."
"Kenapa kamu takut? Ini rumahmu sayang, jangan panggil aku pak. Panggil namaku Ditya, atau panggil aku kakak." Ditya menatap mata Naura kemudian dia mengelus pipi Naura.
Naura menepis tangan laki-laki itu, dan dengan marah dia bersuara keras pada Aditya.
"Lepaskan Naura pak, jangan berperilaku tidak sopan pada Naura." Naura berteriak pada Aditya dengan lantang.
__ADS_1
Mendengar suara Naura, Aditya tertegun sebentar tapi kemudian dia tersenyum. Kemudian dia kembali memegang pipi Naura.
"Gadis, apakah kamu melupakan aku sayang? Mana suara seksimu saat merayuku, aku masih ingat semua rayuanmu padaku di malam itu. Kamu harus tinggal disini, kamu adalah milikku satu-satunya." kata Aditya dengan suara lembut, dan seperti petir menggelegar yang mengagetkan Naura.
Naura langsung membalikkan badan, dan baru saja dia akan berlari, Aditya sudah memeluknya erat.
"Aku mencarimu kemana-mana sayang, bahkan beberapa agen telah aku sewa untuk mendapatkan informasi tentangmu. Ternyata kamu memang dijodohkan untukku, tanpa kita sadari, kamu sudah datang sendiri ke perusahaanku." bisik Aditya di telinga Naura.
Tiba-tiba Naura merasakan tubuhnya menggigil, dia teringat kembali kejadian di malam itu. Dia berusaha untuk melupakannya, tetapi perkataan Ditya kembali mengingatkannya pada kejadian bodoh itu.
"Apakah laki-laki ini yang telah tidur denganku di malam naas itu? Ya Tuhan, tolong aku, hentikan!" Naura berpikir sendiri sambil tanpa dia sadari, air matanya mulai mengalir deras.
"Lepaskan Naura pak Ditya! Bapak salah orang, Naura bukan siapa-siapa pak." Naura terus memohon pada Aditya untuk melepaskannya.
"Jangan tinggalkan aku Naura! Kamu adalah milikku, semua rumah ini dan isinya adalah milikmu, kamu harus tetap berada disini Naura. Ini rumahmu." semakin erat Ditya memeluk Naura dan tidak mau melepaskannya.
"Ditya..., lepaskan Naura. Jangan gila kamu!" tiba-tiba terdengar teriakan Pradipta.
Dia langsung berlari menghampiri Ditya yang memeluk erat tubuh Naura, dan melihat gadis itu menangis hatinya terasa sakit. Dia berusaha memisahkan Naura dari pelukan Ditya. Tetapi Ditya langsung mendorong tubuh Naura ke dalam kamarnya, dan langsung menguncinya.
"Ditya, Naura adalah karyawan kita, dia sekretarisku. Jangan sakiti dia Dity!" seru Pradipta.
"Diam kamu Dipta, Naura adalah wanitaku. Dia yang wanita yang kita cari kemana-mana, dan kamu tidak becus untuk menemukannya." kata Ditya dengan suara yang tidak kalah tinggi.
Mendengar perkataan Aditya, Pradipta terdiam sejenak, kemudian dia menatap mata Aditya.
"Dia wanitaku, aku tidak akan membiarkan wanita itu meninggalkan aku lagi seperti malam itu. Kamu sahabatku Dipta, kamu harus mendukungku, jangan bawa wanitaku pergi. Aku mohon Dipt!" tiba-tiba Aditya menangis, dan hal itu sangat membuat kaget Pradipta.
__ADS_1
Dia sendiri belum bisa mencerna semua perkataan sahabatnya itu, dan dia melihat Aditya sahabatnya menangis hanya karena Naura. Akhirnya kedua pria itu terdiam, Dipta langsung duduk di kursi, kemudian Ditya mengikutinya.
"Ditya.., jawab jujur. Apakah Naura wanita itu? Diakah yang sudah tidur denganmu di hotel itu?" Dipta bertanya dengan pelan pada sahabatnya.
Aditya menganggukkan kepalanya.
"Iya Dipt, Naura sudah membuatku gila. Setiap malam aku seperti mendengar rintihannya, pelukannya masih terasa hangat melingkar di badanku, Aku bisa gila Dipt, jika kamu bawa kembali gadis itu."
Pradipta sangat terkejut melihat sahabatnya menjadi seperti itu, dia tidak tahu apa yang sudah Naura lakukan padanya. Sampai saat ini, dia masih mengingat Naura dengan sangat tajam.
"Tapi caramu salah Dity, kamu membuat Naura menjadi ketakutan dan bisa jadi dia akan mengalami trauma denganmu. Lepaskan dia malam ini Dity, biarkan aku membawanya pulang. Besok kita bicarakan lagi."
Aditya masih terdiam tidak berbicara, pandangannya kosong.
"Kita tidak hanya menimbulkan masalah untuknya. Tetapi akan banyak timbul masalah untuk banyak orang Dity. Kita bisa bicarakan baik-baik dengan keluarganya, kita minta Naura untukmu teman, itu akan jauh terlihat lebih gentle untukmu. Apakah kamu tidak berpikir bagaimana jika wartawan tahu, apakah kamu tidka menyayangkan bagaimana respon Om dan tante?"
"Dipta, jangan pisahkan aku dengan Naura Dipt! Aku akan gila."
"Tetapi kamu membuatnya takut teman, saat ini hanya aku yang dipercaya oleh Naura. Aku akan mengantarkannya pulang. Ini sudah masuk waktu malam, aku yakin keluarganya sudah sangat mengkhawatirkannya."
"Percayalah padaku Dity, aku temanmu dari dulu. Aku tidak akan mengkhianatimu, aku akan mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya."
Aditya tetap terdiam, tetapi kemudian.
"Aku ikut jika kamu mengantarkannya pulang."
"Kamu akan menakutinya teman. Apakah kamu tidak pikirkan, kejadian barusan sudah membuatnya ketakutan? Bukalah pintu kamarmu, aku akan membawanya pulang. Sambil menunggu laporan dari tim investigasi, aku yakin malam ini mereka sudah akan melaporkannya padaku."
__ADS_1
*************************************************