PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Kacau


__ADS_3

Ditya memandang mata Marina seperti tatapan menghakimi, bahkan menyapa mamanya juga tidak mau. Claudia menundukkan kepala, tidak berani melihat kakaknya.


"Plakkk..." tamparan Ditya dengan sekencang-kencangnya mendarat di pipi dua bodyguard yang mengawal kepergian mereka ke mall.


"Bukk.." berikutnya tendangan langsung didaratkan ke dada dan perutnya.


"Bagaimana ini semua bisa terjadi? Jelaskan semuanya padaku..., apa gaji yang aku berikan kepada kalian semua kurang banyak?" teriak Ditya seperti orang kalap.


"Hiks.. maafkan mama Dity, mama lengah!" ucap Marina pelan sambil terisak menangis.


"Puas ma?? Mama puaskan..., upaya mama untuk memisahkan kami sudah berhasil. Ingat ma, jika sampai Naura dan Ezaz tidak ketemu..., maka Ditya juga akan menghilang selamanya dari kehidupan mama." Ditya berteriak keras memarahi mamanya.


Marina tidak mampu menjawab perkataan putranya, dia hanya menangis terisak sambil memeluk Claudia.


"Tenangkan dirimu dulu Dity..! Papa sudah menghubungi jajaran Poltabes. Mereka sudah menerjunkan timnya untuk menyelidiki masalah ini." meskipun Prasetyo Pangestu juga menyalahkan istrinya, tetapi dia yakin jika Istrinya tidak akan sampai melakukan perbuatan menghilangkan menantu dan cucunya sendiri.


"Mama.., Claudia.., sekarang pulang!!! Irwan .., bawa anak istriku pulang ke rumah!" Prasetyo Pangestu meminta anak istrinya untuk pulang ke rumah.


"Tapi.., Claudia ingin ikut mencari kakak ipar dan Ezaz pa." ucap Claudia sambil menangis.


"Pulang kataku!" Prasetyo Pangestu membentak putrinya dengan keras.


Laki-laki yang dipanggil Irwan kemudian mengawal istri dan putri dari Boss besarnya keluar menuju lobby. Marina mencoba memegang tangan Ditya putranya, tetapi dengan keras laki-laki itu mengibaskan tangan mamanya. Marina tambah terisak menghadapi penolakan putranya itu.


"Bagaimana hasil rekaman CCTV?" tanya Ditya dengan mata merah.


"Kami hanya menyampaikan kemungkinan ini Tuan. Ada 3 perempuan, yang membawa bungkusan besar ini keluar dari toilet. Kami sudah konfirmasi ke bagian yang mengelola rest room.., mereka tidak ada penanganan seperti ini." penanggung jawab keamanan menyampaikan hasil analisisnya.

__ADS_1


"Siapa wanita yang tersenyum dengan istriku di pintu masuk ini?? Apakah dia pegawai di mall ini?" tanya Ditya dengan suara tinggi.


"Bukan Tuan.., kami juga sudah konfirmasi ke semua HRD yang punya merchant disini, ternyata tidak ada yang mempekerjakan wanita ini."


"Duak.. prang.." tangan dan kaki Ditya langsung menendang meja kaca yang ada di hadapannya. Kaca bening yang diletakkan diatas meja itu langsung hancur berantakan. Tetapi tidak satupun yang berani menegur atau memarahinya.


Tiba-tiba ada dua orang yang berlari menuju ke pos jaga itu. Semua pengunjung mall memang langsung dikosongkan dan dilakukan sweeping dalam waktu 3 jam terakhir. Pemilik mall yang merupakan sahabat baik dari Prasetyo Pangestu langsung menginstruksikan mall untuk ditutup sementara.


"Ada apa Bandi??" seru penanggung jawab keamanan itu.


"Beberapa jam yang lalu, terlapor ada helikopter yang terbang pergi dari hanggar diatas. Tetapi kami terlambat untuk mengetahuinya." laki-laki yang bernama Bandi itu langsung menyampaikan laporan.


"Kenapa kalian bisa terlambat mengetahuinya? Selidiki helikopter itu milik siapa?" teriak Ditya.


"Sudah kita lakukan Tuan, tetapi kami belum menemukannya. Kita juga sudah menghubungi jasa rental helikopter yang ada di kota ini." Bandi menjawab pertanyaan Ditya.


Prasetyo Pangestu berpikir jika Ditya tetap berada disitu akan memperkeruh kondisi penyelidikan. Dia berpikir untuk segera membawa pulang putra laki-lakinya itu.


"Ditya.., ayo ikut papa dulu. Papa yakin, Naura dan Ezaz akan baik-baik saja. Karena sampai sekarang belum ada berita apapun dari orang yang telah menculik mereka." dengan nada lembut, Prasetyo mengajak putranya untuk meninggalkan tempat itu. Tetapi Ditya menolaknya, kemudian Prasetyo memberi kode pada bodyguard yang masih berada di situ.


********


Dua hari dari hilangnya Naura dan Ezaz, belum ada kabar terbaru apapun. Perkiraan penculikan oleh orang yang terlibat perselisihan dengan Ditya maupun Prasetyo juga tidak ada buktinya. Tidak ada yang menghubungi siapapun untuk meminta tebusan. Hingga muncul anggapan bahwa Naura dan Ezaz pergi karena keinginan mereka sendiri.


"Dity..., makanlah dulu!! Sudah hampir 2 hari kami belum makan. Lihatlah penampilanmu di cermin!" dengan suara pelan Pradipta berbicara dengan Ditya.


Pradipta tidak meninggalkan Ditya sendiri sejak dia datang ke Jakarta. Dia melihat sendiri bagaimana kondisi sahabatnya itu saat kehilangan Naura dan Ezaz.

__ADS_1


"Ada informasi terbaru tidak Dipt?? Kemana istri dan putraku saat ini? Apakah mereka juga sudah makan?"


"Kita masih harus bersabar Dity. Informasi.yang aku dapatkan terakhir, helikopter itu sewaan dari Mr. Smith. Sekarang aku baru minta mereka mendapatkan informasi tentang siapakah itu Mr. Smith,. dan helikopter itu ditinggalkan di lepas pantai." kata Pradipta.


"Apa katamu?? Lepas pantai mana?? Apakah sudah kamu lakukan penyisiran di daerah sana?" mendengar perkataan Pradipta, Ditya langsung tertarik.


"Tenanglah dulu.., mandilah sana! Badanmu sudah bau, aku akan antarkan kamu untuk menemui orang bayaran yang aku minta untuk melakukan penyelidikan. Kelamaan nunggu hasil kerja dari pihak kepolisian."


"Jam berapa kita ketemu mereka?"


"Nanti mereka akan menghubungi kita setelah tiba disini. Maka siapkan dirimu, mandi dan makanlah dulu! Aku tidak mau pergi dengan orang yang bau sepertimu."


Ditya menuruti perkataan sahabatnya itu, dia kemudian masuk ke kamar mandi. Dia melihat wajahnya di cermin, bulu-bulu halus mulai bertumbuhan di rahang dan dagunya. Mukanya terlihat kumuh, tetapi dia tidak memiliki niat untuk membersihkannya. Setelah sikat gigi, dia langsung mengguyur sekujur tubuhnya dengan shower.


Sementara itu Pradipta yang masih chatting dengan orang-orangnya, tiba-tiba mendengar suara orang membuka pintu. Baru saja dia akan mengambil senjatanya, terlihat Prasetyo Pangestu dan orang-orangnya berjalan memasuki ruangan.


"Om.. selamat sore." Pradipta langsung berdiri dan menyapa papanya Ditya.


"Sore..., kemana Ditya Dipt?" Prasetyo menanyakan dimana putranya.


"Pradipta minta untuk mandi Om. Bau badannya, sudah dua hari dia belum mandi."


"Baguslah kalau dia sudah mau menyentuh air. Aku tidak menyangka sebegitu hebatnya perasaan Ditya untuk Naura. Mamanya sampai sekarang juga masih terpuruk di kamar, dia merasa bersalah dengan hilangnya Naura dan Ezaz."


"Iya Om..., Pradipta sudah lama tahu. Waktu di Semarang pernah juga Ditya menggemparkan pihak kepolisian. Hanya gara-gara istrinya keluar makan siang sama kakaknya tanpa pamit, Dishub sama polisi dibuat pontang-panting." Pradipta tersenyum kecil.


"Bagaimana pendapatmu untuk kasus ini Dipt, ada kemungkinan tidak jika Naura pergi sendiri?"

__ADS_1


"Tidak mungkin Om. Saya bisa menjadi saksi bagaimana cinta Naura pada suaminya. Dia juga tidak akan mungkin membangkang pada Ditya. Dan dari informasi terakhir, kemungkinan besar memang Naura dan Ezaz diculik."


***********


__ADS_2