
"Dipta..., bagaimana apakah kamu sudah mendapatkan informasi siapa yang booking kamar hotel malam itu?" Aditya bertanya pada Pradipta.
Malam itu mereka baru ngopi bareng di kafe.
"Yang booking kamar itu laki-laki Dity, apa pacarnya gadis itu ya? Tapi aku baru minta rekaman CCTV di depan kamar itu. Pihak keamanan baru mengajukan ijin ke General Managernya."
"Kalau pacarnya kok sepertinya tidak mungkin ya Dipt. Gadis itu malam itu seperti ada pengaruh obat, sehingga dia tidak bisa mengontrol dirinya."
"Kemudian kamu juga dalam pengaruh minuman ya Dity, makanya saling tidak bisa saling mengontrol dan mengingatkan. Ha..ha...ha.."
Ditya melempar Pradipta dengan rokok yang ada di depannya. Dengan sigap Pradipta menangkap rokok itu, dan malah tertawa terbahak-bahak.
"Jangan sok tahu kamu. Aku sudah berusaha mengingatkannya waktu aku tahu dia masih virgin, tapi gadis itu malah buat ulah. Dia yang memaksaku, ya sudah akhirnya yah..., kamu tahu sendiri kan. Akhirnya semua terjadi."
Aditya terdiam membayangkan kejadian di malam itu.
"Tapi benar Dipt, aku merasa tidak asing dengan gadis itu, aku pernah melihatnya dan komunikasi dengannya. Cuma aku tidak ingat dimana itu."
"Yah..., disikapi saja Dity. Mungkin papa dan mamamu menginginkan kamu yang memimpin perusahaan cabang kota ini, karena ingin agar kamu ketemu jodohmu. Atau jangan, jangan itu skenario Om dan Tante Dity?"
"Hush..., jangan sembarangan kamu bicara Dipt. Tidak bakalan mama mengijinkan putranya tidur dengan perempuan tanpa ikatan. Aku yakin, kalau itu skenario mama atau papa, pasti kamu ikut terlibat."
"No.., no.. Bro. Aku tidak tahu apa-apa tentang kejadian kamu sama gadis itu. Terus apa rencanamu kalau gadis itu sudah ketemu?"
Ditya menghisap rokok sebentar, kemudian mengeluarkan asapnya. Dia tampak berpikir serius, kemudian dia mulai berbicara.
"Aku akan menikahinya."
"What??? Really??" seru Pradipta.
Dengan mantap Aditya menganggukkan kepala, dia sendiri juga tidak tahu. Sejak kejadian malam itu, dia masih teringat wajah dan tatapan polos gadis itu.
"Jangan asal bicara kamu Bro. Kalau gadis itu ternyata sudah punya pacar atau tunangan, atau bahkan dia menolak untuk kamu nikahi bagaimana? Buktinya setelah tidur denganmu saja, dia malah kabur duluan dengan pesan agar kamu melupakannya."
"Aku tidak mau tahu. Semua aku pasrahkan padamu Dipt. Entah bagaimana caranya, gadis itu harus menjadi milikku."
Pradipta menggelengkan kepala melihat sikap keras hati sahabat sekaligus Bossnya itu. Perlahan dia mengambil cangkir kopi, kemudian dia meneguknya sekali, kemudian meletakkan kembali cangkir ke atas meja.
__ADS_1
*****************************************
Santi marah-marah pada anak buahnya, karena gagal mendapatkan bukti bahwa Naura sudah berselingkuh dengan laki-laki lain. Upaya mereka untuk minta rekaman CCTV kejadian di malam itu pada pihak hotel, belum disetujui oleh GM hotel tersebut. Dia malah menjadi ribut dengan Firmansyah, karena malah ketemu dengan putra pengusaha konglomerat di kamar yang mereka sediakan untuk Naura dan gigolo yang sudah mereka sewa.
"Tetapi kenapa yang ada di kamar itu bukan Naura? Kemana anak itu?"
"Kita juga tidak tahu Non. Padahal malam itu, kita sendiri merasa memasukkan gadis itu ke kamar tersebut. Kenapa di pagi hari malah ganti Aditya Herlambang yang keluar dari kamar itu."
"Dasar kalian semua. Tidak ada yang becus satupun, percuma aku menggelontorkan banyak uang untuk kalian."
Farah dan beberapa orang laki-laki hanya diam mendengar omelan dari Santi. Mereka juga heran dengan kejadian malam itu. Jelas-jelas mereka yang booking kamar, dan membawa Naura dari ruang transit ke kamar itu, tetapi kenapa penghuni kamar bisa berganti menjadi putra Prasetyo Pangestu.
"Atau kita adakan rencana yang lain Non. Kemarin kan baru plan A, kita buat lagi plan B."
"Sudah, bubar, bubar. Kalian harus tetap berusaha untuk mendapatkan rekaman kamera CCTV dimana posisi Naura di malam itu. Aku akan coba dekati suaminya lagi, untuk meyakinkan padanya agar segera menceraikan gadis itu."
"Baik Non kita pergi dulu ya. Selamat malam."
*****************************
Edward menekan pedal gas mobil ke arah PT. Elang Jaya. Dia akan menjemput Naura pulang kerja, dan tidak peduli meskipun gadis itu akan menolaknya. tadi dia hanya mengirim pesan via chat di whattsapps pada Firmansyah kalau akan menjemput Naura. Di depan pintu gerbang, Edward memarkirkan mobilnya, dia melirik Rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu ada di jam 15.30. Merasa jam kantor belum habis, dia menidurkan jok kursinya, kemudian dia meluruskan badannya, dan mengatur pendingin mobil. Setelah melihat ada beberapa orang keluar dari perusahaan, Edward keluar dari mobil dan melihati karyawan yang keluar.
"Naura." teriak Edward memanggil Naura yang sedang berjalan keluar dengan Bambang. Bergegas dia mendatangi Naura.
__ADS_1
Naura menengok ke arah Edward, kemudian berhenti karena tidak enak dengan para karyawan lainnya.
"Maaf ya mas, Naura akan pulang bersamaku." dengan senyum ramah Edward memberi informasi pada Bambang.
"Oke no problem. Naura.., aku duluan ya,"
"Makasih Bang."
Edward menggandeng tangan Naura, tetapi dengan cepat Naura menepis tangannya.
"Tidak perlu pegang-pegang bisa tidak sih Edward. Ingat aku ini istri Om-mu." Naura mengingatkan pada Edward mengenai status mereka.
Edward sedang malas berdebat dengan Naura, dia hanya tersenyum sambil melepaskan tangan Naura kembali.
"Naura.., tidak enak kalau kita ngobrol disini. Tuh, banyak teman-teman karyawanmu yang lewat. Kita ke mobil ya, aku sengaja menjemputmu. Karena sulit sekali aku mengajakmu bicara saat kita ada di rumah."
Naura melihat ke sekitar lingkungan dimana dia dan Edward berdiri, dan memang banyak teman-temanya yang berjalan keluar. Dia juga khawatir jika pak Pradipta melihatnya dengan Edward, akhirnya dia menuruti apa yang diinginkan laki-laki itu. Sesampainya di mobil, Edward membukakan pintu mobil untuk Naura, kemudian dia jalan memutar untuk duduk di samping Naura. Tanpa banyak bicara dia langsung menjalankan mobilnya.
"Saat ini Naura pingin kemana?" Edward bertanya dengan lembut.
"Pulang, capai kerja seharian."
"Ya sudah, tapi nanti aku mohon, beri aku waktu untuk bicara ya."
"Edward.., perasaan dari tadi kamu sudah bicara padaku kan? Kamu mau bicara apalagi, aku ini Tantemu, istri dari Om Firmansyah. Jangan bicara lagi seperti apa yang kamu katakan pada malam itu."
"Naura..., apakah cinta itu salah? Kalau kamu mau melepaskan Om Fir, aku bisa membantumu. Aku juga tahu, hubungan apa yang terjadi antara kamu dan Om Fir, aku akan membawamu kalau kamu bersedia."
"Cukup Edward, jangan bicara masalah cinta padaku. Aku bukan orang yang tidak tahu diri, dan juga bukan orang yang tidak tahu balas budi. Aku akan bertahan di sisi Om Fir, selama dia masih butuh aku sebagai istrinya. Sampai kapanpun."
"Oke Naura, aku akan membuat Om Fir melepaskanmu. Ingat janjiku."
Naura malas mendengarkan ocehan Edward, dia memejamkan matanya.
__ADS_1
**************************************************