
"Dity..., mau kemana kita, sudah jauh aku bawa mobilnya? Jangan bilang aku tentukan tujuan sendiri." Pradipta membuyarkan lamunan Ditya.
"Ke dekat bandara saja, kita cari ikan bakar. Sekalian kita makan siang!" sahut Ditya.
"Naura, siang ini aku ada schedull penting tidak?"
"Ada undangan meeting internal pak. Pukul 14.00 koordinasi dengan Marketing Division, mereka mau mengajukan konsep new branding. Kira-kira bapak bisa hadir tidak?"
"Beritahukan tim marketing semua meeting offline, nanti kita online. Karena sepertinya jika kita makan siang dulu, kita tidak memiliki cukup waktu untuk hadir."
"Atau gini saja pak. Naura bisa mewakili Pak Dipta untuk datang meeting, Naura bisa naik *ab Car* untuk menuju kantor. Bapak dan Pak Ditya bisa berdua mencari ikan bakar." usul Naura.
"Kamu tidak perlu ikut meeting, sampaikan apa yang dikatakan Dipta." suara tegas Ditya mengejutkan Naura dan Dipta.
"Baik pak, maaf." kata Naura lirih.
Pradipta menyenggol pinggang Ditya dengan lengan kirinya, kemudian dia melotot pada Aditya.
"Maksud pak Ditya begini Naura, kita kan tadi bertiga untuk meyakinkan pak Dodi. Yah, balik ke perusahaan ya tetap harus bertiga, jadi kita makan dulu. Setelah nanti selesai, kita balik ke perusahaan bersama-sama." Pradipta berusaha menetralisir situasi.
"Iya pak Dipta, terima kasih. Ini Naura sampaikan pada Pak Deka, kebetulan baru chattingan sama beliau." sahut Naura.
"Kamu beda bagian dengan Deka, kenapa bisa chattingan?" seru Ditya.
"Ditya.., how about you? Dari tadi kamu bicara tidak bisa pelan apa, Naura itu anak buahku. Dia jalankan semua instruksi dariku. Ya suka-suka dia dong, mau chatting dengan siapapun. Apalagi ini kan kita pas baru diluar." Pradipta sontak bicara dengan nada tinggi pada Aditya.
Naura diam, dia menjadi tidak nyaman, karena kedua bossnya bersitegang karena dia.
"Tidak apa-apa pak Dipta. Pak DItya, saya chatting dengan pak Deka masalah kerjaan pak. Koordinasi katanya untuk materi branding sudah dikirimkan ke email saya barusan. Kemudian juga pak Deka mau mengirimkan link kita meeting online." Naura menjelaskan pada mereka berdua keperluannya chatting dengan karyawan lain di luar bagian kerjanya.
"Tidak apa-apa Naura, aku atasanmu langsung. Kamu boleh chatting dengan siapapun, asalkan tidak mengganggu jam kerja di kantor." ucap Pradipta.
"Ya pak, Naura mengerti."
Aditya diam, dan dia melirik ke kaca depan untuk melihat ekspresi gadis itu.
"Kenapa aku jengkel ya, mendengar Naura chatting sama Deka?" Aditya berpikir sendiri.
__ADS_1
Tidak menunggu lama, Pradipta sudah mengarahkan mobil ke daerah paling utara di Pulau Jawa. Dia memarkirkan mobil, dan terlihat security langsung menghampiri melihat mobil yang dia kendarai.
"Private room Boss, mari kami antar?" security langsung menyambut mereka begitu Pradipta membuka jendela. Dengan sigap security membuka pintu mobil untuk Aditya dan Pradipta. Aditya berjalan ke belakang dan membukakan pintu untuk Naura.
"Terima kasih pak Ditya." ucap Naura lirih kemudian dia berjalan di belakang mereka berdua. Tiba-tiba Ditya berhenti menunggu Naura.
"Ayo kita jalan berdampingan, masak kamu jalan di belakang kami."
"Baik pak." sahut Naura kemudian berjalan di samping Aditya.
Petugas restoran langsung menyambut kedatangan mereka, dan mengarahkan mereka ke privat room.
"Menu yang dipesan apa Tuan?"
"Sama seperti biasanya. Untuk minum, siapkan es lemon tea." Pradipta menjawab pertanyaan petugas resto tersebut.
"Kamu mau minum apa Naura?"
"Kelapa muda utuh, original ya. Tanpa es, dan tanpa gula." kata Naura.
"Aku sama." sahut Ditya.
"Naura mau kemana kamu?" tanya Ditya, dan sontak Pradipta memandang ke arahnya. Dia merasakan hari ini, sahabat sekaligus Bosnya itu aneh.
"Ke toilet pak." jawab Naura sambil melangkah meninggalkan mereka berdua.
Begitu Naura tidak kelihatan, Pradipta langsung bergeser mendekat ke Aditya.
"Dity, kamu berhutang penjelasan padaku. Dari tadi kamu bersikap aneh pada sekretarisku, jangan takuti dia. Ada apa kamu Dity?" Pradipta langsung memberondong Aditya.
"Nanti aku cerita Dipt. Tugasmu menugaskan pengawal untuk menjaga gadis itu. Selidiki dia, tempat tinggalnya, dan statusnya, dia sudah menikah atau belum, karena gadis itu harus jadi milikku."
"Ditya.., apa yang kamu katakan? Kamu sadar tidak siang ini?" dengan kaget Pradipta mengguncang bahu Aditya.
"Sudah lakukan instruksiku Dipta, atau Naura aku tarik kerja ikut aku."
Pradipta terdiam, kemudian dia mengirim pesan ke pengawal inti Aditya. Dia menugaskan dua orang untuk menjaga dan memastikan keselamatan Naura. Juga mengirimkan pesan pada tim investigasi perusahaan untuk menyelidiki data-data Naura.
__ADS_1
*********************************
Naura keluar dari kantor paling akhir, dan untungnya tadi dia sudah menitipkan pesan pada security jika Edward menjemputnya, untuk menyampaikan jika dia sudah pulang terlebih dahulu. Tetapi di depan kantor, Naura melihat mobil Aditya masih berada di depan. Naura tetap tenang berjalan, tetapi saat dia berada di samping mobil Aditya, pintu mobil tiba-tiba terbuka.
"Naura, mau pulang? Masuk mobilku, aku antar!" Aditya langsung memerintahkan Naura untuk masuk dalam mobil.
"Naura sudah pesan Ojol pak Ditya. Bapak sendiri saja ya." sambil tersenyum, Naura menolak halus ajakan Aditya.
"Kan bisa di cancel, ayo pulang sama saya." seru Aditya.
"Tin.., tin..,tin.." tiba terdengar klakson mobil.
Sontak Naura menoleh ke sumber suara, dan melihat mobil Edward datang untuk menjemputnya. Karena malas berurusan dengan Edward, karena takut menimbulkan kesalah pahaman dengan suaminya, Naura langsung masuk ke mobil Aditya. Begitu Naura masuk, Aditya langsung central lock pintu, kemudian mengendarai mobilnya. Edward mengikuti mobil Aditya, tapi melihat dari spion mobilnya, tahu dia diikuti, Aditya langsung menambah kecepatan mobilnya, dan tanpa menanyakan kemana tujuan Naura, dia langsung membawa Naura pulang menuju rumahnya.
"Pak Ditya, maaf kita mau kemana pak? Ini bukan arah ke rumah Naura." dengan penuh khawatir Naura memberanikan bertanya pada Aditya.
"Sudah kamu tenang saja, pejamkan mata. Kalau sudah sampai, nanti aku bangunkan kamu." jawab Aditya sambil tersenyum smirk.
Melihat senyuman Aditya, Naura sedikit merasa takut. Dia menyesal kenapa tadi dia memilih pulang bersama dengan pimpinannya itu, daripada dengan Edward. Naura kemudian membuka ponselnya, dan memberanikan diri mengirim pesan via whattsapps pada Pradipta.
"Selamat sore pak Dipta. Tolong Naura pak, Naura takut dengan pak Ditya!"
Pradipta tidak membalas chatt Naura, tetapi langsung melakukan panggilan telepon pada Naura. Naura tidak berani mengangkat panggilan tersebut, Aditya tiba-tiba menoleh padanya.
"Panggilan telepon dari siapa? Kenapa tidak diangkat, angkatlah. Bicaralah depan saya!" Ditya malah menyuruh Naura mengangkat telponnya.
"Selamat malam pak Dipta, saya sedang bersama pak Ditya." dengan gugup Naura memberi informasi pada Pradipta.
Untungnya Pradipta cukup memahami kondisi Naura, kemudian dia menutup teleponnya, dan langsung mengambil mobil menuju rumah Aditya. Sedangkan Naura hanya memeluk tas kerjanya, tidak berani menengok ke samping. Aditya hanya senyum-senyum melihat kegugupan gadis itu.
__ADS_1
************************************