
Acara wisuda tepat dimulai pada pukul 08.00. Pada saat prosesi, wisudawan berjalan berbaris memasuki tempat yang sudah disediakan, Naura melirik ke kursi yang disediakan untuknya, dia melihat Kakaknya Jessica ditemani Doni duduk di baris nomer dua dari depan. Dan saat dia melihat jatah kursi untuk kedua orang tuanya di barisan paling depan, Naura melihat Firmansyah dan Edward mengenakan jas lengkap sudah hadir dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Naura memang mendapatkan jatah tempat duduk untuk pendamping di bagian depan sendiri, karena dia diwisuda dengan Ipk terbaik dan masa studi tercepat.
Rangkaian demi rangkaian acara wisuda dilaksanakan dengan khidmat, dan saat pemberian kenang-kenangan untuk wisudawan dengan Ipk terbaik, pendamping wisudawan juga dipanggil ke depan. Saat nama orang tua Naura dipanggil ke depan, Firmansyah tetap bertahan di kursinya, tidak beranjak untuk berdiri di stage wisuda. Naura merasa cemas, karena sudah melewati 3 kali panggilan, Firmansyah tetap tidak mau beranjak.
"Om tidak ke depan untuk mendampingi aunty Naura Om?" Edward mengingatkan pada Om-nya.
"Tidak, yang dipanggil kedua orang tuanya bukan Om."
"Tetapi kan kita yang mewakili orang tuanya."
"Sudahlah kamu diam, tadi Om melihat kakaknya Jessica juga datang, biar dia yang mendampingi Naura."
Karena sudah melalui tiga kali panggilan, suami Naura tidak ke atas stage, akhirnya Jessica dengan ditemani Doni maju ke stage untuk mendampingi Naura.
"Ternyata Om benar. Itu kakaknya aunty Naura, Edward pernah melihatnya. Karena beberapa kali dia dan pacarnya sering main ke rumah."
Edward mengambil foto Naura dan kakaknya saat menerima penghargaan dari pihak kampus.
Pada saat acara wisuda selesai, Firmansyah dan Edward masih bertahan menunggu Naura selesai dengan acara foto-fotonya. Firmansyah menolak untuk membersamai foto bareng dengan istrinya. Meskipun Edward merayunya, tetapi dia tetap tidak mau untuk berfoto.
Naura berpamitan dengan teman-temannya tidak bisa berada di kampus untuk waktu yang lama.
"Iin, Fikri, Akbar..., maaf banget ya. Aku hari ini diantar sama suamiku dan keponakannya. jadi aku pulang dulu, aku janji deh, besok saat ke kampus kita janjian ketemu."
"Kamu tidak akan mengenalkan suamimu pada kita-kita Naura?" tanya Iin.
Fikri menyenggol lengan Iin agar diam, dan tidak menghalangi Naura untuk cepat pulang. Dia sudah tahu wajah suaminya, karena Fikri ikut menjadi perwakilan UKM kampus, yang menjadi sukarelawan memasang ID tempat duduk pendamping wisudawan.
"Sudah tidak apa-apa Naura, nanti kita masih bisa ketemu lagi. Sampai nanti ya, Bye Naura." sahut Fikri.
"Terima kasih guys, kalian memang teman-temanku yang paling baik. Aku pulang duluan yah."
Naura langsung memeluk Iin dengan erat, dan Iin juga membalasnya. Setelah selesai, Naura menghampiri Jessica dan Doni.
"Kak Jess, suami Naura menunggu, jadi maaf ya kak Jess, kak Doni.., Naura harus pulang duluan. Terima kasih sekali kak Jess. Demi Naura, kakak rela cancel semua schedull. Naura pulang dulu ya."
__ADS_1
Jessica memeluk sekali lagi adiknya, kemudian tanpa menyapa Firmansyah, dia langsung keluar dengan menggandeng Doni. Sepeninggalan Jessica, Naura menghampiri Firmansyah dan Edward, kemudian mereka langsung berjalan keluar. Merasa tidak nyaman dengan Naura dan Om-nya, Edward meminta mereka berdua menunggu di depan pintu lobby. Edward langsung menerobos kerumunan orang untuk mengambil mobil, dan tidak berapa lama kemudian Edward sudah membawa mobil ke depan mereka berdua.
**********************************************************
Raditya dan Pradipta sedang menyeleksi rekomendasi dari beberapa kampus yang merekomendasikan lulusan terbaiknya. Mereka berdua memang memiliki gaya kepemimpinan yang kompak, yaitu lebih memilih tenaga-tenaga muda sebagai timnya, daripada proses penempatan promosi karyawan yang sudah lanjut usia. Tiba-tiba muka Pradipta menjadi bersinar, karena dia kedapatan menyeleksi rekomendasi lulusan terbaik dari Sekolah Tinggi.
"Boss Ditya...., memang tak akan lari kemana kalau jodoh itu." kata Pradipta tiba-tiba.
"Eitts..., tunggu dulu. Aku sudah mendapatkan calon untuk menjadi sekretarisku, atau yah paling tidak akan kutempatkan menjadi divisiku."
"Terserah kamu, sekalian carikan aku Dipt. Pusing aku dari tadi membaca rekomendasi. Aku lapar, kita makan di luar atau nyuruh office boy cari makanan saja, atau delivery order?"
Ditya langsung pindah duduk di atas sofa, dan berbaring di atasnya. Pradipta hanya geleng-geleng melihat perilaku bosnya. Kemudian dia mengambil airphone dan menghubungi OB untuk mencarikan makan siang untuk mereka berdua.
Pradipta menyisihkan berkas orang-orang yang telah dia pilih untuk dilakukan sesi wawancara. Dari 25 berkas masuk, Pradipta mengambil 5 orang dan salah satu adalah berkas Naura. Sebenarnya Naura belum mengirimkan lamaran kemanapun, tetapi berkas tersebut dikirimkan oleh pihak kampus. Naura sebagai lulusan tercepat dan memiliki Ipk tertinggi, memang membawa kebanggaan bagi pihak kampus. Sehingga berkas Naura dikirimkan oleh Divisi Kemahasiswaan ke 5 perusahaan besar yang ada di kota itu, dan salah satunya adalah perusahaan dimana saat ini Aditya ditugaskan papanya untuk handle.
"Sudah Boss, kapan ada waktu untuk interview mereka. Aku sudah sisihkan ada 5 berkas hardfile dari kandidat terbaik dari masing-masing kampus."
"Halah sudah, kapanpun aku bisa. Kita belum banyak relasi atau kolega di kota ini. Hari Kamis depan saja, sepertinya hari itu kita belum ada schedull meeting kan?"
"Yah, aku akan hubungi Human resource department untuk memanggil 5 kandidiat untuk kita lakukan interview. Kamis ya, jam 10 pagi. Okay?"
__ADS_1
"Okay. Ada yang laki-laki tidak dari 5 orang itu? Aku ingin yang laki-laki saja, malas aku urusan sama perempuan, banyak ribetnya daripada kerjanya."
"Gayamu Bos, Bos..., makanya jangan suka tebar pesona sama perempuan. Giliran mereka serius, kamu sendiri yang kabur melarikan diri."
"Yah, maklumlah Dipt. resiko cowok tampan, banyak uang, jadi kemanapun banyak cewek uber-uber aku."
"Terserah apa bicaramu Boss. AKu tidak mendengarnya."
Pradipta akhirnya ikut duduk menyelonjorkan kakinya sambil menunggu makan siang mereka.
"Tok.., tok.., tok..," terdengar ketukan tiga kali di pintu ruangan.
"Dipt.., kamu manggil siapa? Aku baru malas berhubungan dengan orang-orang baru."
"Tenanglah boss, kalau mau tidur, lanjutkan saja tidurnya, Aku mau makan duluan, lapar."
Pradipta berdiri dan membukakan pintu. Terlihat seorang OB membawa nampan yang berisi makanan untuk makan siang mereka.
"Tuan berdua mau minum apa. Biar Jono buatkan."
"Kopi hitam panas saja, tapi pakai kopi di box itu ya, jangan pakai kopi sembarangan." sahut Pradipta.
"Baik Tuan, saya buatkan terlebih dahulu."
"Jon..., kopiku gulanya dipisah ya. Nanti di cawannya, saja diberi 1 sachet brown sugar." kata Ditya.
"Punyaku sama Jon."
"Baik Tuan."
Kedua laki-laki itu akhirnya diam karena sedang menikmati makan siang bersama. Setelah selesai membuatkan kopi untuk mereka, Jono segera meninggalkan ruangan.
__ADS_1
*******************************************