
Edward mengikuti mobil yang dikendarai Aditya, dia tidak mau kehilangan lacakannya itu. Dia berpikir, bahwa Naura tidak akan mau menghubunginya, jika bukan karena dia betul-betul membutuhkan pertolongan darinya. Hampir satu jam perjalanan, akhirnya mobil Aditya memasuki sebuah cluster mewah resident di area perbukitan. Begitu Aditya masuk ke gerbang salah satu rumah yang sangat besar, Edward mengikutinya, tetapi dia tiba-tiba dihentikan oleh security portal.
"Selamat siang, mau ke tempat siapa mas? Karena di komplek sini, plat mobil mas belum terdaftar." dengan sopan, satpam menanyakan maksud kedatangannya.
"Lho teman saya mas Aditya belum menyampaikan apa tadi. Paling dia lupa, saya temannya Aditya, dari satu perusahaan yang sama." Edward berusaha mencari alasan agar bisa diijinkan masuk ke dalam komplek.
Karena komplek tempat Aditya tinggal memang memiliki standar keamanan yang tinggi, jika ada tamu dnegan plat mobil baru maka harus memberi tahukan pada bagian keamanan.
"Owalah, temannya Tuan Aditya. Makanya kok persis di belakang Tuan, tadi pas masuk tidak cerita sih, kalau mengajak temannya pulang. Ya sudah pak, mari." akhirnya karena mobil Edward tepat berada di belakang Aditya, dia dibukakan pintu portal, dan diperbolehkan masuk oleh satpam.
"Terima kasih pak."
Akhirnya Edward langsung menjalankan mobilnya, dan untuk pintu gerbang rumah Aditya dibiarkan terbuka. Dia langsung memarkir mobilnya tepat di belakang mobil Aditya. Saat dia turun dari mobil, seorang penjaga rumah menghampirinya.
"Selamat siang, mau cari siapa mas?"
"Mau ketemu Aditya!"
"Oh Tuan Ditya, saya panggilkan dulu ya mas."
"Tidak perlu, saya langsung masuk sendiri saja. Kan tadi kami berangkat dari kantor bersamaan, Cuma tadi saya kecegat satpam portal, akhirnya setelah verifikasi ID terus diperbolehkan masuk."
"Oh gitu, ya sudah. Saya lanjutkan kerjaan saya, silakan masnya masuk sendiri ya."
Sesampainya di depan pintu masuk, Edward mengetuk pintu. Kemudian seorang ART perempuan menghamipirinya.
"Iya, mau ketemu siapa Tuan?"
"Mau ketemu dengan pemilik rumah ini, apakah bisa dipanggilkan?" Edward langsung mencari Aditya, karena dia merasa percuma jika langsung mencari Naura.
__ADS_1
"Silakan masuk dulu Tuan. Akan saya sampaikan pada Tuan Muda terlebih dahulu," ART itu menyilakannya untuk masuk ke dalam.
Edward sudah tidak mau berbasa-basi, dia kemudian masuk ke rumah itu. Dia mengagumi interior dan perabotan yang ada di dalam ruang tamu, tetapi mengingat jika pemiliknya ada putra konglomerat terkenal di negeri ini, dia memakluminya. Matanya mengelilingi ruangan utu, dan berusaha memindai kira-kira dimana Naura disekap, tetapi dia tidak menemukan jejak keberadaan gadis itu.
********************************
Sementara itu di dalam kamar, Aditya menghampiri Naura yang masih menangis di atas ranjang. Dia duduk di tepi ranjang, mengelus rambut Naura dari belakang. Dia tersenyum melihat gadis itu, yang menyelimuti dirinya dari ujung kaki sampai lehernya.
"Naura.., kamu sudah makan belum? Apakah masakan rumah ini tidak cocok dengan lidahmu, atau kita makan di luar saja sekarang?" dengan lembut Aditya bertanya pada Naura.
"Tatap mataku Naura. Tidak sopan, masa diajak bicara kok malah membelakangi lawan bicaranya. Ayo tatap aku Naura!" tangan Aditya mencoba membalikkan badan Naura agar menghadapnya. Naura tidak kuasa menolaknya, takut membuat laki-laki itu marah. Dengan lembut, jari Aditya menghapus air mata yang mengalir di pipi gadis itu.
"Naura, jangan takut padaku. Aku akan membahagiakanmu sayang, kamu akan menjadi pendampingku saat ini dan di masa depan. Tunggu aku sayang, aku akan melepaskan ikatan Firmansyah terhadapmu!"
Mendengar nama Firmansyah, Naura merasa sudah mengkhianati laki-laki itu. Meskipun dia tidak pernah memperlakukannya sebagai seorang istri yang sebenarnya, tetapi Firmansyah tidak pernah berlaku kurang ajar terhadap Naura. Air matanya semakin deras mengalir dari kelopak matanya.
"Bebaskan Naura pak Ditya. Naura ingin pulang!" kata Naura tiba-tiba sambil memegangi lengan Aditya.
"Kamu akan pulang kemana sayang, ini rumahmu. Semua yang ada di rumah ini adalah milikmu." dengan tersenyum Aditya memegang tangan Naura yang memegang erat lengan kirinya.
"Naura berdosa telah meninggalkan suami Naura sendiri pak. Tolong bebaskan Naura pak!"
"Berdosa??? Terus bagaimana dengan suamimu, apakah dia tidak berdosa terhadapmu, sehingga istrinya mencari kepuasan dengan laki-laki lain? Jawab Naura, dan pertanggung jawabkan perbuatanmu padaku!"
__ADS_1
"Sejak malam itu Naura, dan kamu meninggalkan aku di kamar hanya dengan secarik kertas, apakah kamu tidak mempertimbangkan perasaanku?" Aditya terus memberondong Naura dengan pertanyaan, gadis itu semakin menangis tersedu.
"Maafkan Naura pak. Naura sendiri juga tidak tahu, kenapa malam itu bisa menjadi tidur berdua dengan pak Ditya. Naura hanya dijebak pak. Maafkan Naura, lupakan Naura pak! Naura sudah ada yang punya."
Melihat gadis itu menangis tersedu, Ditya mengangkat kakinya kemudian ikut merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia memeluk erat tubuh Naura, dan Naura berjuang untuk melepaskannya. Tetapi tenaganya sangat kalah dengan tenaga laki-laki itu, akhirnya dia hanya diam dan menangis karena perlakuan Boss nya itu.
"Berhentilah menangis Naura, aku akan membebaskanmu dari neraka hidupmu. Orang-orangku sudah mengatur janji dengan Firmansyah, dan besok jam 10 pagi aku akan ketemu dengannya. Aku akan memintamu darinya dengan cara halus." bisik Aditya lembut di telinga Naura, dan membuat tubuh Naura merinding hebat.
Sesekali Aditya dengan penuh kasih mencium rambut Naura dari belakang, dan Naura yang tidak pernah disentuh oleh suaminya menikmati perlakuan Aditya dalam diam. Nafasnya menjadi sesak, dan dia tidak mampu menolak semua itu. Perlakuan lembut seorang laki-laki terhadap pasangannya telah membuainya sesaat. Melihat gadis dalam pelukannya terdiam, Aditya tersenyum smirk, kemudian dia membalikkan tubuh Naura untuk menghadapnya.
Naura memejamkan matanya karena takut melihat mata dan wajah Ditya, dia mengingat apa yang pernah mereka lakukan di hotel itu. Tangan Aditya dengan lembut mengusap lembut wajahnya, dan kemudian mengangkat dagunya dengan pelan. Dan saat Aditya akan menempelkan bibirnya ke bibir Naura, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar. Seketika Naura langsung menengokkan wajahnya, dan bibir Aditya menempel di pipi gadis itu.
"Shi*," Aditya mengumpat tetapi segera bangun dan membuka pintu kamar.
ART sangat ketakutan melihat wajah Tuan Mudanya yang tampak merah kehitaman karena menahan marah.
"Maaf Tuan, saya telah mengganggu aktivitas Tuan. Ada tamu yang sedang menunggu Tuan di ruang tamu."
"Siapa? Besok lagi kalau tamu itu tidak penting, tidak perlu sampai memanggilku. Apa gunanya aku menggaji kalian."
"Maafkan saya Tuan, besok lagi saya tidak akan berani mengganggu Tuan."
Aditya langsung menuju ruang tamu, dan melihat seorang laki-laki muda sedang duduk di kursi tamunya.
****************************************
__ADS_1