PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Pengejaran


__ADS_3

Naura membuka matanya, dan dengan kepala yang masih agak pusing dia merasa kebingungan. Perlahan dia mengingat posisi terakhir, dan langsung menegakkan kursi mobil. Dia menengok ke samping dan melihat Edward tersenyum melihatnya sudah bangun.


"Kamu sudah sadar Naura? Maafkan aku, tanpa ijinmu aku membawamu pergi!" kata Edward perlahan sambil tersenyum.


Mendengar perkataan Edward, Naura langsung tersadar.


"Edward.., akan kamu bawa kemana aku? Hentikan mobilnya Edward, jangan cari masalah kamu!" seru Naura. Dia tidak membayangkan sedang berurusan dengan siapa.


"Aku membebaskanmu Naura, sudah tolong kerjasamalah denganku. Kita sudah berada di Jakarta, nanti kita menginap dulu satu malam di sini. Temanku sudah mencarikan passport untukmu, besok kita ke Australia menemui orang tuaku."


"Ya Tuhan Edward, apa kamu tidak berpikir? Kamu itu melawan siapa, lagian aku masih ingin di Semarang. Ayo Edward, putar balik mobilnya!  Jangan cari masalah dengan Ditya,dia bisa bertindak kejam. Aku sudah bosan dengan konflik di sekitarku, aku ingin hidup tenang." kata Naura sambil mengguncang bahu Edward.


"Tolong hentikan Naura, apakah kamu ingin kita mengalami kecelakaan? Aku sedang mengemudi ini, jangan kamu guncang bahuku. Atau aku akan membiusmu lagi?" teriak Edward.


Naura langsung terdiam, dan air mata mengalir di pipinya. Melihatnya menangis, Edward segera berusaha menetralisir suasana kembali.


"Maaf Naura, bukan maksudku membentakmu! Sebentar lagi kita sampai di tujuan, kita istirahat di hotel saja. Karena aku yakin, Ditya atau Om Firmansyah sudah berada di apartemenku. Kembalilah istirahat!"


Kurang lebih 30 menit kemudian\, Edward memasuki tol arah bandara Soekarno Hatta\, dan memasuki halaman parkir Swis*-Belhot** Airport. Naura hanya diam\, memikirkan dirinya yang merasa lepas dari kandang singa. malah masuk ke kandang buaya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di depannya. Begitu turun dari mobil\, di lobby sudah ada dua orang laki-laki yang menunggu mereka. Dengan merangkulnya erat\, Edward membawa Naura menemui dua orang tersebut.


"Tuan Edward.., hotel sudah kami check-in. Ini untuk acces room nya. Kemudian petugas imigrasi nanti malam akan ke kamar hotel untuk mengambil gambar Nona Naura."


"Kemudian untuk flight ke Sydney besok, kita berdua pakai jet pribadi atau pesawat komersial?"


"Jet pribadi Tuan, jadwal  flight besok pukul 09.00 pagi. Kami sudah tugaskan orang untuk mengawasi keamanan di hotel ini! Tetapi Tuan berdua take off dari bandara Halim Perdanakusuma, jadi pagi jam 07.00 kita sudah stay disini, untuk menjemput Tuan."


"Okay, ini kunci mobilku! Untuk sementara jangan bawa mobil ke apartemen atau rumah mama yang disini. Setelah kalian memastikan aku terbang, baru kalian antarkan mobil ke rumah. Karena aku yakin, Om Firman sudah mengirim orang-orangnya untuk mengawasi rumah mama atau apartemenku!"


"Siap Tuan! Untuk lunch sekarang, sudah kami orderkan Silakan Tuan dan Nona ke kamar, sebentar lagi kita antarkan ke kamar! Kami permisi dulu."


Edward langsung menarik Naura ke lift, dan sampai di lantai 5 mereka keluar. Kemudian di kamar 501, Edward scanning acces room.


"Masuklah Naura, kita istirahat dulu!"


Karena malas ribut, Naura mengikuti Edward masuk ke dalam kamar. Sebuah kamar yang dilengkapi dengan sofa ruang tamu di dalamnya. Tanpa bicara, Naura langsung duduk di atas sofa. Sedangkan Edward mencuci tangan dan muka, kemudian merebahkan badannya di atas ranjang.


 


 

__ADS_1


**********************************


 


"Dipt..., kita langsung menuju apartemen Edward!" perintah Ditya saat mereka sampai di bandara Halim Perdanakusuma.


"Jika mereka tidak ada disana, alternatif lain kita cari dimana mereka?"


"Tadi Firmansyah bilang, mereka ada rumah keluarga di Pondok Indah. Kita menuju sana, meskipun laporan dari orang-orang kita disini tidak ada mobil dengan plat H 1 FH yang memasuki halaman parkir. Tapi siapa tahu mereka meninggalkan mobil di jalan."


Pradipta diam, kemudian menghubungi orang via telpon, untuk menjemput mereka di pintu kedatangan.


"Lewat sini Dity, orang kita sudah menjemput di depan restoran cepat saji."


Setelah keluar, mereka melihat ada mobil yang sudah terbuka menjemput mereka. Dengan cepat mereka masuk ke dalam mobil.


"Langsung ke City Loft." seru Dipta pada driver.*


"Okay, tetapi orang kita melaporkan bahwa kamera CCTV milik Dinas Perhubungan, menangkap pergerakan mobil Rubicon plat H 1 FH pada jam 11-an memasuki arah Bandara Soetta Boss."


"Bagaimana Dity? Tetap ke apartemen atau kita susur Bandara Soetta?"


Tiba-tiba ponsel Ditya berbunyi, dan melihat mamanya sedang melakukan panggilan.


"Ya ma?" kata DItya yang tampak ogah menerima panggilan tersebut.


"Kamu sudah sampai Jakarta ya, cepat pulang ke rumah! Ada yang akan mama bicarakan sama kamu!"


"Maaf ma, Ditya pulang ke Jakarta ada urusan penting. Ditya tidak bisa mampir ke rumah."


"Kamu bicara apa? Apakah kamu mau memancing kemarahan papamu? Papamu dapat informasi, katanya kamu mengambil orang-orangnya untuk menemukan seseorang. Pulanglah Dity, jelaskan pada kami!"


"Jika urusan Ditya sudah beres, nanti Ditya yang akan menyampaikan sendiri pada papa. Saat ini. mohon maaf ma, Ditya sedang ada urusan penting." Ditya langsung mematikan ponselnya, dan membantingnya ke atas kursi mobil.


Tidak berapa lama, ponsel Pradipta berdering, dan terlihat mama DItya melakukan panggilan padanya. Pradipta mengangkat ponselnya, dan menunjukkan screen pada Ditya.


"Sudah matikan ponselmu sekalian, tidak perlu diangkat!"


"Jika dimatikan, bagaimana kita akan koordinasi dengan orang-orang. Aku juga tidak enak jika mengabaikan panggilan dari Tante."

__ADS_1


"Terserah kamu saja Dipt, tapi jangan kasih peluang atau janji pada mama, jika aku akan pulang malam ini!" selesai berkata, dia memejamkan matanya.


Pradipta kemudian menerima panggilan tersebut.


"Iya, ada apa Tante? Tante sehat?"


"Kamu sedang bersama Ditya tidak Dipt? Itu anak, mamanya telpon malah dimatikan."


"Iya Tante, tapi mohon maaf kami sedang di mobil. Dan kami sedang menuju ke suatu lokasi acara, jadi memang kita lagi butuh fokus dan konsentrasi Tante."


"Tante bicara sebentar saja sama Ditya pakai ponselmu bagaimana?"


"Tunggu sebentar ya Tant, saya sampaikan ke Ditya dulu!" Dipta memberikan ponsel ke Ditya, tetapi oleh Ditya malah panggilannya dimatikan.


Melihat panggilan dari mamanya DItya dimatikan, Pradipta melotot tetapi ponsel tetap dibawa sama Ditya.


'Aku yang sortir, panggilan siapa yang perlu kamu angkat, dan mana yang harus kamu abaikan." ucapan Ditya, menjadikan Pradipta mengalah.


"Lah, terserah kamulah Dity. Jika Tante atau Om marah, jangan pernah mengalihkannya padaku!"


Akhirnya mereka terdiam, dan kedua pengawal yang duduk di kursi depan, tidak berani memancing emosi mereka. Tetapi tiba-tiba driver melihat kerumunan orang di depan.


"Aduh Tuan Ditya, mohon maaf. Ternyata kita harus ambil arah lain, jalan ke arah Sudirman ternyata ditutup Tuan. Sepertinya ada demo di depan!"


"Ya sudah, cari jalan putar balik! Jika di depan ada demo, aku yakin Edward juga tidak akan memasuki daerah tersebut. Kita ke bandara saja, nanti kita tanya orang-orangku disana!"


"Baik Tuan!"


 


*************************************


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2